Trans Kalimantan Jadi Harapan Baru, Kalimantan Berpeluang Miliki Kereta Api Hijau dan Modern Pertama di Indonesia
Kalimantan, JatimUPdate.id - Selama puluhan tahun, Kalimantan dikenal sebagai satu-satunya pulau besar di Indonesia yang belum memiliki jaringan kereta api umum.
Di tengah pesatnya pembangunan transportasi di berbagai wilayah, kondisi tersebut kerap dianggap sebagai ketertinggalan infrastruktur yang harus segera dikejar.
Namun di balik keterbatasan itu, tersimpan peluang besar yang tidak dimiliki daerah lain.
Ketiadaan jaringan rel eksisting justru membuka jalan bagi Kalimantan untuk membangun sistem perkeretaapian yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan sejak awal.
Pemerintah kini memasukkan pengembangan Kereta Api Trans Kalimantan sebagai bagian dari strategi pemerataan pembangunan nasional.
Proyek tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam upaya memperkuat konektivitas antardaerah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa.
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan jaringan kereta api di berbagai wilayah, termasuk Trans Sumatra, Trans Sulawesi, dan Trans Kalimantan. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketimpangan infrastruktur, menekan biaya logistik, serta mempercepat distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa sektor perkeretaapian menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam pembangunan infrastruktur nasional.
Menurut AHY, pemerintah tengah menyusun perencanaan pengembangan jaringan rel secara komprehensif bersama berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Kereta api diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai moda transportasi penumpang, tetapi juga menjadi tulang punggung angkutan logistik nasional.
“Kereta api kita harapkan bisa berperan lebih besar, bukan hanya untuk penumpang, melainkan juga untuk angkutan barang. Dengan begitu, biaya logistik bisa ditekan dan produktivitas daerah meningkat,” ujar AHY, Rabu (17/6/2026).
Saat ini, Pulau Jawa telah memiliki jaringan rel yang relatif padat. Sementara itu, Sumatra terus mengembangkan konektivitas antardaerah meski belum terhubung sepenuhnya.
Di Sulawesi, pembangunan jaringan kereta api masih berlangsung secara bertahap.
Berbeda dengan wilayah lain, Kalimantan hingga kini belum memiliki jaringan kereta api umum yang beroperasi. Kondisi tersebut diakui pemerintah sebagai tantangan besar yang harus diselesaikan dalam beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, AHY menilai kondisi tersebut juga menghadirkan keuntungan strategis. Tanpa terbebani infrastruktur lama, Kalimantan memiliki kesempatan untuk langsung mengadopsi teknologi transportasi terbaru yang lebih canggih dan berkelanjutan.
Pembangunan jaringan rel di pulau ini dapat dirancang dengan sistem persinyalan digital, teknologi operasi yang lebih otomatis, hingga penggunaan kereta berbasis listrik maupun energi bersih lainnya.
Dengan pendekatan tersebut, Kalimantan tidak perlu mengikuti pola pembangunan perkeretaapian konvensional yang diterapkan puluhan tahun lalu.
Sebaliknya, Kalimantan berpotensi menjadi laboratorium transportasi masa depan Indonesia yang mengedepankan efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.
Aspek lingkungan menjadi salah satu alasan utama pemerintah mendorong pengembangan moda transportasi berbasis rel. Dibandingkan transportasi jalan raya, kereta api dinilai jauh lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah.
AHY menyebut kontribusi emisi karbon dari sektor perkeretaapian berada di bawah 1 persen. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan transportasi darat berbasis jalan yang menyumbang sekitar 89 persen emisi dari sektor transportasi.
Dengan karakteristik wilayah Kalimantan yang masih didominasi kawasan hutan dan area konservasi, pembangunan sistem transportasi rendah emisi dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Kehadiran Kereta Api Trans Kalimantan tidak hanya diharapkan mampu meningkatkan konektivitas dan efisiensi logistik, tetapi juga menjadi simbol transformasi menuju sistem transportasi nasional yang lebih hijau, modern, dan berkelanjutan.(ih/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat