Dibongkar atau Ditata Pedagang Unggas Minta Didengar Bukan Disingkirkan
Catatan Redaksi - Rencana pembongkaran lapak pedagang unggas di Pasar Pabean kembali memposisikan pemerintah pada pilihan klasik, menata atau menyingkirkan.
Mereka tak menolak perubahan. Mereka tidak anti aturan. Yang mereka tolak pendekatan yang terburu-buru membongkar tanpa memastikan solusi.
Permintaan seperti penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) justru menunjukkan arah yang berbeda. Pedagang ingin ditata bukan dihapus.
Di titik ini, persoalan menjadi lebih terang. Masalahnya bukan keberadaan pedagang, tapi bagaimana sistem penataan itu dijalankan.
Jika persoalannya soal kebersihan dan higienitas, maka solusi itu semestinya perbaikan fasilitas bukan penghilangan aktivitas ekonomi.
Suara yang disampaikan koordinator mewakili kegelisahan yang lebih luas. Lapak yang sudah ditempati bertahun-tahun bukan cuma tempat berdagang.
Namun ruang hidup yang membangun relasi dengan pelanggan.
Ketika pembongkaran menjadi opsi utama, maka yang terancam bukan hanya bangunan, tetapi juga keberlangsungan ekonomi mereka.
Pemerintah tentu punya kewenangan untuk menata. Namun kewenangan itu tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab menghadirkan solusi.
Dua tuntutan pedagang, stand pengganti yang layak dan lokasi yang tidak jauh bukan sesuatu yang berlebihan.
Itu batas minimal agar mereka tetap bisa bertahan. Jika tidak dipenuhi maka relokasi berisiko menjadi pemindahan masalah bukan penyelesaian.
Kebijakan yang baik bukan hanya terlihat tegas di atas kertas, tapi juga terasa adil di lapangan.
Dan dalam kasus ini, yang diuji bukan cuma keberanian menertibkan melainkan kesungguhan untuk mendengar.
Editor : Redaksi