Cerita Pendek

Warkop Ekspektasi Bagian 4: Perempuan Bernama Raya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspektasi, Jatimupdate.id
Ilustrasi cerita pendek Warkop Ekspektasi, Jatimupdate.id

JatimUPdate.id - Nama itu membuat Bahar Khan terdiam, cangkir kopi yang sejak tadi berada di tangannya perlahan kembali diletakkan di atas meja. 

Uap kopi hitam masih mengepul, tetapi pikirannya sudah melayang jauh ke beberapa tahun silam, ketika nama yang sama pernah menjadi sumber perdebatan panjang antara dirinya dan Ayu Chen.

Shoe Lee Khan yang duduk di hadapannya sempat menangkap perubahan raut wajah sahabatnya itu.

"Kenapa? Kamu seperti mengenal orang yang aku maksud," tanyanya sambil memperhatikan Bahar Khan dengan saksama.

Bahar Khan tidak langsung menjawab. Ia menatap jalan raya yang mulai lengang sebelum akhirnya menghela napas panjang.

"Aku memang pernah mendengar nama itu. Bahkan, nama itu bukan lagi asing dalam hidupku," jawab Bahar Khan.

Shoe Lee Khan memandang serius wajah sahabatnya tersebut, ia mencoba menerka apa yang dipikirkannya.

"Kalau begitu dunia memang sempit. Aku kira hanya aku yang pernah bertemu dengannya," Bahar Khan diam sebentar, tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.

"Bukan begitu. Aku tidak mengenalnya secara dekat. Hanya saja, seseorang yang sangat dekat denganku pernah menjalin hubungan pertemanan dengannya," urai Bahar Khan.

Shoe Lee Khan memilih diam. Ia membiarkan Bahar Khan menyusun kembali ingatan yang sejak tadi berkelebat di benaknya.

Bahar Khan tidak pernah menyukai kedekatan Ayu Chen dengan Raya. Bukan karena mengenal perempuan itu secara pribadi. Namun, karena terlalu banyak cerita yang beredar tentangnya. 

Anehnya, setiap cerita selalu berbeda, tak ada yang benar-benar dapat dibuktikan, tetapi tak sedikit pula yang membuat Bahar Khan memilih menjaga jarak.

Baginya, tidak semua cerita layak dipercaya. Namun ketika nama seseorang berulang kali muncul dalam berbagai kisah yang saling bersinggungan, kewaspadaan menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Maka Bahar Khan beberapa kali pernah mengingatkan Ayu Chen agar lebih berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan. Sayangnya, nasihat itu tidak pernah benar-benar dianggap penting.

Ayu Chen justru beranggapan Bahar Khan terlalu mudah mempercayai penilaian orang lain.

"Setiap orang punya masa lalu dan punya lingkaran pergaulannya sendiri," kata Ayu Chen waktu itu. 

"Aku lebih memilih mengenal seseorang dari sikapnya kepadaku, bukan dari cerita yang beredar di luar sana. Selama ia tidak pernah berbuat buruk kepadaku, aku tidak punya alasan untuk menjauhinya," perkataan itu masih diingat Bahar Khan hingga malam ini.

Ia memahami maksud Ayu Chen. Namun di sisi lain, ia juga merasa seseorang tetap perlu berhati-hati sebelum menaruh kepercayaan kepada orang lain.

Perbedaan cara pandang itulah yang perlahan menciptakan jarak di antara mereka.

Bahar Khan tersadar dari lamunannya ketika Shoe Lee Khan kembali membuka pembicaraan.

"Kalau boleh tahu, kenapa kamu begitu terkejut saat mendengar nama Raya?" mendengar pertanyaan itu, Bahar Khan tersenyum tipis.

"Bukan terkejut. Hanya saja aku tidak menyangka namanya muncul lagi malam ini," tukas Bahar Khan.

"Lalu apa yang kamu ketahui tentang dia?" cecar Shoe Lee Khan, sambil lalu menyeruput kopinya, dan memperhatikan raut wajah sahabatnya.

"Tidak banyak. Justru karena tidak banyak itulah aku memilih menjaga jarak," papar Bahar Khan.

Shoe Lee Khan menganggukkan kepala, kemudian menyeruput kopinya kembali, ia tampak penasaran dengan sosok wanita tersebut. 

Lantas Shoe Lee Khan menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Raya, perjumpaan yang tak pernah direncanakan dan pikirkan sebelumnya.

"Aku pertama kali bertemu Raya di jalan tol, ban mobilnya pecah. Kebetulan aku sedang melintas dan berhenti membantu menggantinya. Setelah urusan selesai, dia mengajakku minum kopi di rest area, dari situlah kami saling mengenal," tutur Shoe Lee Khan.

Bahar Khan mendengarkan secara seksama tanpa memotong cerita temannya tersebut.

"Beberapa hari kemudian dia menghubungiku lagi, kami bertemu di Warkop Ekspektasi, aku sempat mengira hanya dia yang ingin berbincang, ternyata dia juga membawa beberapa rekannya," beber dia.

"Lalu?" tanya Bahar Khan.

"Dia bertanya banyak hal tentang usahaku, kuceritakan semuanya, termasuk kondisi usahaku yang sedang sulit. Setelah itu dia hanya tersenyum, mengatakan setiap usaha yang dijalankan dengan sungguh-sungguh layak mendapat kesempatan untuk bertahan," Shoe Lee Khan berhenti sejenak. Tangannya meraih cangkir kopi.

"Beberapa hari sesudah pertemuan itu, ia datang menemuiku, membawa bantuan modal usaha. Tidak besar, tetapi cukup membuat usahaku kembali berjalan, sampai sekarang aku tidak pernah lagi bertemu Raya," Shoe Lee Khan menyudahi cerita, kemudian menyulut rokoknya kembali.

Bahar Khan mengangguk pelan, ia tidak memberikan tanggapan. Kendati begitu cerita itu justru membuat pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan.

Pada saat itulah telepon genggam di dalam saku celananya bergetar, ia mengeluarkannya perlahan, di layar tertera nama Ayu Chen.

Panggilan itu dibiarkannya beberapa saat hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya. Namun, tak lama kemudian telepon kembali berdering.

Shoe Lee Khan yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum kecil.

"Itu Ayu, ya?" Bahar Khan mengangguk.

"Kenapa tidak kamu angkat? Barangkali dia sedang mengkhawatirkanmu," Bahar Khan untuk saat ini tidak menggubris ucapan temannya. 

Bahar Khan cuma memandang layar telepon beberapa saat sebelum mematikan nada deringnya.

"Biarlah, mungkin malam ini kami sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran. Kalau dipaksakan berbicara, aku khawatir bukan menemukan solusi, melainkan emosi," kata Bahar Khan.

Shoe Lee Khan merespons positif, tidak membantah, sebab ia mengenal Ayu Chen sejak duduk di bangku sekolah menengah.

Bahkan ketika kuliah, mereka masih sering berada dalam lingkungan yang sama. Ia tahu, perempuan itu memiliki pendirian yang kuat, sekali meyakini sesuatu, tidak mudah mengubah pikirannya.

"Kalau begitu, beri dia waktu, kadang orang baru bisa melihat persoalan dengan jernih setelah emosinya mereda. Begitu juga kita." ujar Shoe Lee Khan pelan.

Bahar Khan menganggukkan kepala, ia percaya nasihat itu, namun entah mengapa, sejak nama Raya kembali muncul malam itu, ada perasaan yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah sebuah pintu yang selama ini tertutup rapat perlahan mulai terbuka. Dan ia belum tahu, apa yang sedang menunggunya di balik pintu tersebut.