Poros Tengah di Nahdlatul Ulama Muktamar NU ke 35 th. 

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh : Nonot Sukrasmono

Praktisi Budaya, pendidik, seniman dan Pembina LESBUMI PWNU JATIM.

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Gagasan poros tengah di Nahdlatul Ulama (NU) adalah sebuah konsep atau gerakan penengah yang diusulkan untuk meredam ketegangan dan polarisasi akibat kubu-kubuan di dalam struktur organisasi internal.

Istilah ini mengemuka dalam dinamika menjelang forum besar seperti Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU. 

Poros tengah dalam pemilihan ketua PBNU sangat penting untuk meredam polarisasi dan mencegah ketegangan antar-kubu.

Kehadiran poros ini berfungsi sebagai jembatan penyeimbang yang menjaga keutuhan organisasi, mendinginkan suasana, serta mengembalikan fokus warga Nahdliyin pada gagasan besar umat dan kemaslahatan bangsa di abad kedua. 

Urgensi Poros Tengah di Tubuh NU kenapa perlu karena dapat Meredam Polarisasi, mencegah timbulnya gesekan tajam akibat pendikotomian kelompok yang saling berhadapan, menghindari politik identitas internal yang bisa memecah belah keutuhan jam'iyyah (organisasi), dapat mencairkan ketegangan politik antar-pendukung kandidat di tingkat wilayah dan cabang.

Disamping itu poros tengah  diciptakan untuk menjaga Marwah Organisasi, mengalihkan fokus musyawarah dari sekadar perebutan kursi kekuasaan menuju adu gagasan program, Memastikan kepemimpinan PBNU lahir dari proses yang sejuk, bermartabat, dan demokratis, Mengedepankan nilai-nilai ukhuwah nahdliyyah di atas kepentingan golongan tertentu dan solusi pemimpin menyatukan, menampilkan figur alternatif yang diterima oleh berbagai lini dan latar belakang pesantren, serta menjadi jalan tengah agar PBNU tetap independen, kuat, serta fokus melayani umat.

Tujuan dan Fungsi Poros Tengah dibentuk adakah :

1. Berfungsi sebagai kekuatan netral yang mencegah organisasi jatuh ke dalam ekstremitas atau persaingan ketat antar-kubu yang saling berhadap-hadapan. 

2. Mengajak para pengurus wilayah (PWNU) dan pengurus cabang (PCNU) agar tidak terjebak dalam politik identitas kelompok atau intrik perebutan pengaruh yang memecah belah keutuhan jam'iyyah. 

3. Mengembalikan fokus organisasi pada akar tradisi pesantren, ukhuwah (persaudaraan), serta kepentingan kemaslahatan umat dibanding kepentingan faksi tertentu. 

 

Opini

Wartawan=Londo Ireng

  Oleh: Tarmuji Talmacsi Wakil Sekretaris PWI Jatim   Surabaya, JatimUPdate.id - Londo Ireng sedang viral, menjadi pemberitaan di media mainstream dan p