Ning Lia Dorong RPH Halal Jatim, Ingatkan Risiko Hilangnya Nilai Tambah Industri Daging
Surabaya, JatimUPdate.id, – Dorongan pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) Halal tingkat provinsi di Jawa Timur kian menguat.
Anggota DPD RI dapil Jawa Timur, Lia Istifhama, mengingatkan potensi besar sektor peternakan daerah ini bisa kehilangan nilai tambah jika tidak ditopang sistem penyembelihan yang modern dan tersertifikasi halal.
Menurutnya, selama ini Jawa Timur unggul di sisi produksi, namun belum sepenuhnya kuat di sektor hilir, khususnya pengolahan daging yang terstandar.
“Jaminan halal harus terjaga dari hulu sampai hilir, termasuk dalam proses penyembelihan. Jawa Timur butuh sistem yang mampu memastikan kehalalan produk secara menyeluruh,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Rencana pembangunan RPH Halal tersebut diinisiasi oleh PT Jatim Graha Utama dan dinilai selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014.
Ning Lia memaparkan, produksi daging sapi di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir telah menembus lebih dari 100 ribu ton per tahun. Di sektor unggas, provinsi ini juga menjadi kontributor utama produksi ayam ras nasional.
Namun, besarnya kapasitas produksi tersebut dinilai belum diimbangi dengan sistem pengolahan yang terintegrasi dan berstandar halal.
“Kita kuat di produksi. Tapi kalau pengolahan tidak modern dan tersertifikasi halal, nilai tambah bisa hilang,” tegasnya.
Ia menambahkan, tren peningkatan kebutuhan daging pada 2024–2025 menuntut kesiapan infrastruktur yang lebih serius. Apalagi Jawa Timur saat ini menyuplai lebih dari 20 persen kebutuhan daging sapi nasional.
Tanpa dukungan RPH Halal yang modern, potensi tersebut berisiko stagnan, bahkan kalah bersaing di pasar yang semakin kompetitif, termasuk pasar ekspor.
“RPH Halal modern bukan hanya soal kehalalan, tapi juga kualitas, efisiensi rantai pasok, dan peluang ekspor,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia menilai pengembangan RPH Halal oleh PT JGU dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun ekosistem industri halal di Jawa Timur.
Dorongan ini menegaskan bahwa industri halal kini telah berkembang menjadi sektor ekonomi strategis, bukan sekadar isu religius.
Dengan basis produksi ternak yang besar, Jawa Timur dinilai berada pada posisi ideal untuk menjadi pusat industri halal nasional. Namun tanpa standardisasi dan modernisasi, potensi tersebut berisiko kehilangan daya saing.
Pembangunan RPH Halal tingkat provinsi pun dipandang sebagai langkah kunci—game changer—untuk mendorong transformasi dari sekadar produsen menjadi pemain utama dalam rantai industri halal global. (rilis/roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat