Catatan Mas AAS

Guru Mlete

oleh : -
Guru Mlete

"Guru biasa memberitahukan, guru biasa menjelaskan, guru ulung memeragakan, guru hebat mengilhami!"


Hari telah larut malam. Tapi moto iki angelmen merem. Hanya mampu duduk di kursi tua selonjoran sambil leyeh-leyeh menunggu rasa kantuk itu tiba!

Pukul sebelas semalam, aku baru masuk rumah. Usai bekerja di kampus ITB Yadika Pasuruan, mengajar bertemu mahasiswa di dalam kelas.

Mau nulis semalam? Agar mata ini bisa aku ajak istirahat. Lalu segera bisa bobok. Biasanya satu dua paragraf ditulis, mata itu pun mulai kriyip-kriyip mulai mengantuk, juga saat menulis tulisan ini.

Tentu banyak sekali bahan yang bisa ditulis terlintas di ingatan kepala. Misalkan saja, kisah ijazah palsu pemimpin negeri yang sedang viral dan jadi pemicu setiap netizen pasang status gambar foto saat lulus kuliahnya dahulu ono-ono bae, kabar polisi yang baru berpindah dinas berbintang dua di pundaknya ditangkap urusan narkoba atau urusan saling adu power aku tidak tahu, atau malah persoalan dunia politik di NKRI yang sedang panas-panasnya seiring tahun 2024 semakin dekat? Semua partai dan semua tokoh politik lagi cari jalan exit untuk amankan posisi, agar bisa menang di panggung pemilihan esok. Lha soal rakyat? Sepertinya rakyat masih harus menelan ludah, menunda urusannya diperhatikan, kemakmuran nya diwujudkan oleh para pemimpinnya!

Aku tak tertarik membuat kalimat-kalimat lebih jauh yang membicarakan berita-berita dan persoalan di atas! Bisa jadi hanya jadi ajang saling membenarkan saja. Setidaknya bagi para pendukungnya. Ujungnya frasa serta diksi cebong juga kampret di hari, minggu, bulan, dan tahun mendatang akan tambah ramai dan panas saja! Kita buktikan nanti saja, naga-naganya peristiwa itu akan jadi kenyataan, kalau melihat kejadian sekarang. Cukuplah sampai di sini saja, bahasan perihal di atas ya.

Justeru yang jadi perhatian dan segera ingin aku tulis semalam adalah sebuah kisah soal GURU MLETE Siapa dia, bukan orang lain sih, adalah kolega saya sendiri, bola ngudud dan bolo cangkrukan nyeruput kopi sehari-hari saat sedang rehat sehabis mengajar di kampus.

Kita samakan persepsi dahulu ya, bahwa kata mlete di sini, bermakna rasa percaya diri yang cukup besar, yang dimiliki oleh seseorang, kadang bisa berlebihan sih. Namun begitu orangnya itu sumbut layak melakukan itu karena orang itu memang mampu dan punya potensi!

Dan seseorang itu berprofesi sebagai guru, tepatnya guru matematika! Tidak saja pandai mengajar soal hitung-menghitung berupa perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Tapi kredo soal ilmu matematika itu mampu ia pakai ia konversi dalam kehidupan si Omar Bakri satu ini!

Kehidupan kesehariannya di luar profesi utamanya sebagai seorang guru, bolo rokokan dan nyeruput ngopi ini sangat kreatif dan produktif menghasilkan karya. Ia seniman, ia tukang kayu, juga kadang merangkap tukang bangunan, ia juga seorang suami yang dicintai keluarganya, tak lupa ia seorang eyang yang sudah memiliki satu cucu. Soal wajahnya tak pernah mau beringsut tua, karena tongkrongannya layaknya anak SMA seperti wajah para anak didiknya.

