Kota Lama Jadi Magnet, Festival Kopi Dongkrak UMKM dan Hidupkan Ekonomi Kreatif Surabaya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dan Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 di halaman Gedung Internatio, Kawasan Kota Lama Surabaya, Jumat (3/7) malam
Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dan Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026 di halaman Gedung Internatio, Kawasan Kota Lama Surabaya, Jumat (3/7) malam

Surabaya, JatimUPdate.id – Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan alunan musik dan riuh percakapan pengunjung memenuhi halaman Gedung Internatio, Kawasan Kota Lama Surabaya, Jumat (3/7) malam. Ratusan pengunjung tampak antusias menyusuri deretan stan UMKM dalam Festival Inovasi Produk Daya Tarik Wisata dan Pameran Kopi dan Ekonomi Kreatif 2026, sebuah agenda yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal.

Festival yang berlangsung selama dua hari, 2–3 Juli 2026, menjadi bukti bahwa sektor pariwisata mampu berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi kreatif. Di tengah bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang menjadi ikon Kota Lama, puluhan pelaku UMKM memamerkan produk terbaik mereka kepada masyarakat.

Sebanyak 20 tenant dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik memenuhi area pameran dengan beragam produk unggulan. Tidak hanya kopi dari berbagai daerah di Indonesia, pengunjung juga disuguhi cokelat, teh, makanan olahan, kebab, hingga aneka camilan khas yang menggugah selera.

Sejak sore hingga malam, arus pengunjung nyaris tidak berhenti. Sebagian menikmati secangkir kopi sambil mendengarkan musik, sebagian lainnya berburu berbagai olahan makanan dan berdiskusi langsung dengan para pelaku usaha mengenai proses produksi hingga kisah di balik lahirnya produk-produk lokal tersebut.

Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Ali Afandi, yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, mengatakan festival ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat hubungan antara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Menurutnya, penyelenggaraan berbagai event di destinasi wisata mampu menciptakan perputaran ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

"Festival ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya kita untuk mendorong bagaimana pariwisata yang digabungkan dengan event, dalam hal ini festival kopi, mampu mendorong berkembangnya ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Ali menjelaskan, pemerintah ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan pelaku UMKM dengan calon konsumen, investor, maupun sesama pelaku usaha sehingga terbuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Ia optimistis, apabila kegiatan semacam ini terus dilakukan secara konsisten, maka ekosistem ekonomi kreatif Jawa Timur akan semakin berkembang.

"Kami berharap kegiatan ini menjadi momen penting bagi para pelaku usaha untuk membangun komunikasi, memperluas jejaring, serta membuka peluang bisnis baru. Semangat kolaborasi inilah yang ingin terus kami tumbuhkan," katanya.

Ali juga mengajak masyarakat untuk ikut mendukung keberlangsungan UMKM dengan membeli produk-produk lokal yang dipamerkan. Menurutnya, setiap transaksi yang terjadi selama festival akan memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan usaha para pelaku UMKM.

Ia menambahkan, rangkaian promosi ekonomi kreatif akan berlanjut pada 10–12 Juli 2026 di Ciputra World Surabaya. Pemerintah berharap semakin banyak masyarakat yang hadir sehingga kesempatan promosi bagi UMKM semakin terbuka.

Tak lupa, Ali menyampaikan apresiasi kepada DPRD Provinsi Jawa Timur yang turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Di balik ramainya festival, tersimpan harapan besar para pelaku usaha kecil. Salah satunya datang dari Ponet, pemilik Vestkopling Street Coffee Surabaya. Pria yang sehari-hari berjualan di Jalan Darmo, tepatnya di depan Perpustakaan Bank Indonesia, mengaku festival ini menjadi kesempatan emas untuk memperkenalkan mereknya kepada masyarakat yang lebih luas.

Baginya, promosi menjadi kebutuhan utama bagi usaha kecil yang masih terus membangun pasar.

"Sangat membantu bagi UMKM seperti saya. Target saya memang memperkenalkan brand Vestkopling supaya semakin banyak orang mengenalnya," ungkap Ponet.

Ia berharap pemerintah terus menghadirkan kegiatan serupa dengan skala yang lebih besar dan lebih sering.

"Semoga acaranya terus berlanjut, semakin meriah, dan semakin banyak UMKM yang bisa ikut," katanya.

Pemilihan Kota Lama Surabaya sebagai lokasi festival juga bukan tanpa alasan. Kawasan heritage yang kini menjadi salah satu ikon wisata Surabaya itu terus dipadati wisatawan karena menawarkan pengalaman berbeda dibanding destinasi lain.

Selain menikmati bangunan-bangunan peninggalan kolonial yang telah direvitalisasi, wisatawan dapat berkeliling menggunakan mobil antik Toerwagen maupun jip wisata, menjelajahi empat zona tematik—Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu—hingga berburu spot foto bergaya vintage yang menjadi favorit kalangan muda.

Kondisi tersebut membuat Kota Lama menjadi panggung yang ideal bagi promosi produk-produk ekonomi kreatif. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati suasana bersejarah, tetapi juga mengenal dan membeli berbagai produk lokal hasil karya pelaku UMKM Jawa Timur.

Melalui festival ini, pemerintah ingin menunjukkan bahwa pariwisata bukan sekadar menghadirkan kunjungan wisatawan, melainkan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Ketika destinasi wisata, pelaku usaha, komunitas kreatif, dan pemerintah berjalan bersama, manfaatnya akan dirasakan lebih luas, mulai dari meningkatnya promosi produk lokal hingga terbukanya peluang usaha baru bagi masyarakat. (DPR)