Catatan Mas AAS

Kau Tak Pernah Jalan Sendiri

oleh : -
Kau Tak Pernah Jalan Sendiri
Mas AAS

"Pemenang membandingkan prestasinya dengan tujuan mereka, sedangkan pecundang membandingkan prestasinya dengan capaian orang lain!"

Lalu siapa yang menemani jalan-jalanku pada hari ini? Saat ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan cerita masa lalu sudah tergenapi.

Di situ ada orang terkasih, ada teman, ada peristiwa, ada kisah, ada rahasia. Semua sudah usai memerankan panggungnya.

Kini,

Hanya tersisa imajinasi yang bening, jernih, bak mata air di pegunungan. Itulah kawan diri nan abadi. Sendirian.

Darinya tapak-tapak langkah kaki ini masih akan panjang ingin diukir dan ditorehkan sampai ujung perjalanan waktu! Karena itu tugas utama adanya kelahiran.

Seorang pemenang dan pecundang sama-sama memiliki impian. Yang membedakan keduanya adalah keputusan mereka untuk mau menjalani proses. Pecundang selalu gusar melihat orang lain. Pemenang selalu serius melihat ke dalam dirinya sendiri. Tak sempat bahas orang lain.

Membaca buku, membaca alam sekitar. Membuat ruang labirin di dalam pikiran ini jadi terbuka luas. Sesuatu yang terasa berat dan serasa tak mungkin, bukan tak mungkin dikerjakan, dilakukan. Butuh kerendahan hati saja untuk mencobanya, bukan mengedepankan keluh kesah, dan mengumbar rasa ketakutan tak berguna di mana-mana.

Juga untuk soal membuat buku, melahirkan karya yang master piece sifatnya di masa depan. Pecahkan tantangan pertamanya dahulu. Buat dan kawal bukunya sampai jadi. Setelahnya akan berlaku hukum _practice make perfect_. Bukankah dahulu saat menulis tulisan pertama lalu berani membagikannya kepada banyak pembaca lewat laman media sosial yang ada, takutnya bukan kepalang. Ingat itu!

Kalaulah sekarang ada rasa takut, darimana uang buat buat bayar penerbit, apa laku bukunya, dan pertanyaan soal bagaimana, dan bagaimana dan lain-lainnya terus membayang di lintasan pikiran yang muncul. Ah, itu mah normal, biasa-biasa saja. Apa kamu tidak ingat bagaimana kamu dengan modal nekat membagikan tulisan pertamamu dahulu! Toh, semuanya baik-baik saja, dan sekarang tahap selanjutnya kamu lalui, nikmati itu!

Kerjakan tugas bagian mu, lainnya biar itu di urus olehNya.

Jadi bila kini buku pertama sudah mampu dibuat, bukan mustahil buku kedua, ketiga, dan seterusnya akan mudah saja dibuat? Itu teorinya, tinggal dieksekusi saja! Hanya keberanian untuk mau menjalani prosesnya, lalu berusaha belajar lebih giat serta bertekun lebih mengenali bagaimana buku yang bagus itu dibuat oleh para penulisnya. Belajar terus dari ahlinya, lalu praktikkan ilmunya. Itulah hidup yang layak diperjuangkan.

Jadi semakin jelas bukan, bahwa kita tak pernah lagi berjalan sendiri di bumi ini. Susahnya belajar sesuatu keahlian yang diinginkan, beratnya proses yang kudu dilakukan, dan saat berada pada titik nadir kehidupan. Semua itu adalah kawan karib setia kita, bahwa kita pernah bisa melakukan sesuatu yang kata orang tidak mungkin, tidak hanya satu bahkan lebih. Darinya kita bisa bercermin. Untuk menenun kain batik kehidupan kita yang indah nantinya. Karena mampu menghasilkan karya sebagai sebuah legacy kehidupan, bukan lontaran umpatan, sumpah serapah saja. Apa mau Anda jadi orang macam itu. Semakin jelas kualitas manusia macam apa diri kita!

Bagaimana, apakah Anda masih merasa sendirian lagi sekarang? Untuk menghasilkan sebuah maha karya yang terbaik yang mampu Anda torehkan di dalam kehidupan Anda yang sekarang. Kalau iya itu namanya KEBACUT.