Menjinakkan Jalanan Surabaya  : Saat Kota Pahlawan Merajut Masa Depan Anak

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Oleh: Didi Adhiyaksa

Sekretaris Komnas Anak Milenial Surabaya & Public Speaker

 

Kota Surabaya, JatimUPdate.id -​Surabaya belakangan ini menyunggingkan senyum lega.

Udara malam yang sebelumnya kerap dicengkeram kecemasan akan sabetan senjata tajam atau raungan knalpot brong, kini berangsur lebih teduh.

Sebuah kabar baik hadir membakar optimisme kita: sepanjang periode 2025 hingga pertengahan 2026, angka kenakalan anak dan remaja di Kota Pahlawan tercatat menurun drastis.

​Tak tanggung-tanggung, penurunan tersebut diperkirakan mencapai 80 persen. Jika sebelumnya tercatat sekitar 450 kasus kenakalan remaja, kini angka tersebut berhasil ditekan hingga di bawah 100 kasus.
​Penurunan ini bukan sekadar statistik kaku di atas kertas, melainkan bukti nyata dari selamatnya ratusan generasi muda kita dari jurang kehancuran. Kasus-kasus menonjol yang dulunya menghiasi layar kaca dan media sosial—seperti fenomena gangster dan tawuran bersenjata tajam, aksi balap liar tengah malam, perundungan (bullying) di lingkungan anak, konsumsi minuman keras, hingga pelanggaran jam malam—kini mengalami degradasi yang sangat signifikan.

Peran Nyata Komnas Perlindungan Anak Surabaya


​Capaian manis ini tentu tidak terjadi secara kebetulan. Ini adalah buah manis dari kolaborasi lintas sektor yang konsisten. Komnas Perlindungan Anak (KPA) Surabaya secara aktif mengambil peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga mental dan keselamatan anak-anak Surabaya.

​Beberapa aksi nyata dan langkah preventif-edukatif yang telah dijalankan antara lain:
​Patroli Edukatif & Pembinaan Terpadu. Bersama Satpol PP dan kepolisian, KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK Surabaya tidak hanya ikut menjangkau remaja yang terjaring razia jam malam, tetapi memberikan pendampingan psikologis, konseling keluarga, serta mediasi edukatif agar mereka tidak kembali ke jalanan.

​Edukasi & Advokasi Anti-Bullying ke Sekolah: Menggelar program walk-in dan sosialisasi masif di sekolah-sekolah untuk membangun kesadaran bahaya bullying, baik secara fisik maupun cyberbullying, serta membentuk agen perubahan di level pelajar.
​Pemberdayaan & Ruang Ekspresi Positif: Merangkul komunitas anak muda dan menyediakan wadah penampungan bakat—seperti pelatihan minat-bakat, public speaking, dan kegiatan kreatif—sehingga energi besar para remaja dialihkan ke hal-hal yang konstruktif ketimbang aksi balap liar atau tawuran.

​Harapan ke Depan

​Penurunan hingga 80 persen ini adalah prestasi besar, namun bukan alasan bagi kita untuk berpuas diri apalagi lengah.

Selama masih ada satu anak yang terjerumus dalam tindak kekerasan atau kenakalan di jalanan, tugas kita belum selesai.

​Harapan kami di Komnas Perlindungan Anak:
​Penguatan Peran Keluarga: Keluarga adalah benteng utama.

Orang tua diharapkan lebih peka terhadap dinamika psikologis anak, membangun komunikasi dua arah, dan memastikan anak merasa dicintai di rumah agar tidak mencari keramaian yang salah di luar sana.

​Konsistensi Kolaborasi: Sinergi antara pemerintah kota, aparat kepolisian, lembaga perlindungan anak, dan pihak sekolah harus terus diperketat, bukan hanya saat angka kasus naik, tetapi secara berkelanjutan.

​Ruang Tumbuh yang Ramah Anak: Surabaya harus terus memperbanyak fasilitas publik yang aman, program kepemudaan yang relevan dengan Gen Z, Milenial, Gen Alpha, & Gen Beta, serta akses pendampingan mental yang mudah dijangkau oleh remaja.

​Mari kita jaga bersama tren positif ini. Karena menyelamatkan satu anak hari ini berarti menyelamatkan masa depan Kota Surabaya di masa depan.