Apa Arti Foto Ini?
Oleh Supriyanto Martosuwito
JatimUPdate.id - Di sebuah foto, dua generasi politik berhadapan. Di kiri, seorang politisi senior dengan gestur tangan merapat, tubuh sedikit condong, wajah yang tidak lagi garang. Dialah Effendi Muarasakti Simbolon, mantan politisi kawakan PDIP, mantan anggota parlemen. Sedangkan di hadapannya, seorang tokoh muda berdiri tegak, menatap langsung, memegang simbol pencapaian, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tak ada teriakan. Tak ada interupsi. Hanya satu hal yang terasa jelas: pengakuan diam-diam atas posisi.
Dan dari titik itulah keganjilan publik kita mulai terlihat.
Dari foto di atas, semoga Anda dan saya punya perhatian yang sama : gestur. Bahasa tubuh. Mimik wajah.
Seorang politisi senior yang dulu dikenal vokal - keras mengkritik kekuasaan - kini menunjukkan gestur yang jauh lebih lunak ketika berhadapan langsung dengan tokoh muda yang sering diremehkan publik.
Apakah ini berarti dia berubah? Atau justru dia sedang membaca realitas dengan lebih akurat dibandingkan mereka yang hanya bersuara dari kejauhan?
Kita hidup di zaman ketika orang yang tidak pernah berada di ruang kekuasaan merasa paling berhak menilai siapa yang pantas berada di dalamnya.
Kita menyaksikan bagaimana Gibran Rakabuming Raka dan ayahnya, Presiden Joko Widodo secara sistematis dinistakan sedemikian rupa — dianggap sekadar produk keberuntungan, efek samping kekuasaan, atau bahkan “kecelakaan politik”.
Seorang profesor yang bekerja di lembaga riset milik negara (BRIN) - tapi antipati pada pemerintah - bahkan menyebut Wapres Gibran sebagai "pelengkap penderita". Julukan yang tidak dilekatkan pada KH Maruf Amin dan Budiono - pada zamannya .
"Pelengkap penderita". Narasi itu diulang, dipelihara, dan diyakini, seolah-olah fakta tidak pernah punya tempat.
Padahal - politik bukan panggung sinetron. Politik bukan ruang di mana siapa pun bisa bertahan hanya karena “dibantu”.
Kita sama sama tahu, banyak yang didorong - banyak yang diberi akses - banyak yang diorbitkan. Tapi berapa yang benar-benar sampai puncak ? Dan tetap berdiri di sana tanpa tergelincir?
Kita harus jujur: tidak semua yang punya privilese mampu bertahan. Banyak yang gugur sebelum sampai. Banyak yang tersandung kasus. Banyak yang tenggelam tanpa jejak.
Ambil saja, nama-nama yang sering disebut dalam percakapan publik: AHY, Agus Harimurti Yudhoyono, Puan Maharani, Yenny Wahid dan Ilham Habibie. Mereka punya akses, jaringan, bahkan warisan politik. Sama sama anak Presiden, dua di antaranya anak Ketua Umum partai besar. Punya "mesin politik" . Tapi jalan menuju puncak tidak otomatis terbuka. Tidak semua sampai ke sana dan tidak semua bertahan.
Apakah AHY dan Puan Maharani tidak berambisi? Jelas ya. Ayah Ibu mereka memberikan dukungan? Jelas sekali! Apakah Yenny Wahid dan Ilham Habibie ingin meneruskan jejak bapaknya. Begitulah nampak dari aktivitasnya.
Lalu kenapa ketika ada yang sampai, refleks pertama kita justru merendahkan kepada yang berhasil?
Di sinilah persoalan “kaum awam” - "pengamat instan" dan "komentator musiman" - itu menjadi menarik — dan sekaligus problematik. Mereka menilai tanpa mengalami - mereka menghakimi tanpa memahami. Mereka merasa cukup dengan potongan informasi, lalu menyimpulkan keseluruhan realitas.
Foto di awal tulisan ini seharusnya menjadi cermin.
Apakah Effendi Simbolon - dan para politisi yang masuk kekuasaan itu bodoh? Apakah mereka akhirnya sadar dan tahu siapa yang mereka hadapi? Dan karena lebih tahu — maka memilih sikap yang berbeda?
Di titik ini, publik sering terjebak dalam "ilusi superioritas". Mereka merasa lebih jernih, lebih kritis, lebih tajam. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: mereka mengunci diri dalam prasangka.
Setiap capaian dianggap kebetulan.
Setiap keberhasilan dianggap rekayasa. Setiap posisi yang telah dicapai oleh orang yang tidak disukai dianggap "tidak sah".
Apakah pengamat politik partisan membantu memahami politik? Tidak. Apakah para komentator instan itu mendewasakan publik? Juga tidak.
Yang terjadi justru pembusukan nalar. Kita berhenti menilai berdasarkan fakta, dan mulai menilai berdasarkan selera.
Kita tidak lagi bertanya “bagaimana ini bisa terjadi?”, melainkan langsung memutuskan “ini pasti tidak layak”.
Padahal realitas politik jauh lebih brutal dari sekadar opini media sosial. Ia menyaring, menguji, dan menjatuhkan mereka yang tidak mampu bertahan.
Jika seseorang tetap berdiri di puncak, maka ada sesuatu yang bekerja di sana — entah itu kapasitas, strategi, atau kemampuan membaca momentum.
Menolak mengakui itu : Gibran Wakil Presiden yang sah dan sedang di lingkaran kekuasaan saat ini - bukanlah sikap kritis. Itu sekadar penolakan terhadap kenyataan.
Foto itu diam. Tapi pesannya keras.
Bahwa di ruang nyata, pengakuan sering terjadi tanpa kata-kata. Bahwa mereka yang berada di dalam permainan membaca situasi dengan cara yang tidak bisa dijangkau oleh penonton di luar.
Mereka yang meremehkan seseorang secara terus-menerus, meski realitas menunjukkan sebaliknya, bukan tanda kecerdasan — melainkan keengganan untuk berpikir ulang.
Jadi, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi siapa yang layak atau tidak. Melainkan : mengapa kita begitu mudah meremehkan sesuatu yang tidak benar-benar kita pahami?
***
Editor : Redaksi