Catatan Mas AAS

Ngomong Kok Ora Nganggo Waton

oleh : -
Ngomong Kok Ora Nganggo Waton
Mas AAS

Bagaimana saya bisa menulis? Dan juga bagaimana Anda bisa memahat huruf. Pastilah kita ada cerita yang sama, mungkin saja lho ya. Sudah terlalu banyak informasi kita peroleh, sudah tak berbilang peristiwa kita amati, dan kesemuanya menghasilkan sebuah rasa di dalam benak ini layaknya permen nano-nano yang kita cecap di lidah.

Tidak enak saat itu dirasakan sendiri dan didekap sendiri peristiwanya. Semuanya bisa dimuntahkan agar bisa memberikan sebuah perspektif setidaknya bagi diri penulisnya. Lalu secara perlahan huruf demi huruf itu kita ketik atau kita tulis. Mengurai satu demi satu sebuah pikiran yang kadung terlintas saling susul di kepala. Semuanya bisa disampaikan via sebuah tulisan, adalah kegiatan menyenangkan. Setidaknya itu saya akui dan saya rasakan sampai detik ini.

Meski saja pemicu dibuatnya sebuah tulisan itu diperoleh saat duduk di sebuah warkop menikmati kopi plus sedang tunggu datangnya orderan. Kehadiran banyak orang di situ dengan segala tingkah serta perangainya jadi inspirasi bisa dibuat sebuah tulisan. Juga teruntuk tulisan ini kenapa saya buat!

Contohnya saja yang aku alami pagi ini. Di depanku ada orang baru datang di warkop, langsung duduk di kursi yang berada pas di depanku. Pesan kopi, dan mulailah ia _nerocos_ tanpa _babibu_ kepada semua pengunjung warkop yang datang! Terganggu? Iya pasti. Karena suaranya kayak suara keledai, aku yang duduk sambil pasang headphone sedang dengarkan lagu 'stand by me'  Ben E. King jadi terganggu juga!

Ia seketika sudah jadi pengamat politik ibu kota saja. Itu PDIP bagaimana sih, kenapa tidak angkat Ganjar, jadi calon presiden dari partainya. Si Anis gak bakalan menang kalau lawannya si Ganjar.

Aku hanya diam sambil melihat layar hape. Apakah sudah benar tulisan yang aku ketik. Menulis tentang peristiwa yang ada di depanku ini. Sambil menunggu apa yang akan diomongkan oleh orang di depanku ini selanjutnya.

Tahun depan tahun 2023, dunia akan suram. Laju ekonomi dunia akan tersendat, sudah ada banyak negara yang jadi pasien IMF lembaga keuangan dunia. "Tapi pak, itu bukan kata saya lho, tapi kata pak Presiden Jokowi!" Dan aku masih dengan sikap yang sama, masih _pelototin_ hape dan sambil melihat kedua jempol ku menari di hape! Tulis tentang dia.

Di warkop adalah pasamuan merdeka. Bebas untuk berbicara apapun dan bebas bersikap apapun juga. Rasa empatik taruh dulu di rumah, saat ingin ngomong sesuatu ngomong lah. Ada yang perhatikan dan ada yang sepelekan juga. Itu biasa saja! Tak usah baper. Tapi semuanya itu kalau sudah keterlaluan juga tak elok! Pasti akan ada keseimbangan alam yang terjadi. Itu sudah jadi hukumnya sejak baheula.

Kadang quote "diam adalah emas" adalah benar adanya. Saat di depanku sekarang, ada orang nerocos saja sedari tadi, saat aku mampir di warkop ini. Tanpa punya _unggah lan ungguh_.

Mau diingkari ini fakta. Mau diladeni omongannya. Tak sempat gantian ngomongnya. Aku baru sekali mau ngomong belum selesai sudah dipotong dengan puluhan  bahkan ratusan kata keluar dari mulutnya.

"Mas tolong Anda diam sejenak. Mengerti? Biar, saya selesaikan omongan saya dahulu sampai titik," paham anda?

Setelah menahan nafas, dan menahan rasa sedari satu jam sebelumnya. Barulah orang bertitel yang sangat bangga dengan gelar nya yang berderet itu, bisa diam sesaat! Dan gantian ia harus mendengarkan si tukang ojek online dengan jaket grab nya. Gantian yang *nggedabrus* kepadanya, tapi beberapa detik saja! Memang Anda saja yang bisa berbicara mengurai teori, fakta, juga seabrek analisa untuk menunjukkan Anda kaum melek informasi dan berpengetahuan! Meski kami manusia pemburu rupiah di gang tikus dan jalan raya kota pahlawan, juga punya mimpi, mas bro! "Bolo tukang ojek yang duduk di sebelah gantian _ndelongop_ melihat kepadaku sekarang!"

Guyonan sing akhirnya ora maton. Tapi acap kali orang yang rada sotoy itu memang kudu digampar dengan cara yang sama ia memperlakukan orang.

Mau tidak ditulis tapi ini kejadian nyata. Dari kejadian pagi ini, banyak ilmu yang bisa dipelajari: ilmu berbicara dengan orang lain, ilmu sableng menggertak orang, dan utamanya ilmu sabar menyimak dan mendengarkan orang lain berbicara. Yang terakhir ilmu tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia!

Saya kira cerita di atas adalah contoh nyata bagaimana saya menulis. Kejadian nyata yang saya alami, apalagi ada emosi meresap di benak ini pada peristiwa yang terjadi. Secepat kilat kedua jempol itu selesai menuliskannya dalam beberapa menit saja. Kalau cara Anda menulis bagaimana?