Paradoks Non-Blok: Sovereignty or Strategy?  Indonesia diantara Simbol Perdamaian America dan Orbit Industri China

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Catur Ambyah
Catur Ambyah

Oleh: Catur Ambyah Budiono, M.Pd, Dosen kewarganegaraan dan Master Ilmu Sosial

“Politics is governed by objective laws rooted in human nature.” Hans Morgenthau

Negara tidak pernah benar-benar idealis, mereka hanya pandai merapikan kepentingannya agar terlihat bermoral. Pada di titik itu, Indonesia hari ini seperti sedang memainkan dua peran sekaligus sebagai penjaga nurani dunia dan murid setia globalisasi.

Di satu sisi, Indonesia berdiri lantang mendukung Palestine dalam konflik dengan Israel, bahkan di tengah dominasi narasi perdamaian yang didorong United States.

Tapi di sisi lain, dalam urusan yang lebih “membumi” industri Indonesia justru bersandar pada China.

Masuknya produsen seperti BYD bukan sekadar simbol kerja sama, tapi bukti konkret bahwa arah industrialisasi kita memang ditopang dari luar.

Bahkan, data menunjukkan impor kendaraan BYD di Indonesia sempat mencapai puluhan ribu unit dalam satu tahun, sebelum diwajibkan beralih ke perakitan lokal (Katadataoto).

Sementara itu, investasi besar juga mengalir termasuk pembangunan pabrik senilai sekitar 1 miliar dolar AS dengan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun (Reuters).

Kalau ditarik lebih luas, relasi ini bukan kebetulan. China memang sedang agresif menanamkan pengaruh industrinya lewat strategi global seperti Made in China 2025, yang secara eksplisit menargetkan dominasi teknologi dan manufaktur, termasuk kendaraan listrik (Online Journal Universitas Jambi).

Indonesia, dengan nikel dan pasar besar, menjadi ladang yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Dan kita, dengan semangat “kemandirian”, justru membuka pintu selebar-lebarnya dengan harapan suatu hari bisa berdiri sendiri.

Di titik ini, teori Andre Gunder Frank terasa seperti déjà vu: negara berkembang tidak benar-benar keluar dari ketergantungan, mereka hanya mengganti bentuknya. Dulu impor barang jadi, sekarang impor teknologi. Dulu jadi pasar, sekarang jadi basis produksi yang tetap berada dalam orbit kekuatan besar.

Sementara itu, hubungan dengan Amerika juga tidak kalah pragmatis. Data perdagangan menunjukkan bahwa China dan Amerika adalah dua mitra utama Indonesia, dengan nilai ekspor ke China mencapai sekitar US$5,27 miliar dan ke Amerika sekitar US$2,51 miliar dalam satu periode perdagangan (Instagram).

Artinya sederhana: secara moral kita bisa lantang, tapi secara ekonomi kita tetap harus santun. Tidak ada ruang untuk benar-benar “berdiri sendiri” tanpa risiko kehilangan akses pasar atau investasi.

Di sinilah politik non-blok ala Soekarno berubah wajah. Dulu ia adalah sikap ideologis: tidak berpihak pada blok Barat atau Timur. Hari ini, ia lebih mirip seni bertahan hidup: berpihak secukupnya, ke semua arah, tanpa terlihat terlalu condong ke mana pun.

Tapi seperti semua seni bertahan hidup, ada harga yang harus dibayar konsistensi yang dikorbankan, kedaulatan yang dinegosiasikan, dan narasi yang kadang dipoles lebih halus dari kenyataan.

Kalau mau dibedah dengan kacamata Ilmu Sosial, situasi ini hampir textbook, dalam perspektif realisme ala Hans Morgenthau, negara tidak pernah benar-benar netral; mereka hanya mengamankan kepentingannya dengan cara paling mungkin.

Indonesia tidak sedang plin-plan, tapi sedang rasional menjaga akses ke kekuatan Amerika sambil memanfaatkan mesin ekonomi China.

Sementara itu, kalau kita geser ke teori dependensi dari Andre Gunder Frank, pola ini justru menunjukkan bahwa negara berkembang seperti Indonesia tetap berada dalam orbit ketergantungan: ekspor moral ke Barat, impor teknologi dari Timur.

Jadi ketika kita berbicara tentang Indonesia sebagai penengah perdamaian dunia sekaligus produsen “kendaraan nasional”, mungkin yang sebenarnya sedang kita lihat bukan kontradiksi, tapi kompromi yang dilegalkan.

Kita tidak sedang gagal menjadi non-blok kita hanya sedang menjalankannya dalam versi paling jujur: tidak benar-benar netral, tapi tidak cukup lihai untuk terlihat demikian.

Pada akhirnya, Indonesia hari ini seperti pemain sirkus yang berjalan di atas tali geopolitik di bawahnya jurang kepentingan global, di atasnya sorotan publik yang ingin semuanya tampak mulus.

Selama masih seimbang, kita akan terus bertepuk tangan. Tapi mungkin sesekali, kita perlu jujur mengakui, menjaga keseimbangan itu bukan berarti tanpa beban justru karena bebannya terlalu banyak, kita dipaksa terlihat ringan.