Sholat Ied 1447 H di Ponpes Al-Ishlah Bondowoso

Ponpes Al-Ishlah Bondowoso gelar Sholat Iedul Fitri 20 Maret, KH Thoha Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Pimpinan Ponpes Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, Lc.
Pimpinan Ponpes Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, Lc.

Bondowoso, JatimUPdate.id – Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso akan menggelar Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026.

Pelaksanaan ibadah dimulai pukul 05.45 WIB di Lapangan Ponpes Al-Ishlah dan terbuka untuk umum.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum kebersamaan bagi masyarakat untuk merayakan hari kemenangan dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan.

Pimpinan Ponpes Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, Lc., menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momen penting untuk kembali kepada fitrah, yakni kesucian hati dan jiwa setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Iedul Fitri adalah momen kembali kepada fitrah, kesucian hati dan jiwa. Disebut hari kemenangan karena kita mampu melawan hawa nafsu,” ujar KH Thoha.

Ia mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai sarana meningkatkan iman dan takwa, mempererat silaturahmi, serta saling memaafkan lahir dan batin.

“Iedul Fitri ini adalah momentum untuk meningkatkan iman dan takwa, saling memaafkan, serta mempererat tali silaturahmi,” imbuhnya.

KH Thoha juga menjelaskan bahwa penetapan Idul Fitri 1447 H di Ponpes Al-Ishlah didasarkan pada dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi, serta metode rukyatul hilal yang dipadukan dengan acuan kalender Ummul Qura Arab Saudi.

Menurutnya, metode tersebut dinilai konsisten dalam memantau posisi hilal, sebagaimana juga digunakan dalam penentuan awal Ramadan.

“Penentuan 1 Syawal kami menggunakan rukyatul hilal sebagai patokan, dengan mempertimbangkan kalender Ummul Qura yang selama ini dinilai tepat dalam pemantauan hilal,” jelasnya.

Ia mengutip firman Allah SWT, “Barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa” (QS Al-Baqarah: 185).

Ia juga merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat Islam untuk memulai dan mengakhiri puasa berdasarkan terlihatnya hilal, atau menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari apabila hilal tidak terlihat.

“Prinsip inilah yang kami jadikan dasar dalam penentuan awal Syawal,” tegasnya.

Lebih lanjut, KH Thoha menyoroti potensi perbedaan dalam penentuan awal Syawal yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan.

“Jika terjadi perbedaan penentuan Idul Fitri, setiap muslim harus mampu menahan diri agar tidak menimbulkan perpecahan. Mari kita tundukkan ego demi merajut persatuan dan kesatuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, perbedaan merupakan hal yang wajar dan justru dapat menjadi kekuatan jika disikapi dengan bijak.

“Berbeda itu biasa. Jangan jadikan perbedaan sebagai alat untuk berpecah, justru bisa menjadi jalan untuk bersatu,” tandasnya.

Dalam susunan pelaksanaan, Gus Zaky Zeynel Abidin akan bertindak sebagai imam. Sementara itu, Gus Ahmad Jaisyu Muhammad akan menyampaikan muqaddimah (prakata), dan Gus Ahmad Muhajir Kamil bertindak sebagai khatib yang akan menyampaikan pesan-pesan Idul Fitri.

Panitia juga mengimbau jamaah untuk membawa sajadah masing-masing demi menjaga kenyamanan selama pelaksanaan ibadah.

Keluarga besar Ponpes Al-Ishlah Bondowoso turut menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh jamaah dan masyarakat. Mereka juga mendoakan agar ibadah puasa serta amal kebaikan selama Ramadan diterima oleh Allah SWT, serta senantiasa dilimpahkan keberkahan.

Dengan lokasi di area terbuka, pelaksanaan Sholat Idul Fitri ini diharapkan mampu menampung jamaah dalam jumlah besar sekaligus menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah di Bondowoso. (ries/yh)