Rhoma Irama, Lagu "Bencana", dan Tindakan Kemanusiaan PMI

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy

Ramdansyah, Sekretaris PMI Jakarta Utara & Ketua Bidang Majelis Nasional KAHMI

JatimUPdate.id - Bait lagu Rhoma Irama "Masih perlukah air mata untuk menangisi dunia yang selalu dilanda bencana?" Pertanyaan yang diajukan Rhoma Irama dalam lagu “Bencana” masih relevan ditujukan kepada dunia hari ini. Ketika gelombang panas melanda berbagai negara Eropa, banjir dan kekeringan datang silih berganti di Indonesia, serta perubahan iklim menghadirkan bencana yang semakin sulit diprediksi, pertanyaan itu tidak lagi terdengar sebagai lirik lagu semata. Ia berubah menjadi pertanyaan moral: apakah manusia hanya akan terus menangisi bencana, atau mulai memperbaiki cara hidup yang melahirkannya?

Bencana kini hadir hampir setiap hari melalui layar telepon genggam dan televisi. Korban direkam, disiarkan langsung, dibagikan, lalu isi gawai kita segera tergantikan oleh tragedi yang muncul sebagai for your page (FYP) Penderitaan berubah menjadi konsumsi publik. Air mata sering lebih cepat diproduksi daripada tindakan. Kita menyaksikan bencana secara real time, tetapi kita belum tentu semakin memahami mengapa bencana terus berulang.

Fenomena ini mengingatkan pada gagasan Susan Sontag dalam Regarding the Pain of Others (2003). Menurutnya, gambar penderitaan memang mampu menggugah empati, tetapi juga dapat melahirkan kebiasaan melihat tanpa benar-benar bertindak. Bencana akhirnya menjadi tontonan yang berlalu bersama derasnya arus informasi.

Di sinilah lagu Bencana menemukan relevansinya kembali. Rhoma Irama tidak berhenti menggambarkan gempa bumi, banjir, peperangan, atau hilangnya ketenteraman. Ia justru mengajak pendengarnya bertanya mengenai apa yang menjadi penyebab bencana. Apakah berbagai musibah itu semata-mata takdir alam, atau juga lahir dari kesombongan manusia yang merasa mampu menguasai bumi tanpa batas?

Pertanyaan tersebut menjadikan lagu Bencana berbeda dari sekadar lagu bertema kemanusiaan. Musik digunakan sebagai medium dakwah sosial. Liriknya mengajak pendengar tidak berhenti pada belas kasihan, tetapi masuk ke wilayah refleksi. Bencana bukan hanya peristiwa alam, melainkan juga cermin hubungan manusia dengan sesama, dengan lingkungan, dan dengan Sang Pencipta.

Antara Simpati dan Kesadaran
Dalam beberapa dekade terakhir, isu kemanusiaan semakin sering melibatkan tokoh-tokoh terkenal dunia. Lisa Ann Richey melalui buku Celebrity Humanitarianism and North–South Relations (2016) menjelaskan bagaimana keterlibatan selebritas membentuk wajah baru gerakan kemanusiaan global. Kehadiran figur publik mampu menggerakkan perhatian masyarakat sekaligus memperluas jangkauan kampanye sosial.

Namun, perhatian publik tidak selalu diikuti pemahaman yang mendalam. Ilan Kapoor dalam buku sejenis yang berjudul Celebrity Humanitarianism (2013) mengingatkan bahwa penderitaan sering kali berhenti sebagai objek simpati, sementara akar persoalan struktural yang menyebabkan kemiskinan, konflik, atau kerusakan lingkungan justru luput dari perhatian.

Rhoma Irama menawarkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak membangun citra sebagai penyelamat. Rhoma hadir membantu korban tsunami Aceh ataupun ketika melahirkan lagu-lagu bertema kemanusiaan, yang dibangunnya bukan sekadar rasa iba, melainkan kesadaran moral. Lagu-lagunya mengajak pendengar menilai kembali cara manusia memperlakukan kehidupan.

