“Jenderal Baliho” Disentil Lagi, Dudung Balas Rizieq: Ulama Harus Meneduhkan, Bukan Memprovokasi

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Dudung Abdurrahman dan Habib Rizieq Shihab.
Dudung Abdurrahman dan Habib Rizieq Shihab.

 

Jakarta, JatimUPdate.id — Friksi lama kembali menyala. Nama Rizieq Shihab dan Dudung Abdurachman kembali berhadapan dalam polemik panas yang menyeret lingkar Istana.

Semua bermula dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “pergi saja ke Yaman”—sebuah diksi yang tiba-tiba jadi sorotan publik.

Rizieq curiga. Ia menilai ada “bisikan” di balik perubahan nada pidato Presiden. Dalam sebuah ceramah yang beredar di YouTube, ia bahkan menyebut sosok “Jenderal baliho” sebagai pihak yang diduga memengaruhi.

“Dari mana tiba-tiba muncul kata Yaman? Kenapa sekarang berubah?” kata Rizieq.

Sindiran itu bukan tanpa arah. Publik paham, label “Jenderal baliho” selama ini lekat pada Dudung—sejak ia memerintahkan penurunan baliho Front Pembela Islam (FPI) saat masih menjabat Pangdam Jaya.

Dudung Tak Tinggal Diam

Kini duduk di kursi strategis sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Dudung langsung merespons.

Ia membantah keras tudingan tersebut. Tidak ada “bisikan”, tidak ada pengaruh.

“Antara saya dengan Habib Rizieq sebenarnya sudah tidak ada masalah,” ujarnya di Istana, Selasa (5/5/2026).

Namun, Dudung tak sekadar membantah. Ia juga mengirim pesan yang terasa menohok.

Menurutnya, seorang ulama seharusnya menjadi penyejuk—bukan sumber kegaduhan.

“Ulama itu meneduhkan. Tidak merendahkan, tidak menjelekkan, dan tidak memprovokasi,” kata Dudung.

Nada ini terbaca jelas: bukan hanya klarifikasi, tapi juga kritik terbuka.

Luka Lama yang Belum Sepenuhnya Sembuh

Polemik ini seperti membuka kembali arsip lama. Publik masih ingat momen ketika Dudung—sebagai Pangdam Jaya—menurunkan atribut FPI di ruang publik.

Langkah itu terjadi setelah pemerintah menyatakan FPI tidak lagi memiliki legalitas.

Dudung bahkan pernah secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap pembubaran organisasi tersebut.

“Kalau perlu FPI dibubarkan,” ucapnya kala itu.

Sejak saat itu, relasi Dudung dan Rizieq tak pernah benar-benar dingin—hanya mereda, lalu kini kembali memanas dalam bentuk baru.

Politik Bahasa, Politik Pengaruh

Kasus ini bukan sekadar soal ucapan “Yaman”. Ini soal persepsi: siapa memengaruhi siapa di lingkar kekuasaan.

Rizieq melihat ada perubahan yang tidak biasa dalam gaya komunikasi Presiden.

Dudung menepis, sekaligus mengingatkan batas-batas etika dalam berbicara di ruang publik.

Di tengah itu, publik menyaksikan satu hal yang sama: narasi lama menemukan panggung barunya.

Ajakan Redam Konflik—atau Sekadar Retorika?

Di akhir pernyataannya, Dudung mengajak semua pihak menghentikan permusuhan, kecurigaan, dan fitnah.
Namun pertanyaannya: apakah seruan itu cukup?

Atau justru polemik ini akan terus hidup—karena ia tak sekadar soal kata, melainkan soal posisi, pengaruh, dan memori konflik yang belum benar-benar usai? (rio/mmt)