Rasa di Jalan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Oleh: Hijrah Saputra

Pengamat Sosial, Alumni UIN Sunan Ampel, dan Alumni Universitas Jember

 

Bondowoso, JatimUPdate.id - Liburan Idul Fitri saya sempatkan untuk traveling. Silaturrahim ke keluarga dan tetangga dekat tetap menjadi prioritas. 

Saya memilih berangkat pada malam hari setelah Telasan (Lebaran) Perjalanan menuju ke sana kami nikmati. 

Ada kenikmatan tersendiri. Jalan lebih tenang. Perjalanan terasa panjang, tapi justru di situ rasanya.

Perjalanan ini saya lakukan bersama keluarga. Tiga putra, satu istri, dan satu ponakan pria ikut serta. Di dalam mobil, obrolan sederhana mengalir. Kadang diam. Kadang bercanda. Kadang hanya melihat jalan. Saya menyopir sendiri. Tanpa tol panjang. 

Momentum seperti ini yang perlahan mengikat kembali rasa sebagai satu keluarga.

Kami tidak terburu-buru. Jalan kami nikmati. Berhenti sebentar, lanjut lagi. Menyisir jalan, masuk kampung, keluar kampung. Saya ingin traveling menikmati pemandangan sekaligus ber-gastrodiplomasi ala lokal. Menyisir jalan, kampung ke kampung, mencoba bermacam menu khas daerah.

Di sepanjang perjalanan, saya juga merasakan keberadaan masjid ramah pemudik. Ia menjadi tempat ibadah sekaligus tempat singgah untuk beristirahat. 

Kesigapan panitia begitu menolong saat saya letih, butuh kopi, atau air panas. Bahkan di Masjid daerah Sragen, menyediakan matras tebal untuk melepas lelah.  Program Masjid Ramah Pemudik dari Kementerian Agama Republik Indonesia benar-benar terasa.

Perjalanan membawa saya sampai di Masjid Sheikh Zayed sekitar pukul tiga dini hari. Masjid sudah dibuka. Saya masuk bersama keluarga. Penjaga menunggu di pintu. Tas diletakkan dan diperiksa melalui x-ray. Tertib.

Saya masuk ke dalam. Luas. Bersih. Terasa megah.
Saya sholat, lalu menunggu subuh.

Masjid ini sekarang menjadi salah satu yang ikonik di Surakarta. Di seberang jalan terdapat gereja. Dua tempat ibadah berdiri berhadapan. Tapi terasa biasa saja. Seperti kehidupan berjalan apa adanya.

Indonesia memang seperti itu.

Makanan khas Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Bahkan, sekarang yang paling dikenal adalah rendang dan nasi goreng. 

Yang unik adalah nasi goreng. Nasi sudah dimasak, justru digoreng kembali. Tapi rasanya membuat orang ketagihan. Banyak bule yang mulai ikut memasak. 

Barack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat ke-44, pernah juga mengacungi jempol makanan Indonesia. Ia mengingat masa kecilnya di Menteng bersama ibunya. 

Ia menyebut, “nasi goreng enak, rawon enak, bakso enak, sate juga enak.” Orang Indonesia sangat suka gaya itu. Kadang di depot atau warung, kalimat itu diulang sambil tersenyum.

Guyonan KH Anwar Zahid juga sering teringat. Ia berseloroh tentang makanan kuat dan menguatkan. “Indonesia di lawan.” Kalau ketemu orang Indonesia, bakso granat dimakan. Bakso mercon dipangan. Di Surabaya, rawon setan dimakan. Di daerah lain, tongseng juga disantap.

Di pinggiran desa yang saya lewati, kebanyakan menu yang ditawarkan memang bakso dan mie ayam. Sepertinya makanan ini yang paling mudah dijual. 

Untuk pecel, pada titik tertentu hampir merata berjualan. Saya justru memilih makanan yang lokal dan sayur. Di rumah, tradisi Lebaran, makanan khasnya sudah bakso atau rawon.

Di Madiun ada pecel.
Di Sragen ada soto kuali.
Di Surakarta ada nasi liwet.
Di Yogyakarta ada gudeg dan sate klathak.

