Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 16/08/2026

Krisis Demografi, Pekerja Migran Muslim dan Islamisasi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

 

 

Oleh Abdul Rohman Sukardi

Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

 


Jakarta, JatimUPdate.id - Dunia sedang memasuki perubahan demografi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak negara maju menghadapi fertilitas rendah, populasi menua, dan kekurangan tenaga kerja. 

OECD menyebut penuaan penduduk sebagai salah satu penyebab utama pergeseran dari era job shortage menuju labour shortage. Karena itu, migrasi semakin menjadi bagian dari solusi ekonomi.

Di sisi lain, banyak negara mayoritas Muslim masih memiliki struktur penduduk relatif muda. Secara global, perempuan Muslim pada periode 2015–2020 rata-rata memiliki sekitar 2,9 anak, dibanding 2,2 pada perempuan non-Muslim. 

Struktur usia yang lebih muda dan fertilitas yang lebih tinggi menjadi dua faktor utama pertumbuhan populasi Muslim.

Pertemuan dua arus demografi ini membuka kemungkinan yang menarik. Pekerja dari Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Maroko, Turki, Tunisia, dan negara Muslim lainnya semakin hadir di negara-negara yang menghadapi penuaan dan kekurangan tenaga kerja. 

Jika migrasi itu berkembang dari sekadar pekerja sementara menjadi migrasi keluarga dan menetap, dampaknya bukan hanya menambah tenaga kerja hari ini. Tetapi juga menambah kelahiran dan generasi baru.

Data OECD menunjukkan bahwa pada 2019, fertilitas perempuan imigran di Uni Eropa mencapai sekitar 2,02 anak per perempuan, dibanding 1,44 pada perempuan kelahiran lokal. 

Artinya, migrasi keluarga dapat memberi efek ganda. Mengisi kekurangan pekerja sekaligus menambah kelahiran.

Dalam demografi, fenomena ini berkaitan dengan population momentum (Nathan Keyfitz, 1971). Ialah struktur usia yang terbentuk dari fertilitas masa lalu dapat mempertahankan pertumbuhan selama beberapa dekade. 

Pada migrasi keluarga, logikanya serupa. Pekerja muda bukan hanya mengisi pekerjaan hari ini, tetapi dapat membentuk keluarga dan melahirkan generasi berikutnya.

Eropa telah memberikan contoh. Antara 2010 dan 2020, populasi Muslim Eropa tumbuh, didorong oleh kombinasi migrasi, struktur usia yang lebih muda, dan fertilitas yang lebih tinggi. 

Pew menemukan bahwa pada 2010–2016 saja, migrasi menjadi faktor terbesar pertumbuhan populasi Muslim Eropa. Kelahiran yang melampaui kematian juga memberikan kontribusi besar.

Di sinilah kita dapat melihat sebuah kemungkinan lebih luas. Perubahan demografi dapat memperluas kehadiran Islam tanpa paksaan, tanpa perang, dan tanpa ketegangan. 

Kehadiran Islam bukan melalui penaklukan. Melainkan melalui manusia yang berpindah, bekerja, menikah, membesarkan anak, dan menjadi bagian dari masyarakat baru.

Bagi seorang Muslim, barangkali inilah pelajaran moralnya. Dakwah tidak harus selalu dipahami sebagai sesuatu yang dipaksakan kepada orang lain. Islam sendiri mengajarkan: tidak ada paksaan dalam agama”.

Kehadiran Islam dapat tumbuh melalui keluarga, keteladanan, kehidupan sosial, dan perpindahan manusia yang berlangsung secara sukarela.

Demografi bukanlah strategi dakwah. Ia adalah proses alamiah. Tetapi dalam proses alamiah itu, Allah Swt dapat membuka jalan yang tidak pernah dirancang manusia.

Tanpa paksaan. Tanpa perang. Tanpa permusuhan. Hanya manusia yang berpindah karena tuntutan kebutuhan tenaga kerja. Mereka hidup, berkeluarga, dan membawa keyakinannya bersama mereka.


Jakarta, ARS ([email protected]).