Serial Urip Iku Urup, Surabaya, (01/03/2026)
Membangun Peradaban Kecil di Kampus ITB Yadika Pasuruan
Oleh: Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Surabaya, JatimUPdate.id - Sore hari di kampus ITB Yadika Pasuruan bukanlah sekadar pergantian jam kerja menuju waktu istirahat.
Di saat ufuk mulai memerah, sebuah ritus pendidikan justru baru dimulai. Langkah-langkah kaki mahasiswa yang datang—sebagian besar dengan sisa lelah dari tempat kerja atau bakti pada orang tua—adalah saksi bisu bagaimana sebuah "peradaban kecil" sedang ditenun dengan benang kesabaran dan harapan.
Pendidikan tinggi sering kali terjebak pada megahnya menara gading atau deretan kurikulum yang kaku. Namun, di ruang-ruang kelas sore kami, wajah pendidikan tampil lebih manusiawi. Kampus bukan sekadar struktur beton dan birokrasi, melainkan sebuah ekosistem tempat manusia bertumbuh. Di sini, ilmu pengetahuan berdialog langsung dengan perjuangan hidup yang nyata.
Ruang Kelas sebagai Ruang Tumbuh
Dalam upaya membangun peradaban ini, kita perlu mendefinisikan ulang ruang kelas. Penulis berusaha menghadirkan apa yang disebut sebagai kelas yang zoomy—sebuah ruang dialektika yang hidup dan dinamis. Kelas tidak boleh lagi menjadi tempat pasif untuk sekadar mentransfer materi, melainkan harus menjadi ruang kenyamanan batin.
Sasaran utamanya bukan sekadar kepintaran kognitif, melainkan "pertumbuhan diri". Mahasiswa diajak untuk memahami kapasitas dirinya, mencintai prosesnya, dan memiliki pola pikir positif terhadap masa depan. Ketika seorang mahasiswa merasa berharga, mereka akan memiliki keberanian untuk bermimpi dan menghadapi tantangan zaman yang kian volatil. Inilah pondasi pertama dari peradaban yang kita bangun: manusia yang selesai dengan dirinya sendiri.
Kemandirian dan Jejaring Sosial
Peradaban yang produktif membutuhkan kemandirian. Menarik melihat bagaimana kesadaran "buka lapak" mulai tumbuh di kalangan mahasiswa. Mereka tidak lagi hanya bersiap menjadi sekrup dalam mesin industri setelah lulus, tetapi mulai belajar menciptakan peluang ekonomi sejak di bangku kuliah. Usaha-usaha rintisan kecil ini adalah simbol kedaulatan mental.
Di sisi lain, dinamika organisasi intra-kampus dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjadi laboratorium sosial yang krusial. Melalui interaksi dengan jejaring aktivis di tingkat daerah maupun provinsi, mahasiswa belajar mengelola perbedaan, kepemimpinan, dan empati. Di sinilah karakter dibentuk melampaui teks-teks akademis. Pendidikan, dalam makna sejatinya, terjadi di setiap sudut percakapan, diskusi di kantin, hingga kolaborasi dalam kepanitiaan.
Keteladanan Tridharma
Membangun peradaban kampus tentu mustahil tanpa peran dosen sebagai katalisator. Implementasi Tridharma Perguruan Tinggi—mengajar, meneliti, dan mengabdi—harus berlandaskan ketulusan. Ketika dosen mengajar dengan hati dan meneliti dengan kesungguhan, mereka sedang memberikan teladan nyata (Ing Ngarsa Sung Tuladha). Keteladanan inilah yang kemudian mengalir dan menghidupkan semangat belajar serta nilai-nilai intelektual mahasiswa.
Iklim kompetisi juga terus dipacu. Dorongan mengikuti kejuaraan olahraga, kompetisi wirausaha, hingga penulisan artikel ilmiah adalah cara untuk menguji kapasitas di ruang publik. Setiap lomba adalah cermin bagi mahasiswa untuk mengukur sejauh mana mereka telah bertumbuh dan sejauh mana mental juara telah terbentuk.
Urip Iku Urup
Pada akhirnya, membangun peradaban kecil di kampus adalah kerja sunyi yang membutuhkan konsistensi. Ia lahir dari ruang-ruang kelas yang hangat, dari peluh mahasiswa yang belajar di kala senja, dan dari dosen yang tak pernah lelah menyalakan api ilmu.
Visi hidup urip iku urup—hidup itu menyala—menemukan panggungnya yang paling relevan di sini. Hidup harus memberi cahaya bagi sesama agar mereka mampu menjemput takdirnya masing-masing.
ITB Yadika Pasuruan, dengan segala kesederhanaannya, berkomitmen menjadi ruang penyemai cahaya itu.
Senja di Pasuruan mungkin tampak biasa bagi orang awam. Namun, bagi kita yang melihat dengan nurani, di sanalah masa depan sedang dipersiapkan. Karena peradaban besar tidak pernah lahir dari kegaduhan yang kosong, melainkan dari cahaya-cahaya kecil yang tetap menyala di tengah temaram.
Surabaya, 1 April 2026
Editor : Redaksi