Hampir setiap kabupaten atau kota di Indonesia memiliki ciri khas makanan.

Saya juga sempat ke Pasar Gede. Pasar itu sangat ramai. Seperti Lebaran benar-benar menjadi berkah bagi penjual. Hampir semua makanan laku. Bubur ayam dan mie ayam Jakarta juga ikut hadir "migrasi", seperti tidak ingin kehilangan momentum. Tidak mudik. Tetap berjualan. 

Dawet lokal juga demikian. Liburan panjang menjadi kesempatan bagi penjual. Ada yang menaikkan harga, tapi itu masih wajar. Mengganti lelah tidak libur, dan sulitnya mencari bahan karena banyak yang masih cuti.

Dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, pagi hari, saya kembali berhenti di warung kecil di perbatasan Sragen dan Ngawi. Warung itu sederhana. Seperti rumah. Di depannya ada meja dengan makanan. Minimalis, tapi ramai pembeli.

Saya duduk. Menikmati nasi pecel dicampur sayur lodeh.

Di situ saya melihat seorang pria. Ia sudah lebih dulu ada di sana. Menggunakan kaos dan celana training agak kusam. Warnanya seperti lekam terkena sinar matahari. Rambutnya putih. Wajahnya tampak bersih dan masih muda.

Di belakang sepedanya, ada matras yang digulung. Ia juga membawa tembakau untuk tengwe (gelenteng dewe).

Ia mengaku dari Glenmore. Menuju Yogyakarta. Menyambangi cucunya. Ia bersepeda sendirian. Siang malam ia lalui sendiri. Ia bilang hampir setiap bulan melakukan itu. Dan setiap ke Yogyakarta atau kembali ke Banyuwangi, ia selalu mampir di warung kecil tersebut. Makan, ngopi, dan merokok.

Saya diam. Melihat.
Ia begitu nikmat saat makan nasi pecel dicampur sayur lodeh.
Di situ saya merasa, perjalanan itu bukan soal jauh atau dekat. Tapi soal rasa.

Dari pengalaman itu, saya semakin memahami bahwa gastrodiplomasi ala lokal sebenarnya sudah hidup. Perlu lebih dikelola sehingga dikenal, dirasa, dan dikenang.

Agus Trihartono, Himawan Bayu Patriadi, dan Abubakar Eby Hara menulis dalam buku Gastrodiplomasi Indonesia (2022), makanan dapat menjadi media untuk memperkenalkan identitas budaya sekaligus membangun citra bangsa melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Dalam kajian lain, Abubakar Eby Hara bersama koleganya juga menunjukkan bahwa peran diaspora dan pelaku lokal sangat penting dalam menyebarkan kuliner Indonesia, baik melalui restoran, festival, maupun narasi keseharian.

Malam harinya, saat perjalanan masih panjang, saya berhenti di rest area milik Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Ternyata ada tempat tidur bagi pemudik. Tidak banyak jumlahnya. Tapi mereka sangat welcome dengan kedatangan kami. Lumayan bisa menghemat biaya penginapan. Maklum, perjalanan ini modal pas-pasan. Bonek (bondo nekat).

Dari yang saya lalui, yang paling berkesan adalah makanan lokal. Meski Lebaran, mereka tetap menyuguhkan makanan bagi pemudik. Sementara makanan cepat saji banyak yang libur mengikuti cuti bersama.

Saya menyadari, bila gastrodiplomasi ala lokal ini dirawat, Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Seperti Thailand yang terkenal dengan makanan pedasnya, Vietnam dengan makanan renyahnya, dan negara lainnya.

Potensi pasar gastrodiplomasi ala lokal ini sangat besar. Bila masyarakat dapat mengemasnya dengan baik—kebersihan, keindahan, fasilitas, dan keramahan—maka ini bukan hanya soal makan, tapi juga kemandirian ekonomi.

Dari jalan yang saya lalui, dari warung yang saya singgahi, dari rasa yang saya temui—Indonesia itu tidak jauh.

Ia ada di jalan yang kita lewati.

Wallahu a'lam bish showab.