Boss Mukidi Berjas, Bebek-Bebek Bebal, dan Hukum Besi Kebohongan
Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Di warung kopi, nama Mukidi sudah lama menjadi lambang universal untuk sosok yang ndableg, tebal muka, dan tak kenal rasa malu. Ketika cerita Mukidi diputar di meja kayu sambil diselingi gelak tawa dan kepulan asap rokok, ia biasanya memicu tawa renyah.
Namun, apa jadinya jika sifat Mukidi ini bukan sekadar humor rakyat biasa, melainkan representasi dari sesosok makhluk ulung—sebut saja iblis yang sedang menyamar menjadi manusia—lalu kebohongannya yang rapi tiba-tiba ditelanjangi oleh hukum besi alam semesta di depan publik luas?
Logika awam membayangkan bahwa saat kebohongan tingkat dewa itu tertangkap basah, sang pelaku akan tertunduk malu, meratapi nasib, atau sekadar meminta maaf. Namun, bagi makhluk penipu tingkat tinggi berjiwa Mukidi, rasa malu adalah barang mewah yang tidak ada dalam kamusnya.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan mata publik yang terperanjat, ia tidak akan surut. Apalagi jika ternyata sang Mukidi ini memiliki posisi strategis: ia adalah bos peternakan besar dengan ribuan bebek piaraan yang siap diproduksi bunyinya.
Di sinilah letak keajaiban ekosistemnya.
Begitu kebohongan Mukidi tertangkap basah dan hukum siap menjeratnya, sang bos tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk bertarung. Cukup dengan menabur sedikit pakan di pekarangan, kawanan bebek ternaknya langsung bereaksi secara riuh rendah. Suara kwek-kwek-kwek yang masif, seragam, dan repetitif mendadak memenuhi ruang publik.
Kebisingan bebek-bebek ini bukanlah tanpa fungsi. Bunyi rombongan ternak tersebut sengaja dirancang untuk mengacak sinyal logika dan memutus arus informasi. Ketika fakta hukum dipaparkan secara lugas, kawanan bebek ini bertugas memotongnya dengan narasi tandingan yang asal bunyi, riuh, dan riuh lagi. Kebenaran yang telanjang dada akhirnya kalah nyaring dibanding simfoni kwek-kwek-kwek yang terus diulang tanpa henti di setiap sudut media sosial dan ruang diskusi.
Sembari kawanan ternaknya sibuk memperkeruh suasana, sang bos Mukidi menjalankan jurus-jurus akrobatik intelektualnya.
Jurus pertamanya adalah memutarbalikkan persepsi (gaslighting). Ketika bukti-bukti kebocoran narasi dipaparkan, ia tidak akan membantah buktinya, melainkan mengerdilkan daya tangkap publik.
Kebohongan yang terbongkar dibingkai ulang sebagai "bagian dari mozaik besar yang belum dipahami oleh kacamata awam." Publik yang membongkar justru dituduh dangkal, reaktif, dan tidak memiliki kapasitas untuk memahami kebenaran terselubung di balik kepalsuannya—narasi yang kemudian diaminkan riuh oleh sorak-sorai bebek piaraannya.
Jika jurus itu kurang mempan, ia akan segera berganti jubah menjadi korban (playing the victim).
Dengan mimik muka paling melankolis, ia menuding bahwa penelanjangan kebohongannya adalah bagian dari konspirasi jahat untuk menjatuhkan niat mulianya membesarkan peternakan. Fokus publik diseret secara halus: dari pembahasan tentang kejahatan yang ia perbuat menjadi penderitaan yang sedang ia tanggung.
Apabila sudut ruang geraknya makin sempit, sosok Mukidi penjelmaan iblis ini akan menggunakan taktik pelemparan kebingungan (deception overload).
Kebohongan lama yang terbongkar tidak diselesaikan, melainkan ditimbun dengan melempar isu atau skandal baru yang jauh lebih fantastis. Kebisingan baru diciptakan, dan bebek-bebeknya dengan setia berpindah mematok isu anyar tersebut agar ingatan publik yang pendek segera teralihkan.
Pada titik paling krusial, ia akan menarik masyarakat ke dalam lumpur moral yang sama. Lewat retorika kolektif, ia seolah berbisik, "Siapa di antara kalian yang benar-benar bersih dari dosa?" Dengan menganggap semua orang sama-sama kotor, kadar kejahatannya otomatis menyusut dan melebur dalam dosa bersama.
Hukum besi alam semesta memang selalu berhasil menelanjangi kepalsuan pada waktunya. Namun, menghadapi manusia yang sudah sampai pada taraf Mukidi sejati—yang keukeuh, ndableg, mati rasa mukanya, serta dikawal barisan ternak berisik yang selalu siap pasang badan—hukum pembuktian sering kali membentur tembok ketebalan muka dan kelelahan publik.
Pada akhirnya, di hadapan masyarakat yang hidupnya serba pas-pasan, skandal kelas tinggi tidak pernah bertahan lama. Publik terlalu lelah untuk terus menuntut keadilan; energi mereka habis terwasitkan oleh urusan perut, sengkarut bertahan hidup sehari-hari, antrean rebutan bansos, atau keputusasaan yang memaksa sebagian dari mereka akhirnya memilih menyerah dan ikut mendaftar jadi bagian dari barisan bebek bayaran berikutnya.
Di tengah riuhnya bebek-bebek baru dan publik yang dipaksa lupa oleh keadaan, sang bos Mukidi cukup tersenyum tenang, menyesap kopinya, membelai ternak-ternaknya, lalu menyerahkan sisa kebohongannya pada sang waktu—waktu yang selalu berpihak pada mereka yang kenyang.
Editor : Redaksi