Nikmati Imbal-hasil Rendah, Danantara Diuji Investor Global
Jakarta, JatimUPdate.id - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menikmati imbal-hasil (yield) rendah disaat para institusi investasi global berebut surat utang atau obligasi yang diterbitkan Danantara.
"Kami bisa closing di [yield] 5,35% yang [utang tenor] lima tahun. Sedangkan yang [tenor] 10 tahun di 5,95%. Ini adalah hasil yang sangat-sangat baik, dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi, dan ini terbukti, dan ini real, ya," ungkap Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani dalam keterangan persnya di Istana Kepresidenan, Senin (15/6/2026).
Obligasi global yang diterbitkan Danantara ini dibagi menjadi dua tenor. Pertama untuk surat utang tenor 5 tahun dengan yield 5,35�rhasil menghimpun dana sebesar US$ 750 juta.
Kedua surat utang tenor 10 tahun dengan yield 5,95�rhasil menghimpun dana sebesar US$ 750 juta.
Danantara berhasil menghimpun dana segar dari penerbitan surat utang atau obligasi sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,55 triliun (asumsi kurs Rp 17.704).
Obligasi global ini bahkan disebut mengalami oversubscribe atau kelebihan pesanan.
Rosan mengatakan oversubscribe terhadap obligasi global ini mencapai 3 kali dengan puncak pemesanan US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,40 triliun.
Hal ini mencerminkan tingginya minat investor global terhadap obligasi Danantara.
Rosan menambahkan, hasil investasi ini akan masuk ke dalam rekening Danantara pada tanggal 18 Juni.
Ia menegaskan, lakunya obligasi global Danantara ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap Indonesia.
"Banyak yang menyampaikan selama ini, 'Oh tidak akan ada investasi mau percaya kepada kita.' Tapi ini real. Ini membuktikan bahwa memang kepercayaan investor terhadap Indonesia, itu ada dan tinggi," imbuhnya.
Keberhasilan penerbitan obligasi Danantara merupakan sinyal positif, terutama karena yield yang diperoleh relatif rendah dan menunjukkan bahwa investor global masih menilai risiko Indonesia secara cukup baik.
Namun akan terlalu berlebihan jika menyimpulkan bahwa seluruh investor institusi yang membeli obligasi tersebut memiliki kepercayaan penuh terhadap Danantara.
Sebagian besar investor kemungkinan membeli karena kombinasi tiga faktor: kredibilitas makroekonomi Indonesia, adanya dukungan implisit pemerintah terhadap Danantara, dan peluang memperoleh imbal hasil yang menarik dibandingkan instrumen sejenis di pasar global.
Dengan demikian, yang tercermin saat ini bukanlah kepercayaan absolut, melainkan kepercayaan yang bersyarat dan terus dievaluasi.
Kepercayaan tersebut juga tetap rentan terhadap perubahan situasi politik, kualitas tata kelola, dan konsistensi kebijakan ekonomi nasional.
Karena itu, tugas pemerintah sekarang bukan merayakan oversubscribe tiga kali lipat, melainkan memastikan bahwa Danantara dikelola secara profesional, transparan, dan bebas dari intervensi politik jangka pendek.
Dalam ekonomi pasar, kepercayaan bukan hadiah. Kepercayaan adalah utang yang harus dibayar dengan kinerja, tata kelola yang baik, dan konsistensi kebijakan.
Diberitakan sebelumnya, Danantara meluncurkan instrumen surat utang melalui Danantara Investment Management (DIM) dan sekilas nampak respon positif para investor global.
Penjualan perdana obligasi dolar AS ini merupakan 'ujian' penting bagi Danantara untuk melihat minat investor asing terhadap aset-aset Indonesia.
Investor yang berpartisipasi berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Untuk tenor lima tahun, investor dari Eropa dan Timur Tengah mendominasi dengan porsi 41%, disusul Amerika Serikat 38�n Asia 21%.
Sementara pada tenor 10 tahun, investor asal Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar dengan porsi 52%, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31%, serta Asia 17%.
Pewarta Rachmad Hidayatullah (roy/mmt)
Editor : Miftahul Rachman