Donald Trump Tangguhkan Operasi Militer, Iran Klaim Kemenangan Bersejarah Atas AS-Israel Setelah 40 Hari Konflik
Teheran, JatimUPdate.id - Setelah 40 hari konflik berkepanjangan, Iran mengumumkan apa yang disebut sebagai "kekalahan bersejarah dan telak" bagi Amerika Serikat dan Israel.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Washington telah menerima seluruh proposal 10 poin yang diajukan Teheran—sebuah klaim yang berpotensi mengubah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah secara fundamental.
Pengumuman yang ditujukan kepada "bangsa Iran yang mulia, agung, dan heroik" ini menyebutkan bahwa musuh "tidak melihat jalan lain selain tunduk pada kehendak bangsa Iran."
Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan global yang memuncak, dengan negosiasi dijadwalkan berlangsung di Islamabad dalam waktu dekat.
Menurut pernyataan resmi yang dilansir Press TV, proposal yang diklaim telah disetujui Amerika Serikat mencakup tuntutan-tuntutan signifikan berikut:
a. Jaminan Keamanan dan Kedaulatan
• Komitmen non-agresi — AS berjanji tidak akan melancarkan serangan di masa depan
• Kontrol Selat Hormuz — Iran mempertahankan kendali atas jalur pelayaran strategis ini
• Hak pengayaan nuklir — Pengakuan penuh atas program nuklir Iran
b. Pencabutan Sanksi dan Resolusi
• Penghapusan seluruh sanksi primer terhadap Iran
• Pencabutan semua sanksi sekunder
• Pengakhiran resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
• Penghentian resolusi Dewan Gubernur IAEA
c. Kompensasi dan Penarikan Militer
• Pembayaran ganti rugi atas kerugian perang
• Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan
• Penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon
Konflik bermula pada 28 Februari dengan apa yang disebut Iran sebagai "pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan para komandan berpangkat tinggi."
Pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menggambarkan periode ini sebagai "salah satu pertempuran gabungan terberat dalam sejarah."
Iran mengklaim bahwa koalisi bersama sekutunya di Lebanon, Irak, Yaman, dan wilayah Palestina telah memberikan pukulan yang "tidak akan pernah dilupakan oleh ingatan sejarah dunia."
"Iran dan Perlawanan hampir sepenuhnya menghancurkan mesin militer Amerika di wilayah tersebut," demikian bunyi pernyataan resmi.
Lebih lanjut, badan keamanan tertinggi Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat menyadari ketidakmampuannya meraih kemenangan hanya dalam 10 hari pertama konflik.
Pengumuman Iran muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memposting di platform Truth Social mengenai keputusannya menangguhkan operasi militer.
Trump menyatakan akan "menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu"—yang disebutnya sebagai "gencatan senjata dua sisi." Namun, penangguhan ini bergantung pada satu syarat krusial: pembukaan segera Selat Hormuz.
Sebelumnya pada hari Selasa, Trump memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran gagal memenuhi tuntutannya—sebuah pernyataan yang memicu reaksi keras internasional.
Berbagai pihak mengutuk retorika tersebut:
• Paus Leo XIV menyebut ancaman itu "benar-benar tidak dapat diterima"
• Sejumlah anggota parlemen AS mengecam pernyataan Trump sebagai "kejahatan murni"
• Beberapa legislator bahkan menyerukan penerapan Amandemen ke-25 untuk mencopot Trump dari jabatannya
Selat Hormuz memegang peran strategis dalam konflik ini. Jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sejak konflik dimulai, Iran telah memblokir selat tersebut secara efektif. Para pejabat Teheran menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis ini tidak akan dibuka kembali hingga seluruh tuntutan mereka dipenuhi—termasuk penghentian permanen apa yang mereka sebut sebagai "perang agresi AS-Israel."
Langkah ini memberikan leverage signifikan bagi Iran, mengingat dampaknya terhadap pasokan energi global dan stabilitas harga minyak internasional.
Sesuai arahan Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei dan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, negosiasi akan digelar di Islamabad, Pakistan. Negosiasi kemungkinan akan berlangsung mulai hari Jumat besok dengan durasi Maksimal 15 hari serta Kemungkinan perpanjangan untuk mencapai kesepakatan bersama kedua pihak.
Iran menyatakan bahwa negosiasi ini bertujuan untuk "mengkonsolidasikan kemenangan di medan perang ke dalam pencapaian politik." Badan keamanan tertinggi menekankan bahwa proses ini merupakan "negosiasi nasional dan perpanjangan dari medan perang."
"Jika penyerahan musuh di medan perang berubah menjadi pencapaian politik yang menentukan dalam negosiasi, kita akan merayakan kemenangan bersejarah yang besar ini bersama-sama."
Di tengah klaim kemenangan, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mendesak kewaspadaan berkelanjutan dari seluruh elemen bangsa.
Pernyataan resmi menekankan pentingnya Menjaga persatuan nasional yang utuh, Mempertahankan ketahanan dan kehati-hatian pejabat, Melestarikan solidaritas di antara rakyat Iran, dan Mendukung proses negosiasi yang berada di bawah pengawasan Pemimpin Revolusi Islam
"Tangan kita berada di pelatuk, dan saat musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, itu akan dibalas dengan kekuatan penuh," demikian peringatan tegas dalam pernyataan tersebut.
Klaim kemenangan Iran ini menandai babak baru dalam ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Namun, berbagai pertanyaan krusial masih menunggu jawaban: Apakah Amerika Serikat akan secara resmi mengonfirmasi penerimaan proposal 10 poin tersebut? Bagaimana reaksi komunitas internasional terhadap perkembangan ini? Dan yang terpenting, apakah negosiasi Islamabad akan menghasilkan resolusi konkret?
Dunia kini menantikan perkembangan dari meja perundingan di Islamabad—sebuah proses yang akan menentukan apakah konflik 40 hari ini benar-benar mencapai titik akhir, atau justru memasuki fase baru yang lebih kompleks. (berbagai sumber/dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat