Catatan Mas AAS

Tidak ada sepak bola yang seharga nyawa

oleh : -
Tidak ada sepak bola yang seharga nyawa
Tragedi Kanjuruhan

 

jika sepakbola lebih berharga dari nyawa, sebaiknya tidak perlu ada sepakbola di negeri ini!


Terus aku kudu piye? Berada di rumah sakit saja sampai hari ini aku masih trauma. Apalagi yang di rumah sakit itu orang-orang tercinta. Karena kejadian yang terjadi berurutan menerpa orang-orang terdekat. Saat pandemik Covid 19 kemarin. Aku sekarang tidak bisa mengajak tiga saudaraku itu berjalan-jalan keliling Jogja, Solo, dan Semarang, buat pulang ke kampung halaman, untuk mentraktir healing dan makan-makan _kelangenan_!

Terus semalam, 100-an anak-anak muda dan pemuda itu tewas, diterpa *tragedi* hebat yang terjadi di lapangan Kanjuruhan Malang! Pertandingan sepakbola itu berakhir jadi tangisan tak berkesudahan. Bagi siapa? Tentu bagi orang tua, saudara, tetangga, teman sekolah, guru, dan orang-orang terdekat dari anak-anak manusia yang berpulang ke Tuhan terlalu cepat itu! Meski semua itu sudah ketentuanNya.

Si Ridwan, Joko, Adi, Ibu Yeti, Pak Kadri. Meski saja bukan nama sebenarnya. Tapi fakta ada puluhan, ratusan lebih manusia tengah berjuang hebat, menunggu ingin segera keluar dari lapangan dimana tragedi itu terjadi, sebelum menjadi nyawa yang sudah tak bertuan lagi hanya tinggal nama disebut almarhum-almarhumah. Aslinya mereka para korban ingin segera pulang bertemu orang tua, kerabat tercintanya. Tapi apa daya banyak anak manusia itu hanya bisa merintih, langit terasa gelap, nafas tersengal-sengal, mata perih, sedikit kesadaran yang masih ada mereka mungkin bersuara dalam lirih," bapak, ibu, tolong aku, anakmu ini sedang menderita, aku masih ingin hidup, tidak mau mati sia-sia di sini!" Mencoba membayangkan pasti ada sedikit dari korban malapetaka gas air mata itu, mengiba dengan amat sangat kepada keadaan yang tengah dialaminya, dan ingin keluar dari kejadian dan peristiwa laknat yang tengah menerpanya di lapangan sepakbola Kanjuruhan Malang, semalam!

Dan pagi ini tragedi semalam di lapangan sepak bola itu menjadi viral sejagat! Tidak hanya di Indonesia, juga di dunia! Sayang bukan sebuah peristiwa prestasi yang meledak menjadi berita yang harumkan nama ibu pertiwi, namun hanya sebuah peristiwa kekonyolan akut!

Kok bisa? Kenapa terjadi? Salah siapa? Dan terjadilah kebiasaan lawas masyarakat di negeri ini : saling tunjuk sana-sini, saling susul bergantian, terus menerus, tak berkesudahan membanjiri laman media sosial! Aku juga sedih, bingung, seakan tidak percaya peristiwa itu terjadi! Lebih bingung lagi watak warga dari negeri tercinta ini juga tak beralih bergeser ke kanan sedikit. Paling ironis, ini kejadian dimaknai menjadi topik lainnya: pengalihan, ini peristiwa seminggu lagi juga hilang, digantikan peristiwa lain yang lebih besar. Entah, aku harus bagaimana???

Tidak ada sepakbola yang seharga nyawa! Terus anakku meninggal, terus kawan mainku sehari-hari dikampung juga meninggal, terus teman kerjaku yang setiap hari kerja ngojek online juga ikut jadi korban yang meninggal, terus ayahku meninggal, terus, dan terus siapa lagi yang meninggal, dari ratusan orang itu? Pasti mereka punya nama, keluarga, dan status juga profesi!

Terus aku mau menyalahkan siapa? Presiden, Menteri olahraga, PSSI, Gubernur, Bupati, Kapolri, Kapolda, Kapolres, Panitia. Aku sudah tak sempat lagi bisa ngomong dan angkat jari telunjukku kuat-kuat menunjuk ke mata mereka. Karena melihat bapak dan ibu pejabat di negeri ini, sudah terlalu lama hati ini beku dan juga jiwa ini hambar melihat tingkah dan polah mereka! Karena terlalu banyak kisah mereka yang susah untuk dijadikan contoh dan teladan apalagi kebanggan bagi setiap anak bangsa!

Hari ini aku hanya rindu ingin bertemu anakku, ayahku, dan teman sepermainan ku! Kata, orang tua korban, kata saudara korban, kata teman-teman korban, dari tragedi yang terjadi semalam!

Meski berat, aku hanya bisa berkata, _inalilahi waina ilaihi rojiun_. Teruntuk seluruh para korban yang meninggal, pada kejadian di lapangan Sepakbola Kanjuruhan Malang, semalam, amin yra.