Tirakat di Tengah Riuh
Oleh: Hijrah Saputra
Pengamat Sosial
Bondowoso, JatimUPdate.id - Pagi sering dimulai dengan layar yang menyala. Kita merasa baik-baik saja. Namun beberapa menit kemudian, hati seperti sedikit berubah. Ada berita. Ada komentar. Ada kegaduhan kecil yang pelan-pelan ikut masuk ke dalam diri.
Riuh zaman ternyata tidak selalu berbunyi keras. Ia kadang hanya berupa kegelisahan yang tipis. Takut tertinggal. Takut salah posisi. Takut dianggap tidak peduli.
Di tengah suasana seperti itu, terngiang suara KH. Maimun Zubair (1928–2019), yang akrab dipanggil Mbah Moen. Dengan nada ringan beliau pernah berkata:
“Kalau tidak kuat puasa, ya tidak usah. Kalau tidak kuat tahajud, ya tidak usah. Kalau tidak mampu bersodaqoh karena tidak punya uang, ya tidak usah. Kalau tidak pintar membaca Al-Qur’an, ya tidak usah tirakat membaca Al-Qur’an.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan longgar. Namun mungkin justru di situlah kedalamannya. Jalan batin tidak pernah dipaksakan. Yang utama bukan banyaknya laku, melainkan kejujuran dalam menjalaninya.
Dalam dunia jurnalis ada ungkapan lama: berita bukan ketika anjing menggigit orang, melainkan ketika orang menggigit anjing. Yang ganjil lebih cepat mendapat perhatian. Yang keras lebih mudah menjadi pembicaraan. Perlahan kita terbiasa pada sensasi.
Tanpa sadar, kita ikut bergerak lebih cepat daripada yang seharusnya.
Pada 1995, Daniel Goleman menerbitkan Emotional Intelligence dan menulis, “In a very real sense we have two minds, one that thinks and one that feels,” dan mungkin keberhasilan lebih sering ditentukan oleh kemampuan menenangkan diri sendiri, agar perasaan tidak mendahului pikiran.
Di situlah mungkin tirakat menemukan maknanya hari ini. Bukan sekadar mengurangi makan atau tidur. Melainkan menghadirkan jeda.
Menunda satu komentar. Memeriksa satu informasi. Melepaskan satu dorongan untuk selalu terlihat benar. Itu bisa menjadi suluk.
Suluk bukan pelarian dari dunia. Ia adalah perjalanan di tengah dunia—tetap hadir, tetapi dengan kesadaran yang dijaga.
Dalam pemikiran administrasi negara, sejak esainya pada 1887, Woodrow Wilson menekankan pentingnya keteraturan agar kehidupan bersama tidak kacau. Namun pada 1948, Dwight D. Waldo melalui The Administrative State mengingatkan bahwa di balik sistem selalu ada dimensi moral manusia. Aturan dapat disusun rapi, tetapi kejernihan batin tetap menentukan arah keputusan.
Barangkali tirakat hari ini bukan tentang terlihat saleh. Ia lebih dekat dengan upaya menjaga diri agar tetap utuh.
Sunyi memang tidak memberi tepuk tangan. Ia tidak viral. Ia tidak ramai dibicarakan. Namun dalam sunyi itulah seseorang belajar mengenali kembali langkahnya.
Dan mungkin, di tengah zaman yang gemar menilai, suluk bukanlah cara menjauh. Ia adalah cara pulang—pelan, tetapi sadar.
Wallahu A'lam bish showab
Editor : Redaksi