IDR nilai positif sikap terbuka Presiden Prabowo 

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Fathorrahman Fadli. 
Fathorrahman Fadli. 

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Langkah  Presiden Prabowo Subianto mengajak para tokoh bangsa untuk berdialog,  dinilai sangat positif bagi upaya mencari jalan terbaik guna menyelesai berbagai problema yang sedang dihadapi angsa Indonesia. 

Penilaian itu disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Development Research (IDR) Fathorrahman Fadli dalam keterangan persnya kepada wartawan di Jakarta Jumat petang (6/03/2026).

"Sikap terbuka Presiden Prabowo itu snagat positif bagi kebaikan bangsa, Presiden harus semakin terbuka merrima masukan dan kritik dari para tokoh bangsa, saya kira itu pertanda baik bagi kita semua," kata Fathorrahman Fadli. 

Ia menjelaskan, Prabowo sebenarnya adalah sosok yang terbuka dalam menerima masukan. Namun sikap terbuka itu mesti diterjemahkan secara kreatif oleh para pembantunya.

Model keterbukaan itu, lanjut Fathorrahman Fadli, tidak boleh berhenti sebagai bentuk ceremonial belaka. Namun mesti menjadi pola yang rutin dan mekanis dalam menerima masukan. 

"Para tokoh itu memiliki pengalaman dan pandangan yang mumpuni dalam membantu menyelesaikan masalah bangsa kita. Saya yakin mereka bersedia memberi masukan demi perbaikan bangsa," tegas pria yang akrab disapa Mr.Ong itu.

Fathorrahman menjelaskan, sikap terbuka Presiden Prabowo itu sebenarnya sudah nampak saat Prabowo memanggil dan mengajak dialog tokoh-tokoh kritis seperti Abraham Samad, Siti Zuhro, Said Didu, Susno Duaji dan Hersubeno Arif yang selama ini banyak mengkritisi kebijakan pemerintah. 

Pola dialog dengan para tokoh bangsa itu tidak saja bermanfaat dalam meringankan veban Prabowo selaku presiden, namun juga dapat meringankan  beban masalah yang diderita bangsa kita. 

Dialog terbuka dengan para tokoh bangsa itu akan memberi andil dalam membuyarkan anggapan bahwa Prabowo adalah sosok yang otoriter.

"Sejauh ini, hemat saya, beliau  tidak mendapat nasihat politik yang baik dan memadai, sehingga citra negatif kemudian muncul begitu rupa yang jika tidak segera diatasi akan menggerus legitimasinya sebagai Presiden," jelas peneliti senior Institut Peradaban itu. (red)