catatan ramadhan wiedmust-17ramadhan
Ramadhan Setengah Jalan, Yang Puasa Perut atau Iman?
Oleh widodo, p.hd
pengamat keruwetan sosial
Surabaya, JatimUPdate.id -
Ramadhan sudah lewat setengah bulan.
Separuh perjalanan sudah dilalui.
Kalau ini lomba lari, sebagian orang sudah mulai mengatur napas.
Sebagian lagi… masih sibuk selfie di garis start.
Di awal Ramadhan suasana selalu dramatis. Masjid penuh seperti konser reuni band legendaris. Saf tarawih sampai ke halaman. Sandal menumpuk seperti obral di pasar malam.
Semua tampak saleh.
Semua tampak khusyuk.
Yang biasanya susah bangun subuh tiba-tiba bisa bangun jam tiga pagi. Yang biasanya tidak pernah ke masjid mendadak hafal jadwal imam.
Ramadhan memang bulan penuh mukjizat kecil.
Tapi mukjizat itu biasanya hanya bertahan sepuluh hari.
Masuk pertengahan bulan, mulai terlihat realitas. Saf tarawih yang tadinya sampai luar pagar sekarang maju beberapa meter. Imam mulai bisa melihat karpet kosong di belakang.
Yang dulu datang sebelum iqamah, sekarang datang ketika witir sudah rakaat kedua.
Yang dulu membawa Al-Qur’an, sekarang membawa ponsel.
Awalnya untuk membaca ayat.
Lalu pindah ke WhatsApp.
Kemudian ke Instagram.
Ramadhan berubah pelan-pelan: dari bulan ibadah menjadi bulan notifikasi.
Padahal puasa itu latihan menahan diri.
Bukan hanya menahan makan, tapi juga menahan nafsu.
Nafsu marah.
Nafsu pamer.
Nafsu merasa paling benar.
Namun setiap Ramadhan kita justru menyaksikan fenomena yang sama: orang bisa menahan lapar 14 jam, tapi tidak bisa menahan komentar 14 detik di media sosial.
Sedikit perbedaan pendapat, langsung perang dalil.
Sedikit kesalahan orang lain, langsung jadi hakim agama.
Pepatah lama mengatakan:
“Air tenang menghanyutkan.”
Pepatah Ramadhan kadang berubah menjadi:
“Status panjang menggurui, amal pendek sekali.”
Belum lagi soal buka puasa.
Ramadhan sering dimulai dengan niat sederhana: hidup lebih sederhana. Tapi menjelang magrib meja makan kadang terlihat seperti rapat koordinasi katering nasional.
Kolak ada.
Gorengan lima jenis.
Kurma tiga varian.
Teh manis satu teko.
Padahal sepanjang hari kita baru saja belajar satu pelajaran penting: cukup itu nikmat.
Yang paling menarik sebenarnya terjadi menjelang akhir Ramadhan.
Di awal bulan orang berburu pahala.
Di akhir bulan orang berburu diskon.
Mall penuh. Marketplace sibuk. Keranjang belanja lebih aktif daripada sajadah.
Seolah-olah Idul Fitri adalah lomba siapa yang paling baru bajunya.
Pepatah lama berkata:
“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.”
Pepatah Ramadhan versi modern mungkin lebih jujur:
“Sedikit diskon, lama-lama satu keranjang.”
Ramadhan memang tidak pernah berubah.
Yang berubah hanya manusia yang menjalaninya.
Puasa tetap mengajarkan kesederhanaan.
Tapi manusia sering mengubahnya menjadi festival konsumsi.
Puasa tetap melatih kerendahan hati.
Tapi manusia sering menjadikannya panggung kesalehan.
Sekarang Ramadhan sudah setengah jalan.
Pertanyaannya sederhana saja:
yang kita jalani selama dua minggu ini puasa…
atau hanya menunda makan siang?
Karena pada akhirnya Ramadhan bukan soal siapa yang paling keras menahan lapar.
Tapi siapa yang paling berhasil mengalahkan dirinya sendiri.
Dan kalau melihat kebiasaan kita setiap tahun, ada satu pepatah yang mungkin paling cocok untuk menggambarkan situasi ini:
“Berpuasa di siang hari,
berburu diskon di malam hari.”
Sah saja tentu.
Asal jangan sampai Ramadhan berlalu, dan yang berubah hanya model baju lebaran bukan isi kepala dan hati.
Editor : Redaksi