Warkop Cak Man, Rungkut, Surabaya, 9 Agustus 2026
Ritus Jeda: Menemukan Wajah Ayah dalam Secangkir Kopi
Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua umum DPD Afebsi Jawa Timur, Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Surabaya, JatimUPdate.id - Mentari baru saja menyeka embun ketika "kuda terbang tua" itu menepi. Di sebuah warkop milik Cak Man, mesin diistirahatkan, namun pikiran mulai mengembara.
Di sela kepul asap kretek, sebuah jeda tercipta—bukan untuk berhenti bekerja, melainkan untuk memberi ruang bagi jiwa yang seringkali tertimbun target dan angka.
Semesta kemudian mengirimkan seorang utusan: lelaki tua dengan langkah yang hati-hati menjaga keseimbangan.
Tangan yang keriput itu memesan kopi susu. Dengan gerak yang jatmika, ia mencampur tahu dengan petis. Sederhana, namun ada keheningan yang magis di sana. Seketika, jempol saya bergerak mematikan aplikasi Grab.
Notifikasi orderan harus mengalah pagi ini. Ada sesuatu yang lebih mendesak untuk disimak daripada sekadar uang: sebuah cermin kehidupan.
Melihat lelaki itu merogoh tas tuanya, ingatan saya melompat jauh melintasi waktu. Di sana, di balik kepul asap yang sama, perlahan muncul wajah Ayah dan Ibu.
Barangkali, lelaki tua ini adalah "surat" dari semesta yang mengingatkan kita semua: bahwa di dalam tubuh renta yang kita temui di jalanan, ada jejak pengabdian seorang orang tua yang tak pernah lunas kita balas.
Bagi Anda yang orang tuanya masih sugeng, mungkin pagi ini adalah waktu paling sakral untuk sekadar menyapa. Tidak perlu retorika panjang. Cukup tanya, "Sudah sarapan, Mak?" atau "Sehat, nggih, Pak?" Karena sejatinya, bagi mereka, suara anak adalah melodi yang lebih merdu daripada musik manapun. Namun, bagi Anda yang orang tuanya sudah kondur ke haribaan Tuhan, kirimkanlah doa terbaik sebagai jembatan rindu. Sebab, cinta kepada orang tua adalah satu-satunya bentuk ibadah yang tidak mengenal kata purna, meski raga tak lagi bisa dipeluk.
Kita sering terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa bahwa orang tua kita sedang berkejaran dengan usia. Kita kerap merasa menjadi pahlawan di jalanan, padahal kita hanyalah anak-anak yang tumbuh di atas keringat dan doa-doa sunyi mereka di sepertiga malam.
Lelaki tua itu bangkit, menyimpan sisa uangnya, lalu berujar lirih, "Maturnuwun, Nak."
Hanya dua kata, namun getarannya tinggal lebih lama di dada daripada bunyi notifikasi pesanan yang sesaat kemudian masuk. Roda kembali berputar. Tujuan berikutnya adalah Stasiun Bungurasih. Namun, pagi ini saya berangkat dengan hati yang berbeda. Sebelum mengantar orang lain menuju tujuannya, lelaki tua itu telah lebih dulu mengantar saya "pulang" kepada ingatan tentang asal-usul.
Jeda bukan berarti berhenti. Jeda adalah cara kita menyadari kehidupan yang selama ini terlalu berisik untuk kita dengarkan. Maka, selagi kursi itu belum kosong, selagi kopi itu masih bisa dibuatkan, dan selagi suara itu masih bisa menjawab salammu—pulanglah, meski hanya lewat suara di telepon.
Sebab kelak, yang tersisa hanyalah kursi kayu yang kosong dan ingatan yang tak bisa lagi kita peluk.
Editor : Redaksi