Lebaran di Tengah Dentum Dunia
Catatan Redaksi - Lebaran 2026 mestinya datang sebagai ruang jeda tempat manusia menurunkan ego, menata kembali hubungan yang retak, dan kembali ke fitrah.
Namun tahun ini, 1 Syawal dari kejauhan, dentum konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat ikut menggema, menembus batas geografis hingga ke ruang kesadaran publik Indonesia.
Di satu sisi, Indonesia tetap merayakan Idulfitri dalam situasi aman. Tak ada sirene perang, tak ada reruntuhan, tak ada pengungsian massal.
Tapi justru di situlah kita harus berpikir, apakah rasa aman ini kita maknai sebagai anugerah, atau malah kita anggap sebagai sesuatu yang “biasa saja”? Sebab di belahan dunia lain, Lebaran dirayakan dengan kecemasan, bahkan kehilangan.
Catatan ini bukan hendak membandingkan penderitaan, melainkan menegaskan rasa syukur tidak boleh berhenti di ucapan. Namun harus menjelma menjadi kesadaran kolektif. Sebab stabilitas merupakan kemewahan yang tak semua bangsa miliki.
Kendati begitu realitas global tidak pernah benar-benar jauh, terasa dekat. Konflik yang berlangsung ribuan kilometer itu terbukti ikut menggerakkan harga energi dunia.
Efeknya terasa hingga ke dapur masyarakat, ongkos mudik mungkin naik, harga bahan pokok merangkak. Di titik ini, Lebaran tak lagi hanya soal silaturahmi, tapi juga soal daya tahan ekonomi keluarga.
Sayangnya, respons kita sering kali masih reaktif. Panic buying berulang, distribusi barang bisa jadi tersendat, dan kebijakan penyangga harga mungkin kerap terlambat.
Pemerintah memang tidak bisa mengendalikan konflik global, tapi publik berhak menuntut kesiapsiagaan yang lebih terukur. Jangan sampai setiap krisis eksternal selalu berujung pada kegagapan internal.
Lebaran seharusnya juga menjadi momen menguji solidaritas. Bukan cuma antar tetangga atau keluarga, tapi juga empati lintas batas.
Ketika masyarakat di wilayah konflik berjuang bertahan hidup, dukungan moral bahkan sikap politik luar negeri yang tegas menjadi bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. Di tengah situasi ini pesan tentang maaf dan persatuan terasa makin relevan.
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Polarisasi, konflik, dan ketegangan geopolitik menjadi latar yang tak bisa diabaikan. Indonesia tidak boleh ikut terseret dalam pusaran itu, apalagi terpecah oleh persoalan domestik yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
Lebaran 2026 bukan cuma soal kembali ke nol. Namun juga mengingatkan di luar sana, banyak yang bahkan tidak punya kesempatan untuk merayakan.
Dari situ, seharusnya lahir kesadaran baru, menjaga kedamaian di dalam negeri bukan hanya tugas negara, tapi juga tanggung jawab bersama.
Sebab jika dunia terus gaduh, maka yang paling berharga bukanlah kemewahan perayaan melainkan kemampuan untuk tetap hidup dalam damai. (Tim redaksi)
Editor : Redaksi