Ribuan Mahasiswa Baru UIN SATU Tulungagung Diajak Jadi Generasi Kreatif dan Peduli Lingkungan

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Edi Priyanto, pegiat lingkungan, inisiatif Kampung Edukasi Sampah Terpadu di Kabupaten Sidoarjo. (Foto Edi Priyanto for JatimUPdate.id)
Edi Priyanto, pegiat lingkungan, inisiatif Kampung Edukasi Sampah Terpadu di Kabupaten Sidoarjo. (Foto Edi Priyanto for JatimUPdate.id)

 

Tulungagung, JatimUPdate.id – Sebanyak 1.300 mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU Tulungagung) mendapatkan pembekalan mengenai Creative Sustainability dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK), Jumat (28/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, UIN SATU Tulungagung menghadirkan Edi Priyanto, Pegiat Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, sebagai narasumber untuk mengajak mahasiswa melihat persoalan lingkungan dari perspektif yang berbeda: bukan semata sebagai masalah, tetapi juga sebagai ruang untuk berkreasi, berinovasi, dan menciptakan manfaat. 

Mengawali materinya, Edi mengajak mahasiswa menjawab pertanyaan sederhana. “Ketika melihat sampah, apa yang kita lihat sebagai masalah atau peluang?”

Menurutnya, sustainability bukan sekadar isu lingkungan, tetapi berkaitan dengan cara berpikir, cara hidup, dan bagaimana seseorang mampu menciptakan nilai. Mahasiswa memiliki tiga modal besar untuk mengambil peran di dalamnya, yakni pengetahuan, kreativitas, dan pengaruh. 

“Perubahan tidak selalu harus dimulai dari program besar atau teknologi yang mahal. Sering kali perubahan justru berawal dari keresahan terhadap persoalan sederhana yang ada di sekitar kita, kemudian kita berani melakukan sesuatu secara konsisten,” ujar Edi.

Ia mencontohkan sampah yang setiap hari dihasilkan di lingkungan kampus, mulai sisa makanan, botol dan gelas plastik, kertas, kardus hingga banner kegiatan. Selama pola pikir yang digunakan masih sebatas pakai lalu buang, sampah akan terus menjadi persoalan. Karena itu, creative sustainability perlu dimulai dengan mengubah cara pandang. 

Kampus Bisa Menjadi Laboratorium Ekonomi Sirkular

Di hadapan mahasiswa baru, Edi juga memperkenalkan gagasan Circular Campus, yakni menjadikan kampus sebagai laboratorium sederhana penerapan ekonomi sirkular.

Sampah organik dari kantin, misalnya, dapat diolah menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan untuk kebun kampus. Banner bekas kegiatan mahasiswa juga dapat dikumpulkan dan di-upcycle menjadi merchandise yang dapat digunakan kembali atau memiliki nilai ekonomi. 

Menurut Edi, banyak potensi di sekitar kampus yang sebenarnya dapat menjadi sumber daya, seperti sampah organik, daun, kardus, kertas, botol plastik, banner, minyak jelantah, lahan kosong, air, sinar matahari, hingga komunitas mahasiswa itu sendiri.

“Jangan buru-buru bertanya bagaimana membuangnya. Tanyakan terlebih dahulu, masih bisakah dimanfaatkan? Sisa makanan bisa menjadi kompos atau pakan BSF, botol dapat masuk bank sampah atau di-upcycle, kardus bisa digunakan kembali, dan banner kegiatan dapat diolah menjadi produk kreatif,” jelasnya. 

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa sampah tidak otomatis memiliki nilai ekonomi. Dibutuhkan proses mulai dari memilah, membersihkan, mengolah, menciptakan fungsi, mengemas hingga memasarkannya. Pemanfaatannya pun harus mempertimbangkan fungsi, kebutuhan, manfaat dan pasar. 

Dorong Lahirnya Greenpreneur dari Kampus

Mahasiswa juga didorong mengembangkan berbagai inovasi sederhana, seperti membuat totebag atau pouch dari tekstil bekas, program refill, green merchandise organisasi mahasiswa, kompos dari sampah kantin, kebun kampus, pengumpulan minyak jelantah, bank sampah mahasiswa, green event kit, hingga sistem rental atau perpustakaan barang yang jarang digunakan.

Inovasi, menurut Edi, tidak selalu harus menghasilkan produk. Inovasi lingkungan juga dapat berbentuk jasa maupun sistem. 

Dari sana mahasiswa berpeluang mengembangkan konsep greenpreneur, yaitu usaha yang tidak semata mengejar keuntungan, tetapi mampu mengintegrasikan tiga unsur: Profit, People, dan Planet layak secara ekonomi, memberikan manfaat kepada masyarakat, sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan. 

“Mahasiswa tidak harus menunggu memiliki modal besar. Mahasiswa sudah mempunyai kreativitas, pengetahuan, smartphone, media sosial, jaringan, organisasi mahasiswa, komunitas, dosen, kampus, waktu dan energi. Keterbatasan modal sering kali dapat digantikan dengan kreativitas dan kolaborasi,” katanya. 

Dalam paparannya, Edi juga mengajak 1.300 mahasiswa baru menyadari bahwa setiap mahasiswa pada dasarnya dapat menjadi seorang influencer.

Menjadi influencer, menurutnya, tidak ditentukan oleh berapa banyak pengikut di media sosial. Ketika sebuah tindakan mampu membuat satu orang lain berubah menjadi lebih baik, pada saat itulah seseorang telah memberikan pengaruh.

Pengaruh tersebut dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti mengajak teman membawa tumbler, memilah sampah, membuat konten lingkungan, menyelenggarakan green event, hingga mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Gerakan tersebut dapat tumbuh secara bertahap, dari individu, teman, kelompok, komunitas, kampus hingga masyarakat. Kebiasaan satu mahasiswa membawa tumbler, misalnya, dapat menular kepada teman, kelas, organisasi mahasiswa, kemudian berkembang menjadi kebijakan kegiatan hingga akhirnya menjadi budaya kampus. 

Di akhir materinya, Edi menegaskan bahwa keberlanjutan pada akhirnya bukan sekadar tren ataupun bahan untuk membuat konten di media sosial. Sustainability merupakan bentuk tanggung jawab dalam mengelola sumber daya, menghindari kemubaziran, menjaga lingkungan, memberikan manfaat kepada sesama, sekaligus menjaga kehidupan bagi generasi berikutnya. 

“Kita tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk membuat perubahan besar. Mulailah dari satu masalah yang kita lihat, satu ide yang kita miliki, dan satu aksi yang bisa kita lakukan hari ini. Karena dari satu orang, sebuah gerakan bisa dimulai,” pungkas Edi. (rilis/rio/yh)