Kakek Prabowo Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Jejak Jasanya bagi Indonesia

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) yang juga merupakan kakek Presiden Prabowo Subianto. Namanya masuk dalam daftar usulan penerima gelar Pahlawan Nasional 2026.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) yang juga merupakan kakek Presiden Prabowo Subianto. Namanya masuk dalam daftar usulan penerima gelar Pahlawan Nasional 2026.

Jakarta, JatimUPdate.id, – Nama Raden Mas (RM) Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto, masuk dalam daftar tokoh yang diusulkan menerima gelar Pahlawan Nasional 2026.

Tokoh yang dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) tersebut dinilai memiliki kontribusi penting dalam membangun fondasi perekonomian Indonesia, khususnya pada masa awal kemerdekaan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul membenarkan bahwa nama RM Margono termasuk di antara lebih dari 10 tokoh yang telah diteruskan kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan untuk menjalani proses pembahasan.

Usulan tersebut berasal dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah daerah. Meski telah memenuhi persyaratan administrasi, penetapan gelar Pahlawan Nasional masih harus melalui penelitian dan pembahasan lebih lanjut.

Gus Ipul menegaskan, masuknya nama Margono dalam daftar usulan belum berarti yang bersangkutan otomatis mendapatkan gelar tersebut. Keputusan akhir berada di tangan Presiden setelah menerima hasil pembahasan Dewan Gelar.

Rekam Jejak RM Margono

Raden Mas Margono Djojohadikusumo lahir di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, pada 16 Mei 1894.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam meletakkan dasar sistem keuangan nasional. Sebelum Indonesia merdeka, Margono menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas dan Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Magelang.

Kariernya dimulai sebagai juru tulis di Banyumas pada 1911. Pengalaman di lingkungan pemerintahan kemudian membawanya memiliki peran penting dalam bidang administrasi dan perekonomian.

Setelah Indonesia merdeka, Margono dipercaya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Ia juga mengusulkan pembentukan bank milik negara sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi Indonesia.

Gagasan tersebut kemudian mendapat perhatian Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Pada 16 September 1945, Margono mendapat mandat untuk mempersiapkan pembentukan bank negara. Upaya tersebut berujung pada pendirian Bank Negara Indonesia (BNI) melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1946 tertanggal 5 Juli 1946.

Margono kemudian dipercaya menjadi direktur utama pertama BNI.

Berperan dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Kontribusi Margono tidak hanya berkaitan dengan pembangunan lembaga keuangan nasional.

Dalam catatan sejarah, ia juga memiliki peran dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk penyelamatan aset emas BNI seberat tujuh ton ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 1948.

Aset tersebut berhasil dibawa ke Macau dan dijual. Hasilnya digunakan untuk membantu pembiayaan perjuangan Indonesia, termasuk kebutuhan diplomasi dan penyediaan bahan pangan.

Selain itu, Margono tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Pada era 1950-an, Margono turut mendorong penggunaan hak angket DPR sebagai instrumen pengawasan terhadap kebijakan pemerintah, terutama dalam persoalan pengelolaan devisa negara.

Margono meninggal dunia di Jakarta pada 25 Juli 1978 dalam usia 84 tahun.

Rekam jejaknya di bidang pemerintahan, perjuangan kemerdekaan, dan pembangunan ekonomi menjadi bagian dari pertimbangan dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Kini, publik menantikan keputusan pemerintah mengenai nama-nama tokoh yang akan menerima gelar tersebut dalam rangka peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2026. (ries/yh)