Mungkin saja ia dapat sangu atau ilmu dari Eyang Jugo dari Gunung Kawi, karena aslinya ia lahir dan besar di daerah sekitar gunung tersebut, di Malang. Mbuh bener mbuh ora aku tidak tahu hehehe! Yang pasti aku sudah kumpul dengannya banyak tahun, tak sekalipun aku melihat wajahnya bermuram durja, yang ia tampakkan selalu wajah mentari yang saat pagi dengan senangnya menyinari bumi. Mungkin itu yang bikin guru matematika satu ini awet enom.

Yuk, kita lanjutkan ceritanya ya.

Langsung saja ke inti persoalannya. Kisah bermula dari obrolan yang penulis lakukan semalam. Saat tengah ngopi setelah mengajar selesai, lalu pergi ke kantin yang berada belakang kampus. Tepatnya di kampus ITB Yadika Pasuruan.

Kumpul dengan kolega, guyon maton parikeno bareng! Ngopi plus ngudud ada juga yang makan bakso juga indomie.

Tiap manusia itu unik. Selain itu setiap manusia itu bisa jadi memiliki lebih dari satu talenta. Pak Mustofa itu manusia yang multi talent. Ia bisa nyanyi, bisa main musik, bisa nukang, dan bisa ajarkan mata pelajaran matematika kepada anak didiknya tanpa perlu mati-matian si muridnya menghapal rumus-rumus kuno ilmu matematika.

Semua kemampuan yang ia miliki dan kuasai dengan baik itu. Mampu ia konversi menjadi sesuatu yang berdampak positif dan menguntungkan secara tidak langsung baginya. Jadi cuan, jadi duit. Selain itu si kolega satu ini, sangat piawai berselancar dalam memanfaatkan momentum dari setiap peluang yang ada. Lengkap sudah talentanya.

Setidaknya banyak anak didik utamanya para siswi di dalam sekolahnya selalu mengerumuninya setiap waktu. Selain belajar matematika, juga ingin belajar bermain alat musik, contohnya saja alat musik gitar, angklung, dan juga piano. Guru nyentrik satu ini layaknya tokoh wayang Arjuna dari Pandawa saja. Saban hari hidupnya tak pernah sepi ditemui para penggemar dan pengagumnya, utamanya kaum hawa. Kaum adam pada syirik kepadanya, karena tak punya nyali juga tak punya kemampuan buat menandinginya, kalau ini becanda ya!

Yang datang kepadanya, ada yang ingin belajar alat musik, ada yang pesan lemari karena ia juga seorang tukang kayu yang garapannya bagus, bapaknya siswa yang pesan, ada juga yang mau urus print KHS dan juga KRS. Karena ia juga seorang Kepala divisi BAAK di ITB, selain sebagai guru SMK, benar-benar mlete tokoh satu ini.

Setiap awal bulan itu wajahnya pak Mustofa selalu bersinar kaya bulan purnama saja. Ia hanya petentang-petenteng saja, karena bersiap terima banyak amplop yang ada isinya yang siap dibawanya pulang, diberikan kepada anak-anak, istrinya, dan juga cucunya, ups! "Ojo tambah bojo maneh lho bro!" Dan tidak kurang akal kalau soal diledek seperti itu bagi pak Mustofa. Ia pun spontan langsung menjawab candaanku," kalau Tuhan menghendaki, bagaimana, pak Andi?"

Glodak.

Pak Mustofa ini tidak saja boleh disebut guru mlete, yang selalu bikin orang lain menyimak apa yang akan ia kerjakan. Ia bagi saya jelas lebih dari status sebutan itu, pak Mustofa bisa disebut guru hebat yang mengilhami anak didiknya.

Di kampus ITB Yadika Pasuruan. Banyak sekali orang-orang yang multi talent dan bisa mengkonversi potensinya itu menjadi cuan. Salah satunya ya pak Mustofa itu. Salah dua, salah tiga, dan salah seterusnya. Lebih baik Anda bisa langsung main dan datang ke kampus kami saja. Manusia-manusia unik lainnya nanti akan saya kenalkan kepada Anda