Dungu Buatan
Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Dalam bentang sejarah bangsa, kebenaran dan kebaikan sosial sering kali dipandang sebagai nilai yang relatif,; tumbuh dari rahim norma lokal dan kesepakatan bersama.
Namun, hari ini kita menyaksikan sebuah anomali! Kebenaran tidak lagi lahir dari konsensus luhur, melainkan diproduksi oleh apa yang disebut oleh Michel Foucault sebagai Regime of Truth (Rezim Kebenaran).
Ditangan kekuasaan yang rakus, kebenaran bukan lagi tentang apa yang faktual, melainkan tentang apa yang fungsional bagi kelanggengan dominasi.
Ketidaktahuan (lebih cocok dibaca kedunguan) masyarakat modern saat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil rancangan. Dalam studi Agnotology, kita memahami bahwa kekuasaan sering kali secara sengaja memproduksi kebingungan dan ketidaktahuan kolektif.
Kedunguan dan kebebalan tidak lagi tampil polos culun; tetapi kini bersolek dengan kemasan intelektual yang memukau, dibungkus narasi diplomasi yang seolah-olah rasional dan heroik (sambil gebrak meja podium).
Fenomena ini membawa kita pada apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulakra (post truth). Kita hidup dalam realitas buatan di mana citra tentang kemajuan lebih dipuja ketimbang kemajuan itu sendiri.
Kebijakan yang mencederai rakyat seringkali dipoles dengan statistik yang menyesatkan serta jargon teknokratis, untuk menciptakan ilusi bahwa segala ketidakadilan adalah konsekuensi logis dari modernitas.
Rakyat dipaksa ikhlas dan sabar karena rezim kekuasaan sedang berupaya keras untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan melalui program-program kerakyatan yang heroik walau boncos anggaran.
Kekuasaan yang korup memelihara kepatuhan dengan cara menarik rakyat ke dalam pragmatisme material. Guy Debord dalam The Society of the Spectacle (masyarakat tontonan) berargumen bahwa dalam tahap kapitalisme lanjut, hubungan antarmanusia dimediasi oleh citra dan konsumsi. Ketika rakyat ditarik ke ranah politik transaksional dengan kompensasi uang, terjadilah de-politisasi massal menuju demokratisasi dungu.
Uang bukan lagi sekedar alat tukar, melainkan instrumen untuk mengamputasi daya kritis. Di sinilah Sinisme Kynis (sebagaimana dijelaskan Peter Sloterdijk) bekerja. Masyarakat sadar bahwa sistem ini munafik, namun mereka memilih untuk tetap terlibat di dalamnya demi kelangsungan hidup jangka pendek. Inilah titik di mana kemunafikan menjadi oksigen dalam ruang publik kita.
Namun, sejarah memiliki hukum dialektikanya sendiri. Sebuah sistem yang dibangun diatas tumpukan anomali dan kepalsuan pada akhirnya akan mencapai titik jenuh.
Thomas Kuhn dalam teori pergeseran paradigma mengingatkan bahwa sebuah tatanan akan runtuh ketika ia tidak lagi mampu menampung krisis yang diciptakannya sendiri.
Patahan radikal (radical break) sering kali hadir tanpa permisi. Ia bisa berupa peristiwa alam yang menelanjangi rapuhnya infrastruktur moral kita, atau peristiwa sosial tragis yang merobek topeng-topeng diplomasi.
Dititik itu, segala narasi intelektual yang palsu akan luruh, menyisakan realitas telanjang yang menuntut pertanggungjawaban.
Krisis, betapapun pahitnya, sering kali menjadi satu-satunya cara bagi kebenaran untuk merebut kembali panggungnya.
Sebagai catatan penutup, ulasan ini dimaksudkan sebagai sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dari kegilaan narasi yang menyesatkan. Menghadapi kerakusan yang terstruktur, senjata utama kita bukanlah kebencian, melainkan keberanian untuk tetap waras dan jujur.
Sebelum "patahan radikal" datang dengan cara yang menyakitkan, ada baiknya kita mulai meruntuhkan tembok-tembok ilusi dipikiran kita masing-masing.
Sebab, kekuasaan mungkin bisa memanipulasi persepsi, tetapi tidak akan pernah bisa menaklukkan hukum alam. Kebenaran, meski sering kali tertutup oleh selimut kemunafikan yang tebal, selalu memiliki cara untuk menemukan celah dan menyinari kembali nurani bangsa. (*)
Editor : Redaksi