Kampus Inklusif: Dari Prestasi Menuju Kebermanfaatan
Oleh: Machsus, Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
JatimUPdate.id - Kampus hari ini hidup dalam perlombaan. Ranking dikejar. Akreditasi diperkuat. Publikasi diperbanyak. Paten, reputasi internasional, jejaring global, hingga berbagai indikator kinerja terus ditingkatkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kampus memang harus maju. Bahkan, kampus yang berhenti berprestasi sesungguhnya sedang berjalan mundur.
Namun, pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah setelah semua prestasi itu diraih, lalu untuk siapa? Pertanyaan sederhana ini mengajak kita melihat kembali makna kesuksesan. Sebab keberhasilan tidak sepenuhnya lahir dari apa yang kita capai. Ada dimensi lain yang sering terlupakan, yakni apa yang kita terima. Dengan demikian, kesuksesan barangkali lebih tepat dibaca bukan hanya sebagai achievement atau capaian saja, melainkan juga sebagai gift yaitu pemberian sekaligus amanah.
Refleksi ini mengemuka dalam tausiyah Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab, M.Sc., Guru Besar Jurusan Teknik Mesin ITS, pada peresmian Gedung BSI KCP Surabaya ITS, Kamis, 20 Agustus 2026. Tulisan ini banyak terinspirasi dari tausiyah beliau tentang kesuksesan, syukur, kerendahan hati, dan kebermanfaatan atau keberdampakan.
Menariknya, tausiyah itu disampaikan ketika sebuah gedung baru diresmikan. Gedung adalah simbol pertumbuhan fisik. Tetapi pesan yang muncul justru mengajak kita melampaui yang fisik, yakni untuk apa semua pertumbuhan fisik itu? Di sinilah gagasan kampus inklusif memperoleh makna kontekstualnya.
Kesuksesan Bukan Sekadar Prestasi
Manusia mudah merasa menjadi pemilik kesuksesan. Saya belajar, maka saya pintar. Saya bekerja keras, maka saya berhasil. Benarkah sesederhana itu? Prof. Abdullah Shahab menggunakan metafora sederhana berupa selembar kertas tisu. Ketika kertas kita lipat, kita mengatakan, “Saya yang melipatnya.” Tetapi cobalah tangan yang sama digunakan untuk melipat kotak tisu yang keras. Tidak akan menghasilkan lipatan yang sama.
Mengapa? Karena kertas sudah memiliki potensi intrinsik untuk bisa dilipat. Tangan kita hanyalah melakukan aktualisasi terakhir atas potensi yang telah tersedia. Begitu pula manusia. Kita belajar, tetapi kita tidak menciptakan otak yang memungkinkan kita belajar. Kita bekerja, tetapi kita tidak menciptakan kesehatan yang memungkinkan kita bekerja. Kesadaran semacam ini seharusnya melahirkan kerendahan hati bahwa semakin banyak yang dicapai, semakin sadar betapa banyak yang sesungguhnya kita terima.
Logika yang sama berlaku bagi perguruan tinggi. Prestasi kampus tidak lahir sendirian. Ada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, alumni, pemerintah, industri, masyarakat, dan berbagai mitra yang membentuk ekosistemnya. Lantaran itu, ranking, akreditasi, publikasi, dan reputasi internasional tetap penting, tetapi semua itu bukanlah titik akhir. They are instruments, not the ultimate goal. Pertanyaan sesungguhnya bukan lagi, seberapa tinggi kampus kita berada?, tetapi berapa banyak orang yang ikut terangkat karena kampus kita?
Mengubah Syukur Menjadi Akses
Jika keberhasilan adalah pemberian, responsnya adalah syukur. Tetapi syukur yang berhenti pada ucapan sesungguhnya belum selesai. Dalam refleksi Prof. Abdullah Shahab, syukur menemukan maknanya ketika pemberian berubah menjadi amal dan kontribusi. Ilmu yang disyukuri harus menghasilkan manfaat atau berdampak. Kekuasaan yang disyukuri harus memudahkan orang lain. Harta yang disyukuri harus membuka kesempatan. Di sinilah kampus inklusif menemukan landasan filosofisnya.
