Catatan Mas AAS

Tanda-Tandanya

oleh : -
Tanda-Tandanya

"Tuhan memegang kendali dan waktu-Nya sempurna."


Setiap hari itu selalu ada cerita baru. Tidak bakalan satu ceritanya, dan itu adalah sebuah puzzle. Dan menjadi tugas seorang penulis lah guna merangkainya menjadi cerita dan gambar yang utuh serta punya arti juga punya makna lalu membawa inspirasi, bagi yang membaca.

Cerita ini masih berkaitan dengan kegiatan seharian kemarin di UB. Tepatnya menjalani urusan mengerjakan dan menyelesaikan sebuah misi berburu persetujuan dan minta tanda tangan dosen tim promotor untuk maju ke tahap selanjutnya, untuk selesaikan urusan disertasi, di jenjang pendidikan doktoral!

Dini hari sudah berangkat dari gubuk tercinta di kampung Rungkut Surabaya menuju ke UB Malang. Karena saya ingin sebelum jam 7 pagi harus sampai di kampus perjuangan ini. Kenapa harus seperti itu? Pertama sudah jadi kebiasaan hidup bisa memenuhi janjian secara on time adalah sesuatu. Kedua, ngurus sekolah dan  tetek bengeknya laksana menjemput rejeki. Siapa yang serius menjemputnya di waktu masih pagi bahkan waktu fajar, ada harapan kebaikan akan banyak diterima, itu kata Simbah, leluhurku dahulu! Itu berlaku saat aku buka lapak ku, baik saat ngojek, atau jualan yang lainnya. "Tangi awan, selak rejekine di totol pithek!"

Singkat kata tiba di kampus sedari pagi. Lalu sejenak melakukan ritus fardu ain yaitu sarapan, kemudian ngopi, sesudahnya guyon maton parikeno sejenak karo prokonco di Griya UB.

Setelahnya, berjuanglah berburu persetujuan dan tanda tangan kepada tim promotor dimulai. Status mahasiswa strata tiga agar berubah dapat ijazah juga gelar, tidak boleh enak-enakan saja serta berpangku tangan. Di situlah lika liku seorang laki-laki dibuktikan. Ini bukan soal mengejar wanita, ini lebih daripada itu, hehehe!

Tidak mudah iya. Karena kudu sabar, kudu terus mengajak kedua kaki ini terus melangkah. Susuri lorong dan naik tangga di gedung fakultas yang tinggi. Berbekal headphone lagu stand by me, yang dinyanyikan oleh Ben E. King, tak pernah berhenti kudengarkan. Menarik, pasti saja. Menjadi seorang mahasiswa harus pintar memotivasi diri sendiri. Caranya sesukamu!

Dari pagi hingga menjelang sore, kabar bahagia yang dinanti tak kunjung tiba. Sedih ya biasa kan masih jadi manusia. Tapi alam bawah sadar penulis selalu meyakini, ini akan selesai, setidaknya ada kabar baik! Keyakinan yang teguh itu mampu memandu penulis tetap jenaka menikmati tugas kehidupan pada hari kemarin!

Disaat penulis sudah semaksimal mungkin menjalankan perannya. Dan sadar bahwa semua yang ada di dunia ini adalah sebuah energi. Dari situlah segera swift off mindset. Untuk menyesuaikan dengan energi semesta yang selalu sadar juga hening penuh keberlimpahan. Menyerahkan sepenuhnya, seutuhnya semua soal kepadaNya, sambil bersenandung memujiNya, dengan sikap yang penuh kemanjaan, bak seorang anak yang merayu bapaknya.

Dan, tidak seberapa lama saat sedang bermanja ria denganNya sambil ngudud lan ngopi, ada pesan WhatsApp yang masuk ke hp. "Pak Agus, pak A, ada di ruangan!" Seorang mahasiswa yang bernasib sama mengabari. Dan kedua kaki itu pun berlari sekencang-kencangnya ke TKP. Sesudah dapat berita yang membahagiakan itu. Meski sambil  ngos-ngosan berlari menuju ke lantai gedung yang tinggi itu. Takut bapak A pergi lagi! Karena saat aku dapat pesan itu, posisiku sudah jauh dari fakultas.

Dan, proses yang panjang, dan dilaluinya dengan segenap hati juga jiwa ini. Berakhir dengan tanda tangan, yang diburu sejak dari dini hari, baru terjawab saat sore jelang adzan magrib berkumandang! Subhanallah.

Tidak berhenti di situ saja. Sang Kekasih Agung itu memberi sapaan yang indah lainnya sore kemarin. Nasi goreng Mbah Joyo itu pun di pesan oleh dewan profesor di UB. Ada teman yang menjadi saksi hidup saat aku menerima hp dari sosok yang begitu aku kagumi itu, karena fasilitas voice aku nyalakan saat terima telpon. "Jek, iki beneran ta, bahwa dewan profesor UB mau pesan Mbah Joyo, untuk acara kehadiran mereka di dies natalis ITS yang ke-62," kekagetan ku yang bukan kepalang aku sampaikan ke temanku itu!

"Lha iyo ngono," kata teman itu!

Dan indahnya. Masih sambil _ndelongop_ saja.

Sebenarnya pada saat sore berjumpa dengan kawan lamaku itu. Kita tengah memuja semesta pada hari kemarin. Bagaimana Gusti itu kalau menyapa, dan acap kali bercanda, begitu sangat lembutnya. Di tengah-tengah obrolan itu, banyak tanda, banyak pesan, banyak arti, juga banyak makna, yang membesarkan, juga mendewasakan kami berdua. Perihal tentangNya.

Dan selama dua hari ini, hari ini hari Jumat sampai hari Sabtu besok. Mbah Joyo di undang menemani dewan profesor dari UB untuk hadir di ITS. Kadang di situ aku susah memahaminya. Apa maksud ini semuanya?

Aku dan temanku saat sore hanya mampu tersenyum bersama, dan kami berdua secara auto dan spontan lalu memandang ke langit yang sudah mulai akan berubah warnanya itu. Dan kembali masuk sedalam-dalamnya ke ruang bilik jiwa masing-masing.

Dan aku pun pamit kepada temanku itu, pulang ke Surabaya. Tuk jalankan tugas sebaik-baiknya. Hadir bersama Mbah Joyo di kampus ITS hari ini dan esok.