Selamat Datang Pionir Ekonomi Hijau Bernama Kopdes
Oleh : As Khabul Mukminin *
JatimUPdate.id - Bentang desa, tak lagi sama dengan bentang pematang sawah. Desa telah mewujud sebagai entitas wilayah yang unik. Desa atau orang menyebutnya Ndeso. Satu kata olok olok tempo dulu. Hari ini desa telah menjadi Global Village (desa global). Eksistensinya real time. Bisa di pantau atau akses dari belahan benua lain. Maka, isu green economic (Ekonomi Hijau) juga masuk ke ranah kehidupan sehari hari masyarakat desa.
Sejak di gebyar secara Nasional. KDKMP atau KOPDES terus menjadi central isu yang dinamis. Beberapa waktu lalu Menkop menggulirkan satu terobosan langkah kecil tapi nyata. KDKMP siap menjadi pembeli minyak “jelantah” minyak goreng bekas. Sebuah isu green economic yang ternyata bukan sekedar retorika.
Mitra Strategis.
Eksistensi PT.Pertamina Patra Niaga sudah memulai langkahnya untuk membeli minyak jelantah. Ternyata jelantah akan diolah menjadi bahan baku bioavtur (bahan bakar pesawat). Data mentah menunjukkan, potensi Nasional tidak kurang 168 juta liter/bulan. Dalam skala Jawa Timur dengan jumlah penduduk 41,8 juta jiwa, potensi Jelantah 25,08 juta liter/bulan.
Secara spesifik saya mencoba membreakdown potensi di Kab.Jember dengan penduduk 2,6 juta jiwa, potensi jelantah di kisaran 1,56 juta liter/bulan.
Dari Jelantah, saya menelusur ke oli bekas (lubricant). Itupun kita batasi di sektor automotif.
Oli bekas sebagai produk energi yang tidak terbarukan/ non renewable energy, (berbahan fosil) memiliki potensi yang tidak kalah luar biasanya. Selaku Senior Manager di ENOC (Emirat National Oils Company) Dubai untuk Asia Tenggara bersama MTM selaku Sole Distr. Tentu saya memiliki experience soal produk oil. Harga jual yang mencapai kisaran Rp 27 K sampai Rp 40 K perliter/kemasan botol.
Padahal saat menjadi limbah yang ditampung dalam drum harga per drum setiap 200 liter/drum berkisar hanya Rp 200.000 saja. Padahal boleh jadi dalam kapasitas besar, Pertamina bisa membeli dua kali lipatnya. Atau 400 K perdrum. Meskipun saat ini Pertamina bukan sebagai pembeli langsung.
Namun menggunakan vendor pengolah limbah, untuk recycle / pemurnian menjadi base oil kembali. Potensi ini sama gilanya dengan minyak Jelantah. Oli bekas bisa mencapai 520 sd 650 juta liter / tahun dari sektor otomotif dan industri.
EKONOMI HIJAU DESA
Seorang Ekonom Inggris dalam literatur “Blueprint for a Green Economy” Prof. David Pearce (1989) pencetus dan pelopor Green Economy. Jargon yang paling dikenal saat itu adalah Kalau hutan ditebang di hitung untung. Sedang oksigen yang hilang tak dihitung rugi.
Beliulah yang memberikan penyadaran kepada dunia bahwa Alam adalah modal (natural capital). Negara yang tidak memperdulikan alam akan mengalami kehancuran dan kebangkrutan yang nyata.
Maka gerakan ekonomi hijau di tingkat desa dengan melibatkan secara massal KDKMP dalam skala nasional merupakan langkah strategis yang akan mengguncang dunia recycle. Bayangkan dua hal sekaligus, dunia minyak bekas dan dunia oli bekas. Dua hal yang satu bermarkas di limbah rumah tangga, sedang yang lainnya menyusur di sektor Industri.
Dua cakupan yang boleh jadi akan menjadi perekat sosial (kohesifitas sosial) yang mememunculkan gerakan kebersamaan, kepedulian dan gotong royong dalam bentuk kebaruan. Gerakan ekonomi Hijau di tingkat desa akan memberi dampak nyata dalam kehidupan masyarakat pedesaan yang pro langit biru dan bumi hijau.
PELUANG DAN MANAJER KOPDES
Kalau hari ini calon manajer Kopdes memperoleh pembekalan di markas markas Militer jangan tergesa dan terburu menyimpulkan. Virus Militerisasi kembali di suntikkan, kali ini dalam darah GenZ dan kaum Milenial. Sebuah simpulan yang dangkal dan terburu buru akan bermuara pada sesat yang nyata. Para Calon Manajer mulai dibekalai dengan sikap berani. Sikap berani adalah modal pengusaha. Ditanamkan sikap disiplin dan integritas, sebagai pengusaha tentu harus memiliki keberanian mengambil resiko.
Guru Bisnis yang sukses sekaliber Bapak Chairul Tanjung, mengingatkan para pebisnis awal harus memiliki keberanian, disiplin yang kokoh dan menyukai tantangan. Tiga kunci yang sering di sampaikan adalah A3. Action, action dan action.Bagian pembekalan yang tidak kalah penting adalah pembekalan manajerial, Kepemimpinan, hard skill dan soft skill telah di susun dalam kurikulum ajar. Melibatkan para akademisi, pakar, praktisi, motivator dan coach. Ada standar kompetensi yang di persyarakatkan. Tidak sekedar pada instruktur , lebih lebih pada para Manajer.
DESA SEJAHTERA, BERJUTA SUMBERDAYA
Bahwa desa akhirnya menjadi fokus dalam pengembangan dan percepatan kesiapan menyongsong bonus Demografi 2030, tentu bukan tanpa argumentasi. Ternyata para GenZ dan Milenial ada tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Menurut data BPS jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa. Uniknya hampir separuh (49, 27 persen) merupakan gabungan GenZ (24,93 %) dan Millenial (24,34 %).
Mayoritas dari generasi produktif ini tinggal di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian.
Kesiapan 30.000 calon Manajer Kopdes, telah memperolah bekal kompetensi dan wawasan Kebangsaan, akan disebar ke seluruh negeri. Maka Bersamai, dampingi dan rangkul, kelak dari tangan generasi Unggul lahir desa desa sejahtera. Desa mandiri secara energi, pangan dan ekonomi. Kubur sudah kata ndeso. Jadilah dari ‘Ndeso’ menuju Global Village (Desa Dunia).*
Penulis adalah Instruktur KDKMP Kemenkop, alumni International Sales and Distr. Training ENOC (Emirat National Company) Dubai.
Editor : Redaksi