Kampus mensyukuri ilmu dengan memperluas akses pendidikan. Kampus mensyukuri fasilitas dengan memastikan semakin banyak orang dapat memanfaatkannya. Kampus mensyukuri teknologi dengan membawanya keluar dari laboratorium untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Sejatinya, inklusivitas bukan semata menyediakan ramp bagi penyandang disabilitas, meskipun itu mutlak diperlukan. Inklusivitas juga berarti membuka kesempatan bagi mahasiswa kurang mampu, mereka yang berasal dari daerah tertinggal, kelompok dengan keterbatasan akses digital, hingga masyarakat yang selama ini jauh dari pusat-pusat pengetahuan. Kampus inklusif bukan kampus yang menurunkan standar. Justru ia mempertahankan keunggulan sambil menyediakan jalan yang lebih berkeadilan untuk mencapainya.
Semangat yang sama relevan dengan Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition). Bagi ITS, program menuju World Class University (WCU) semestinya tidak berhenti pada peningkatan reputasi dan pengakuan global. Kualitas pendidikan, internasionalisasi, dan rekognisi harus bermuara pada dampak yang semakin luas. Menjadi kelas dunia bukan hanya tentang semakin dikenal dunia, tetapi juga tentang semakin memberi manfaat bagi dunia.
Dalam perspektif ini, hadirnya BSI KCP Surabaya ITS di kawasan komersial Kampus ITS dapat dimaknai sebagai bagian dari penguatan ekosistem kampus. Bukan semata gedung perbankan, tetapi tambahan akses layanan yang mempertemukan kampus, dunia usaha, dan masyarakat. Gagasan tersebut sekaligus bersentuhan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) diantaranya: pendidikan berkualitas pada SDG 4, pertumbuhan ekonomi pada SDG 8, pengurangan kesenjangan pada SDG 10, komunitas berkelanjutan pada SDG 11, dan kemitraan pada SDG 17. Tetapi SDGs jangan berhenti menjadi logo warna-warni dalam laporan. SDGs harus turun dari dokumen menjadi tindakan. Tegasnya, From statement to movement. From indicator to impact.
Menuju Kampus Berdampak
Pada akhirnya, ada pertanyaan yang lebih penting daripada jumlah gedung, publikasi, paten, atau posisi ranking adalah apakah kehadiran kampus membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik? Filosofi kebermanfaatan atau keberdampakan yang disampaikan Prof. Abdullah Shahab sederhana tetapi dalam, yakni ukuran eksistensi bukanlah seberapa tinggi kedudukan kita, melainkan seberapa besar manfaat kehadiran kita.
Kampus boleh memiliki gedung modern, laboratorium canggih, profesor bereputasi internasional, dan ribuan publikasi. Tetapi ilmu harus turun dari jurnal menuju kehidupan. Teknologi harus bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Pendidikan harus membuka mobilitas sosial. Riset harus menjawab persoalan bangsa. Lantaran itu, kampus inklusif bukan sekadar agenda sosial. Ia adalah konsekuensi moral dari kampus yang berprestasi.
Kita tentu tetap membutuhkan kampus juara. Perguruan tinggi Indonesia harus diperhitungkan dunia. Ranking harus naik, riset harus semakin berkualitas, inovasi harus semakin kuat. Tetapi setelah semuanya tercapai, kita perlu kembali kepada pertanyaan awal, yakni untuk siapa? Selanjutnya, selain bertanya berapa ranking kita, berapa publikasi kita, atau berapa prestasi kita, tambahkan satu pertanyaan yang lebih hakiki adalah berapa banyak manusia yang kehidupannya menjadi lebih baik karena kampus kita?
Dalam spirit itulah peresmian Gedung BSI KCP Surabaya ITS memperoleh makna yang lebih luas. Bukan sekadar dibukanya satu gedung baru, tetapi dibukanya satu pintu akses baru. Bukan sekadar bertambah layanan, tetapi bertambah peluang keberdampakan. Sebab kampus terbaik bukan hanya kampus yang mampu membawa dirinya naik semakin tinggi. Kampus terbaik adalah kampus yang ketika naik, membawa semakin banyak orang ikut naik bersamanya. Itulah hakikat kampus inklusif, yakni perjalanan dari prestasi menuju kebermanfaatan.
Editor : Redaksi