Shoim Haris Sebut Korupsi Sistemik Hambat Lompatan Ekonomi Indonesia

avatar Shofa
  • URL berhasil dicopy
Shoim Haris (tengah)
Shoim Haris (tengah)

Jakarta, JatimUPdate.id - Shoim Haris menilai korupsi sistemik dan birokrasi yang berbelit masih menjadi hambatan utama Indonesia untuk melompat lebih cepat dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal itu disampaikannya dalam FOSTA Discuss Session (FDS) Volume-4 yang digelar Forum Staf Anggota (FOSTA) Fraksi Partai Golkar DPR RI di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Dalam diskusi bertajuk Menjaga Stabilitas Politik di Tengah Konsentrasi Ekonomi tersebut, Shoim menyoroti tingginya “entropi politik” atau kekacauan sistem yang dinilai membuat energi besar Indonesia belum mampu dioptimalkan secara maksimal.

“Terjadilah korupsi yang sistemik, polarisasi yang menguras energi, biaya transaksi yang membebani rakyat kecil. Kesadaran kolektif terfragmentasi,” ujar Shoim.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa sumber daya alam melimpah, populasi muda, dan posisi strategis kawasan. Namun, lemahnya tata kelola birokrasi dan penegakan hukum membuat proses pembangunan berjalan lambat.

Shoim menyebut praktik hukum yang tumpang tindih, birokrasi yang rumit, serta kebijakan pembangunan yang tidak konsisten membuat Indonesia terus mengulang kesalahan yang sama.

“Tidak ada visi bersama yang membakar semangat. Evolusinya lambat, dari reformasi setengah hati hingga program pembangunan yang mandek di tengah jalan,” katanya.

Ia kemudian membandingkan Indonesia dengan Vietnam yang dinilai berhasil mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, dan keterbukaan terhadap perdagangan global.

Menurut Shoim, Vietnam mampu menekan entropi sistem sehingga pembangunan berjalan lebih efektif dan terarah.

“Vietnam belajar cepat dari kegagalan perang, dari perubahan global, dan dari kesuksesan negara lain. Hasilnya Vietnam melompat, sementara Indonesia berjalan di tempat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum FOSTA Nur Wahyu Satrio Wibowo menegaskan generasi muda politik harus membangun kesadaran kolektif untuk menghadapi berbagai persoalan sistemik bangsa.

“Kalau generasi FOSTA tidak memiliki kesadaran, berarti membiarkan kekacauan menang,” pungkas Satrio (*)