"Sosok" Ras Terkuat
Oleh: Hijrah Saputra
Pengamat Sosial, alumni UIN Sunan Ampel, Alumni Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Kalau bicara tentang istri ditakuti suami, itu biasa. Tetapi bagaimana jika yang membuat orang sedikit waswas justru lampu sein [tanda] di jalan raya? Cerita seperti ini sering lewat di media sosial.
Namun pagi itu saya melihatnya sendiri—bukan di jalan, melainkan dalam sebuah sosialisasi tertib lalu lintas.
Pagi itu, undangan telah meluncur di grup media sosial. Himbauan untuk hadir tepat waktu. Puasa terasa membuat waktu lebih pendek.
Mungkin karena ada tambahan waktu istirahat—tidur pun dianggap ibadah. Perkumpulan wanita itu kompak dengan seragam. Deretan kursi yang semula luang berangsur penuh.
Menunggu yang lain tiba, istighotsah diawalkan. Dingin dari mesin pendingin perlahan sampai ke hati. Lampu aula bersinar terang.
Obrolan kecil berbisik.“Polisinya belum datang,” kata temannya dengan nada lirih.
Saya baru “ngeh” [paham] kalau hari itu acaranya sosialisasi tertib berkendara. Saya bertanya dalam hati lirih, kenapa harus dibisikkan?
Mungkin trauma itu masih membekas. Setiap perilaku nakal kala kecil, selalu ada teguran: “Kalau nakal terus, Ibuk panggilkan polisi lho..” Kendati jimat itu sangat mumpuni, kegunaannya tidak pernah serius. Demi anak, cinta orangtua selalu lebih besar dari segalanya.
Usai dzikir qolbu, kegiatan dilanjutkan. Pemateri yang ditunggu datang. Ia berseragam coklat lengkap. Temannya demikian. Di pundak terpasang pangkat. Bertopi putih.
Perempuan itu rupanya datang tidak hanya bertiga. Temannya di belakang mengikuti. Postur pria itu berbadan besar, sepatu tinggi putih, kumis tebal, sedikit tersenyum. Hari itu suasana agak hening bercampur. Dingin mesin pendingin terasa sampai mengilukan tulang.
Seorang polwan berhijab berdiri memegang mikrofon wireless. Suaranya seolah tidak asing. Bila di perempatan jalan lampu merah, ada suara yang keluar dari toa kecil.
Nada bicaranya itu mudah ditebak. Suaranya tegas dan renyah. Ia membuka salam, lalu berbicara tentang materi di layar. Kalimat-kalimat pendek sering diutarakan membuat peserta makin terfokus dan hening.
Pertanyaan kemudian meluncur. “Di sini siapa yang datang membawa kendaraan?”
Separuh lebih yang hadir angkat tangan. Dilanjutkan kembali ditanya, “Siapa yang sudah punya SIM?”
Puasa membuat orang jujur. Dari separuh lebih yang sebelumnya angkat tangan, beberapa kembali mengangkatnya. Spontan pemateri tersenyum, lalu berkata ringan, “Memang inilah ras [kategori] terkuat di dunia.”
Peserta yang tegang kali pertama tersenyum lebar, walau bibirnya kembali merapat. Pagi itu polisi tidak menilang, tetapi mengetuk dari hati ke hati.
Momen kecil seperti itu kadang menyimpan pelajaran sosial yang menarik. Émile Durkheim (1893) sejak lama menjelaskan bahwa manusia hidup di antara dua dorongan: kesadaran individu dan kesadaran sosial.
Pada saat-saat tertentu—terutama dalam suasana religius seperti Ramadan—kesadaran sosial terasa lebih kuat. Orang merasa tidak enak hati untuk menutup-nutupi sesuatu, apalagi yang bertanya seorang polisi di depan ruangan.
Namun kesadaran saja tidak selalu cukup. Dalam kajian sosiologi modern, Talcott Parsons (1951) mengingatkan pentingnya social order—keteraturan sosial yang membuat kehidupan bersama dapat berjalan dengan baik.
Dalam konteks lalu lintas, aturan berkendara tidak hanya administrasi saja, tetapi bagian dari menjaga keteraturan hidup bersama di jalan raya.
Di bagian itu, polwan berseloroh. Seringkali ras terkuat ini memilih menyeberang memberi tanda lampu. Tapi lampu itu kebanyakan mengecoh pengendara. Lampu sein kanan dinyalakan, justru belok ke kiri. Begitu sebaliknya. Rupanya keselamatan dapur lebih diutamakan.
Tak pelak mereka tertawa lepas. Suasana ger-ger hidup. Dinginnya ruangan perlahan menghangat.
Ras terkuat itu juga kerap disebut The Power of Emak-emak. Pilihan "sosok"—istilah orang kampung untuk menyebut uang kembalian dari belanja—tidak pernah luput dari perhatian.
Artinya, tidak ada kata ampun bagi penjual. Hehehe. Kalau tidak ada sosok, bumbu seharga lima ratus rupiah pun jadi. Haah..?!?
Di tengah tawa itu, ada satu pelajaran kecil yang terasa pas dengan suasana Ramadan: kejujuran.
Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan dengan kalimat sederhana namun dalam: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).
Argumentasinya, puasa rupanya adalah rasa menahan lapar, tapi lebih dari itu: juga latihan menata kejujuran dalam hal-hal kecil. Nah lhoh…!
Kesibukan emak-emak memang tidak dapat tergantikan. Bila sudah di dapur, terasa lelah lewat begitu saja. "Ceg-oceg batoh" di tangan, "cobek" di bawah. Apa pun bumbu yang keras bisa menjadi lembut. Hemmmm...
Mungkin karena itu, ras terkuat ini tidak hanya tangguh di jalan raya. Di dapur-dapur sederhana itulah mereka juga meracik rasa—rasa yang pelan-pelan menyedapkan kehidupan.
Wallahu a'lam bish showab.
Editor : Redaksi