Catatan Mas AAS

Aku Tidak Pandai Bercerita

oleh : -
Aku Tidak Pandai Bercerita

"Semua orang akan mati kecuali karyanya. Maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan di akhirat kelak!" (Ali Bin Abi Thalib)


Menjadi pencerita tepatnya pendongeng secara verbal, adalah soft skill yang tak mudah dimiliki oleh setiap orang. Apalagi cerita itu disampaikan melalui sebuah tulisan.

Kalau menyebut orang atau penulis yang piawai melakukan itu, mendongeng dengan aksara yang ia buat. Bisa jadi bisa sebut banyak nama: AS Laksana terkenal dengan panggilan Kang Sulak, Eyang Ahmad Tohari, Eyang Kuntowijoyo, dan lain lainnya. Nama-nama di atas adalah para penulis dewa untuk mampu bercerita secara biasa-biasa saja dengan akibat juga dampak yang tidak biasa-biasa saja bagi setiap pembaca tulisan-tulisan mereka!

Sore ini suasana di kota pahlawan, laksana keadaan di desa dimana penulis tinggal saja. Di lereng gunung Merapi-Merbabu Klaten.

Terlihat tukang ojek sudah bersiap pulang ke rumah menemui anak juga istrinya setelah seharian ia bekerja. Pekerja pabrik di Sampoerna di Rungkut demikian juga.

Peristiwa yang sama dalam lakon dan profesi yang berbeda terjadi juga. Saat penulis memanggil waktu yang sudah berjalan. Waktu sore seperti ini, penulis melihat Mbah Siswo membawa pacul, arit, dan bertopi caping, jalan pelan menyusuri galengan dan tampak berjalan pelan di ujung masuk kampung! Dan Lik Hardi, sudah bersiap kulakan tempe naik sepeda kebo nya ambil dari kampung sebelah. Tempe itu esok pagi mau dijual di Pasar Gringging oleh istrinya. Keduanya telah bertahun-tahun lamanya tak pernah berganti profesi, meski anak-anaknya sudah pada jadi orang di tanah rantau. Mbah Siswo dan Lik Hardi, tetap jadi petani menggauli sawah dan merawatnya, serta kulakan tempe. Tak pernah ditambah kulakan lainnya, semacam tahu gitu, sekali-kali tidak. "Mpun cekap meniko, mawon mas Andi!"

Bercerita soal Mbah Siswo dan Lik Hardi. Aku seakan mendengar seorang Profesor di kelas doktoral. Membahas sebuah ketekunan, dan loyalitas dalam menjalani profesi dan mencintai produk sepenuh hati, lalu branding itu ada, dibangun dari kerja-kerja yang tekun dalam waktu yang lama!

Anak-anak kecil di kampung yang masih sekolah di TK dan di SD pun pada kenal sekali. Kenal Mbah Siswo sebagai petani yang rajin, dan Lik Hardi sebagai penjual tempe yang tekun, di kampung kami. Mereka sampai bisa gambarkan bentuk pacul, arit, dan topi caping yang dipakai Mbah Siswo. Dan sepeda onthel kebo yang biasa dinaiki oleh Lik Hardi!

Dan, aku sadar juga paham. Cara aku bercerita soal Mbah Siswo dan Lik Hardi ini. Garing, masih kurang renyah, hidup, sampai membuat perasaan Anda terlibat, dan jadi ingat kampung halaman Anda sendiri. Sekali-kali, belum di level itu, kemampuan saya bercerita.

Tapi, biarlah. Anda jangan berhenti untuk terus membaca, tulisan-tulisan kecil, yang berisi cerita-cerita kecil juga dariku. Karena cuaca dan suasana sore ini, di emper rumah, yang mengajakku untuk memanggil memori lawas yang pernah terjadi dan aku lihat! Yaitu memori soal Mbah Siswo dan Lik Hardi, dan soal gambar matahari yang mau hilang tenggelam di balik bukit. Oh indahnya kejadian itu. Ternyata kono kene podo bae, podo bae!