Ramadhan: Saatnya Install Ibadah, Delete Dosa

Reporter : -
Ramadhan: Saatnya Install Ibadah, Delete Dosa
Alumni Pondok Pesantren Al-Hidayah Bangkalan, Wakil Ketua LPNU Jawa Timur, dan kini juga turut membina Pondok Pesantren Ribath Tahfidz Al-Qur’an Al Fauzi Tolbuk Bangkalan

Oleh: Machsus

JatimUPdate.id - “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183)

Baca Juga: Langkah Putih di Pagi Dadapan, Ratusan Siswa SD Plus Al Ishlah Tebar Kurma Sambut Ramadan 1447 H

Ramadhan selalu datang dengan atmosfer yang berbeda. Masjid lebih hidup, tilawah lebih terdengar, dan percakapan tentang pahala terasa lebih dekat di ruang-ruang keluarga maupun perkantoran. Namun pertanyaannya tetap sama dari tahun ke tahun: apakah Ramadhan hanya mengubah jadwal makan kita, atau benar-benar mengubah sistem hidup kita?

Bagi penulis yang lama bergelut di dunia transportasi, hidup selalu menarik jika dibaca sebagai sebuah sistem transportasi. Kemacetan tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal, melainkan hasil dari kombinasi infrastruktur yang kurang memadai, perilaku pengguna jalan yang abai, dan manajemen arus yang tidak tertata. Begitu pula hidup kita, selama sebelas bulan, arusnya kerap semrawut, ambisi saling salip, ego berebut lajur, dan emosi sesekali menerobos batas.

Lalu datanglah Ramadhan sebagai fase penataan ulang. Ramadhan seperti traffic management tahunan yang dirancang untuk mengatur arus, memasang rambu, sekaligus menguji disiplin. Dalam bahasa teknologi, Ramadhan bisa disebut sebagai momentum major upgrade yang menuntut dua pekerjaan besar yakni install ibadah dan delete dosa.

Install Ibadah
Tidak ada sistem transportasi yang baik tanpa infrastruktur yang kokoh dan terawat. Jalan harus kuat, drainase harus lancar, dan simpang harus dikelola dengan presisi agar tidak menimbulkan kemacetan baru. Dalam kehidupan spiritual, infrastruktur itu bernama ibadah yang dibangun secara sadar dan konsisten.

Puasa menjadi fondasi utama yang menopang keseluruhan bangunan ruhani. Tarawih memperkuat struktur kedisiplinan, sementara tadarus Al-Qur’an melapisi hati agar tidak retak oleh tekanan dunia. Sedekah pun berfungsi laksana overpass empati yang membantu mengurai kemacetan sosial di tengah kesenjangan.

Realitas itu seharusnya tidak bersifat insidental atau sekadar mengikuti arus suasana. Rasulullah menegaskan bahwa puasa yang bernilai penuh adalah yang dilakukan dengan iman dan ihtisab, yakni kesadaran dan kesungguhan. Artinya, Ramadhan perlu dirancang seolah sebuah proyek besar, lengkap dengan target, tahapan, dan evaluasi.

Kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri. Berapa juz yang ingin dituntaskan, seberapa konsisten qiyamullail dijaga, dan apakah kualitas shalat berjamaah meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya? Tanpa desain yang jelas, semangat biasanya hanya padat di pekan pertama lalu menurun seperti arus kendaraan setelah musim mudik usai.

Delete Dosa
Namun membangun sistem transportasi saja tidak cukup tanpa membersihkan titik rawan yang berpotensi merusaknya. Dalam rekayasa lalu lintas, dikenal istilah black spot, yaitu lokasi yang sering menjadi titik kecelakaan. Dalam kehidupan, black spot itu bernama dosa yang dibiarkan berulang tanpa koreksi.

Baca Juga: Jam Masuk Sekolah Saat Ramadan di Bondowoso Dipastikan Berubah, Disdik Tunggu Edaran Pusat

Dalam konteks ini, ghibah adalah tabrakan verbal yang melukai tanpa disadari. Dusta merupakan manipulasi arah yang mengacaukan kepercayaan, sementara amarah berlebihan ibarat over speed yang mengancam keselamatan relasi. Bahkan malas bekerja atau bekerja asal-asalan dapat disebut sebagai penurunan kapasitas sistem yang merugikan banyak pihak, ibarat kendaraan ODOL (Over Dimension and Over Loading) yang berjalan merambat.

Ironisnya, kadang kita rajin beribadah secara ritual namun abai pada aspek moral. Tarawih tertib, tilawah lancar, tetapi kejujuran masih dinegosiasikan dan integritas belum sepenuhnya ditegakkan. Di sinilah puasa berperan sebagai internal control system paling canggih yang pernah dimiliki manusia.

Puasa tidak membutuhkan kamera pengawas atau auditor eksternal seperti BPK dan KPK. Jika makan dan minum yang halal saja mampu kita tahan demi Allah, seharusnya kebohongan dan kecurangan yang jelas haram lebih mudah untuk ditinggalkan. Standar takwa sejatinya bukan hanya pada kuantitas ibadah, tetapi pada berkurangnya pelanggaran moral.

Ritual Transformatif
Sering kali Idul Fitri dirayakan seperti peresmian proyek besar yang penuh simbol dan seremoni. Takbir menggema, pakaian baru dikenakan, ucapan lebaran dan saling bermaaf-maafan dipertukarkan dengan penuh haru. Namun kualitas sebuah proyek tidak diukur saat peresmian, melainkan pada daya tahannya setelah digunakan.

Begitu pula Ramadhan. Ujian sesungguhnya justru dimulai setelah bulan suci berlalu. Apakah shalat malam tetap hidup di hari-hari biasa, dan apakah lisan lebih santun dalam pergaulan sehari-hari? Apakah kita bekerja lebih jujur, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab dibanding sebelum Ramadhan?

Baca Juga: Pemkab Sidoarjo Siapkan Gerakan Pangan Murah, Tekan Kenaikan Harga Jelang Ramadan

Taqwa tidak berhenti di sajadah atau di masjid. Taqwa menjelma dalam tata kelola kehidupan, baik dalam kepemimpinan, pekerjaan, maupun relasi sosial. Sebagus apa pun desain sistem transportasi, jika penggunanya tidak disiplin, kemacetan tetap akan terjadi. Demikian pula ibadah yang melimpah tidak akan berdampak jika perilaku tidak berubah.

Momentum Perubahan
Allah menegaskan dalam QS. ar-Ra’d: 11 bahwa perubahan suatu kaum bergantung pada perubahan diri mereka sendiri. Ayat ini memberi pesan bahwa transformasi sosial selalu berakar pada transformasi personal. Ramadhan menjadi momentum paling strategis untuk memulai perubahan itu secara terencana dan terukur.

Namun perubahan tidak pernah terjadi secara otomatis. Perubahan memerlukan niat yang kokoh serta eksekusi yang konsisten, sebagaimana proyek infrastruktur sipil yang membutuhkan jadwal dan pengendalian mutu. Dalam konteks Ramadhan, kita pun perlu menyusun rencana ibadah sekaligus mengidentifikasi kebiasaan buruk yang harus dihentikan.

Lantaran pada akhirnya, Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari yang halal di siang hari. Berpuasa adalah latihan keberanian untuk meninggalkan yang haram sepanjang hayat. Jika dua proses itu berjalan seiring, yakni install ibadah dan delete dosa, maka yang berubah bukan hanya kalender, melainkan kualitas diri kita sebagai hamba dan sebagai manusia. Marhaban ya Ramadhan!!!

Editor : Redaksi