Di Depan DPRD Bangka Barat, Indah Purwaningsih Ungkap Rahasia Bank Sampah Kumpul Mutiara Bertahan
Bogor, JatimUPdate.id - Direktur Bank Sampah Kumpul Mutiara, Indah Purwaningsih, mengungkap perjalanan komunitasnya dalam mengelola sampah berbasis lingkungan hingga mampu bertahan selama empat tahun dengan mengandalkan semangat dan kerja sukarela para pengurus.
Hal tersebut disampaikan Indah saat menerima kunjungan Komisi III DPRD Kabupaten Bangka Barat di Sekretariat Bank Sampah Kumpul Mutiara, Bogor, Jumat (28/8/2026).
Indah menyambut baik kunjungan tersebut dan berharap pertemuan itu menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan.
"Kami hari ini sangat-sangat merasa tersanjung, bahkan bangga atas kunjungan bapak-bapak dan ibu-ibu dewan yang terhormat ke tempat kami, Bank Sampah Unit Kumpul Mutiara," ujar Indah.
Menurut Indah, Bank Sampah Kumpul Mutiara masih terus berproses dan belum sempurna. Namun, sejak berdiri sekitar empat tahun lalu, jumlah pengurus terus bertambah.
Awalnya, bank sampah tersebut hanya dijalankan sekitar empat hingga lima orang. Kini terdapat 12 pengurus yang seluruhnya bekerja secara sukarela tanpa menerima gaji.
"Kami baru berdiri empat tahun yang lalu, dengan personel yang awalnya empat-lima orang, tapi alhamdulillah sekarang menjadi 12 pengurus, yang semuanya itu bekerja sukarela, tanpa digaji sepeser pun," ungkapnya.
Jangkauan Pengelolaan Sampah Terus Meluas
Indah menjelaskan, Bank Sampah Kumpul Mutiara awalnya hanya bergerak di lingkungan RT 02. Seiring waktu, kegiatan pengelolaan sampah diperluas ke sejumlah RT di RW 11.
Saat ini, pengelolaan telah menjangkau RT 01 hingga RT 06 di RW 11. Mereka juga mulai mengajak warga di lingkungan RW 12 untuk melakukan pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.
Menurut Indah, pendekatan tersebut dilakukan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk memilah sampah sebelum dibuang.
"Kami sudah mulai nyolek-nyolek di RT tetangga. Alhamdulillah RW 12 sudah kami dekati dan baru satu RT yang sudah kami rangkul. Mereka sudah mau dan berkomitmen untuk memilah sampahnya dan mengelola sampahnya sendiri," jelasnya.
Bank Sampah Kumpul Mutiara mengelola sampah organik maupun anorganik. Dari pengolahan sampah organik, komunitas tersebut bahkan telah mampu memproduksi pupuk cair dan pupuk padat.
Pengurus Masih Sukarela, Nasabah Capai 68 Orang
Indah mengatakan perkembangan bank sampah juga terlihat dari bertambahnya jumlah nasabah. Saat ini terdapat 68 nasabah yang mengikuti kegiatan pengelolaan sampah.
Ia mengakui, pada masa awal kegiatan, para pengurus bahkan masih mengandalkan bantuan donatur ketika melakukan penimbangan dan pemilahan sampah dari pagi hingga sore.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Selisih hasil penimbangan sampah dapat memberikan sedikit pemasukan bagi pengurus sekaligus mendukung operasional kegiatan.
"Yang awalnya kami hanya dapat empati dari donatur ketika kami melakukan pemilahan sampah, sekarang kami sudah bisa membeli teh dan nasi padang sendiri," ujar Indah disambut semangat.
Namun, keuntungan yang diperoleh tidak semata-mata digunakan untuk kebutuhan pengurus. Sebagian margin dari pengelolaan sampah diprioritaskan untuk mendukung produksi dan pembelian perlengkapan operasional.
Dana tersebut digunakan antara lain untuk pengembangan komposter serta kebutuhan seperti cat dan alat tulis yang digunakan dalam kegiatan bank sampah.
Dukungan Baznas Bantu Pengadaan Peralatan
Pengembangan Bank Sampah Kumpul Mutiara juga mendapat dukungan dari Baznas Provinsi Jawa Barat. Dukungan tersebut dimanfaatkan untuk membeli sejumlah peralatan pengolahan sampah.
Indah menyebut bantuan tersebut memungkinkan pihaknya memiliki alat pencacah, alat pres, serta peralatan pendukung produksi komposter.
Sejumlah peralatan bahkan telah didistribusikan ke RT-RT yang bersedia dan memiliki komitmen untuk menjalankan pemilahan sampah.
"Alhamdulillah dari dukungan tersebut kami bisa membeli alat pencacah dan juga bisa memproduksi komposter, juga alat pres. Beberapa alat sudah kami distribusikan ke RT-RT yang mau dan berkomitmen untuk memilah sampah," katanya.
Hingga kini, hampir seluruh RT di RW 11 telah memperoleh dukungan peralatan tersebut. Satu RT masih belum mendapatkannya karena masih mencari sumber daya manusia yang akan menjalankan kegiatan, meski komitmen untuk memilah sampah telah disampaikan.
Indah berharap kunjungan Komisi III DPRD Kabupaten Bangka Barat dapat menjadi momentum pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Ia menilai pengalaman Bank Sampah Kumpul Mutiara dapat menjadi bahan pembelajaran bersama bagi daerah lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan terkecil.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga oleh kemauan masyarakat, konsistensi relawan, serta komitmen bersama untuk menjaga lingkungan (*)
Editor : Redaksi