Catatan Mas AAS

Awakmu Wis Ngopi

oleh : -
Awakmu Wis Ngopi
ngopi

"Kopi ini tak butuh gula, jika kau ada di hadapanku, glodak!"

Kopi hari ini memang sedang up. Up nya ora karu-karuan. Siapa yang bisa menyangkal mashurnya kopi dan ritual nyeruput kopi bagi penikmatnya di warkop atau cafe!

Kelar antar istri ke kantornya. Aku pun langsung melakukan ritus sejenak menikmati aroma kopi tak lupa beserta filosofinya. Setiap kopi pahit selalu meninggalkan rasa manis diakhirnya. Bukankah hidup Anda dan saya juga demikian bukan? Akumulasi kepahitan hidup yang dialami seringkali berbuah kebahagiaan yang abadi, cie cie cie!

Makna sebuah kopi akan sangat mendalam apabila kita bertanya mereka para penikmat dan pencintanya. Bagi kalangan penikmat, kopi bisa menawarkan inspirasi juga kehangatan. Namun, bagi sebagian istri bisa jadi alamat suami akan pulang pagi, dan rumah jadi sepi kurang sentuhan kehangatan.

Pelanggan kopi yang tandang dan mampir di warkop atau cafe kopi selalu disapa yang menyejukkan, "mas mau minum atau makan apa?" Di rumah bisa jadi para lelaki dan suami itu sambutan dan pertanyaan yang diajukan istri selalu sama, "mas tadi pergi dari mana, sama siapa, lelaki atau wanita, ampun deh!" Itu cerita teman saya begitu. Sehingga ia kerasan banget nongkrong di warkop dan cafe kopi!

Tukune mung secangkir kopi, duduknya seperti antri tunggu keberangkatan ibadah haji. Kalau sudah seperti itu, siapa yang kesal? Mungkin si bartender kopi, "bro, lek muliho gantian, kate ono sing ngopi meneh!"

Ya, begitulah kejenakaan yang terjadi dilakukan oleh para pengunjung di warkop langganan pada pagi ini! Bisa jadi bagi para kaum adam di negeri ini, warung kopi sudah jadi rumah kedua bahkan rumah pertama, tempat paling tepat untuk sejenak melupakan kepenatan dan keruwetan hidup yang tengah dialaminya! Bagaimana, apakah Anda juga setuju dengan pendapat tersebut?

Baiklah, sekarang waktunya bekerja. Setelah usai tunaikan ritual pagi! Biasa bolang keliling kota pahlawan. Semoga orderan pada hari ini laris manis, amin yra...