Pertahanan Negara dari Pesantren
Oleh: Hijrah Saputra
Pengamat Sosial, Alumni UIN Sunan Ampel, dan Alumni Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Perang mungkin terjadi di perbatasan, tetapi rapuhnya negara sering kali dimulai dari dalam masyarakatnya sendiri.
Di tahun 2022. Kala itu saya diundang dalam sebuah forum tentang bagaimana membangun pencitraan institusi dan kelembagaan. Saya hadir sebagai peserta dari desa. Hari itu adalah masa pasca Covid, yang lama tidak ada pertemuan.
Saya pun hanya bisa diam. Karena saya hanya pegawai biasa, saya memilih mengikuti. Beberapa yang hadir adalah para pejabat. Diskusi mengalir tentang how to handle journalism dan how to build good public relations.
Beberapa tokoh jurnalis dan pakar diundang. Menarik. Dari jurnalis, praktisi media Jawa Timur, hingga tokoh dosen dan pengamat komunikasi nasional yang cukup dikenal. Saya menyimak.
Seorang pakar jurnalisme menyebut bahwa media institusi sudah sangat bagus. Penilaian itu disematkan kepada institusi yang mampu menjaga harmoni di masyarakat.
Apresiasi langsung dari insan pers terasa memotivasi. Hari itu kita bahagia, meski mungkin tidak semua benar-benar memahami letak kebahagiaannya.
Kami pun tertarik berbincang tentang internal kemediaan. Termasuk menghadapi jurnalis bodrek, wartawan tanpa surat kabar (WTS), serta bagaimana menghadapi pemberitaan negatif di media, khususnya disrupsi media sosial.
Pembicaraan formal itu menjadi gayeng. Skat seolah tidak ada. Yang tersisa hanya posisi tempat duduk. Saya tetap memilih menyimak. Tidak berkata apa-apa.
Pada sesi lain, terdapat penjelasan yang menyentuh saya dari narasumber kedua. Saat itu saya tertarik pada pernyataannya terkait pertahanan negara dari harmoni keagamaan.
“Seharusnya institusi ini dapat membangun citra yang baik. Agama adalah bagian dari etika dan norma yang tidak hanya disampaikan, tetapi juga ditunjukkan. Dan institusi ini pasti menjadi sorotan ketika berbuat tidak baik. Karena lembaga ini adalah penjaga moral,” pungkas narasumber tersebut.
Saya pun tertarik. Siang itu, kantuk menjadi hilang. Semua terdiam sesaat. Sepertinya masing-masing sedang berkaca. Tak pelak, saya juga demikian.
Pada sesi pertama saya memilih diam. Namun pada sesi kedua ini, tangan saya tidak lagi mampu menahan. Saya mengangkatnya.
Hari itu, kali pertama saya berbicara di kegiatan yang dihadiri para pejabat tingkat provinsi.
Saya menyampaikan uneg-uneg. Alih-alih hanya mengiyakan pandangan pengamat komunikasi tersebut, saya mencoba memberi sudut pandang lain.
Saya menjelaskan bagaimana peran madrasah dan pesantren dalam menjaga pertahanan negara. Pesantren yang selama ini kerap dipandang tradisional, justru memiliki kekuatan dalam menjaga nilai dan stabilitas sosial.
Saya teringat pada tulisan Himawan Bayu Patriadi berjudul “Surviving in the Globalized World Through Local Perspectives: Pesantrens and Sustainable Development” dalam buku Sustainable Future for Human Security (Springer, 2018).
Dalam kajian tersebut, ia menunjukkan bahwa pesantren mampu bertahan di tengah arus globalisasi karena kekuatan nilai lokal yang diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan ketahanan sosial masyarakat.
Dalam perspektif itu, pesantren tak kelihatan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga bagian dari bangunan human security. Sebuah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat keamanan.
Keamanan tidak hanya dimaknai sebagai perlindungan fisik, melainkan juga sebagai kemampuan masyarakat menjaga nilai, identitas, dan stabilitas sosial dari dalam.
Di titik inilah, human security tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menemukan bentuk nyatanya dalam praktik keseharian masyarakat.
Saya mencoba mengaitkan gagasan itu dengan realitas yang saya lihat.
Hari ini, anak-anak sulit lepas dari ponsel. Bahkan nilai bisa ditukar dengan benda. Anak yang dulu menunduk saat orang tua berbicara, kini tetap menunduk tetapi karena layar. Perubahan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar.
Di sinilah, pesantren bekerja.
Bukan sekadar mengajarkan, tetapi membentuk. Bukan sekadar memberi tahu, tetapi membiasakan.
“Saat ini justru banyak orang-orang terdidik yang memilih pesantren sebagai tempat pendidikan anaknya. Amanah itu dianggap paling efektif. Di sinilah, menurut saya, institusi tidak hanya membangun pencitraan, tetapi juga meniti bangunan pertahanan negara melalui fondasi human security yang hidup di masyarakat, yang pada akhirnya menguatkan state security,” pungkas saya.
Saat itu forum menjadi hening.
Beberapa pertanyaan lain sebenarnya muncul. Saya berada di urutan kedua penanya. Namun dari beberapa pertanyaan itu, justru saya yang didahulukan untuk dijawab.
“Iya, di sinilah kekuatan institusi ini. Saya ingin ada ketegasan seperti itu. Dan itu harus menjadi uswah hasanah,” jawab narasumber tersebut.
Saya kembali diam.
Namun kali ini, diam yang berbeda. Diam yang memahami bahwa pertahanan negara tidak selalu dibangun dari suara keras, tetapi dari nilai yang dirawat dalam keseharian.
Wallahu a’lam bish shawab.
Editor : Redaksi