Dangdut sebagai Kritik Sosial
Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music (2010) menunjukkan bahwa dangdut sejak awal merupakan musik yang berbicara tentang pengalaman sosial masyarakat. Tema-temanya tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari, moralitas, keadilan, maupun persoalan rakyat kecil.

Karena itu, lagu Bencana tidak layak dibaca hanya sebagai karya musikal. Lagu tersebut merupakan kritik sosial yang dibungkus dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Ketika Rhoma menyebut banjir, gempa, peperangan, dan hilangnya rasa aman, sesungguhnya ia sedang mempertanyakan arah pembangunan manusia itu sendiri.

Pandangan itu menjadi semakin relevan ketika dunia memasuki era perubahan iklim. Gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem menunjukkan bahwa sebagian bencana tidak lagi dapat dipisahkan dari pilihan-pilihan politik, ekonomi, dan ekologis yang dibuat manusia. Kerusakan hutan, tata ruang yang buruk, eksploitasi sumber daya alam, hingga emisi karbon adalah bagian dari cerita yang sama.

Panas Ekstrem dan Ujian Kemanusiaan
Saat ini dunia menghadapi ancaman yang sering disebut sebagai silent killer: panas ekstrem. Berbeda dengan gempa atau tsunami yang datang tiba-tiba, gelombang panas bekerja perlahan. Korbannya banyak, tetapi sering tidak terlihat. Mereka meninggal karena dehidrasi, gagal organ, atau komplikasi penyakit yang diperburuk oleh suhu yang terus meningkat.

Karena tidak menghadirkan gambar dramatis seperti banjir atau gempa bumi, panas ekstrem kerap gagal membangkitkan perhatian publik. Padahal dampaknya terhadap kelompok rentan—lansia, anak-anak, pekerja lapangan, dan masyarakat miskin—dapat sama mematikannya.

Apabila dahulu Rhoma mengingatkan masyarakat melalui lagu Bencana dan kemudian melalui lagu Virus Corona, maka tantangan zaman hari ini adalah membangun kesadaran publik mengenai krisis iklim. Mungkin bukan soal apakah harus lahir lagu baru tentang panas ekstrem, melainkan bagaimana seni, budaya, dan tokoh publik mampu menggerakkan kesadaran kolektif bahwa perubahan iklim bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan hari ini.

Dari Air Mata Menuju Tindakan
Kesadaran moral hanya akan bermakna apabila diwujudkan dalam tindakan. Di sinilah organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia (PMI) memainkan peran penting. Selama ini PMI sering dipersepsikan hanya hadir setelah bencana terjadi. Padahal berbagai program mitigasi kekeringan, distribusi air bersih, edukasi masyarakat, hingga kesiapsiagaan menghadapi dampak El Niño menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak hanya bekerja pada tahap respons, tetapi juga pencegahan.

Langkah Jusuf Kalla selaku Ketua PMI Pusat menyiapkan 200  mobil tangki air, memperkuat kesiapsiagaan daerah rawan kekeringan, dan mengembangkan mitigasi risiko memperlihatkan bahwa menyelamatkan kehidupan tidak selalu dimulai setelah korban berjatuhan. Tindakan kemanusiaan justru menemukan maknanya ketika mampu mencegah penderitaan terjadi.

Pesan inilah yang membuat lagu Bencana tetap hidup melampaui zamannya. Rhoma Irama mengajarkan bahwa air mata tidak pernah cukup. Penderitaan manusia harus melahirkan kesadaran, dan kesadaran harus melahirkan tindakan. Dalam era krisis iklim, ketika panas ekstrem, banjir, kekeringan, dan berbagai bencana datang semakin sering, yang dibutuhkan bukan sekadar rasa iba, melainkan keberanian untuk mengubah cara manusia memperlakukan sesama dan bumi yang menjadi rumah bersama. (*)