Fakta Menarik Jelang Final Piala Dunia, Statistik Sejak 1994 Menguntungkan Argentina

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi, jatimupdate.id
Ilustrasi, jatimupdate.id

Catatan Redaksi– Menjelang final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina, muncul satu catatan statistik yang menarik perhatian pecinta sepak bola.

Sejak Piala Dunia 1994, tim yang mengalahkan calon peraih peringkat ketiga di semifinal hampir selalu berakhir sebagai juara dunia.

Dari delapan edisi Piala Dunia sejak 1994 hingga 2022, pola tersebut terjadi sebanyak tujuh kali. Hanya satu edisi yang mematahkan tren tersebut,  yakni Piala Dunia 2014 di Brasil.

Brasil menjadi contoh pertama pada 1994. Selecao mengalahkan Swedia di semifinal, sementara Swedia kemudian finis di posisi ketiga. Brasil akhirnya keluar sebagai juara dunia usai menundukkan Italia lewat adu penalti.

Empat tahun berselang, Prancis menyingkirkan Kroasia di semifinal sebelum mengangkat trofi juara. Pola serupa kembali terjadi pada 2002 ketika Brasil mengalahkan Turki, disusul Italia yang menyingkirkan Jerman pada 2006, serta Spanyol yang mengalahkan Jerman di semifinal Piala Dunia 2010.

Satu-satunya pengecualian terjadi pada Piala Dunia 2014. Argentina mengalahkan Belanda di semifinal, tetapi gagal menjadi juara setelah takluk 0-1 dari Jerman pada partai final.

Tren tersebut kembali berulang pada dua edisi berikutnya. Prancis mengalahkan Belgia di semifinal Piala Dunia 2018 sebelum menjadi juara, sedangkan Argentina mengalahkan Kroasia di semifinal Piala Dunia 2022 dan akhirnya mengangkat trofi di Qatar.

Catatan itu kini kembali mengarah kepada Argentina. Tim Tango melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Inggris di semifinal. 

Inggris kemudian menutup turnamen dengan merebut peringkat ketiga usai mengalahkan Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga. 

Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Argentina melawan Spanyol.

Kendati begitu, statistik tersebut hanyalah sebuah kebetulan historis yang menarik untuk disimak.

Hasil final tetap akan ditentukan oleh performa kedua tim di lapangan, bukan oleh tren yang pernah terjadi pada edisi-edisi sebelumnya.