Catatan Mas AAS

Terima Kasih Guru

Reporter : -
Terima Kasih Guru
Catatan Mas AAS

Hati telah tersambung. Sebuah relasi takdim muncul dari rasa hormat seorang murid kepada seorang Guru.

Rasa hormat itu membuat sang murid berusaha sekuat tenaga ingin mempersembahkan mahkota kepada Guru. Sang murid itu siap berjuang, berproses, dan mendidik keras dirinya untuk sampai pada satu level.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Dan ketika level itu diakui, diapresiasi, dan diberi penghargaan oleh sang Guru. Murid itu hanya bisa diam mematung tak mampu bersuara!

"Suatu ketika, sang murid itu berkata kepada sang Guru. Guru, suatu saat, apakah diijinkan murid yang masih bodoh ini mempersembahkan sesuatu untuk Guru?"

"Apa itu? Tanya sang Guru," kepada sang murid!

"Sebuah *buku* Guru. Sebuah buku kumpulan dari jari jemari ini saat tengah mendokumentasikan semua peristiwa dan kejadian sehari-hari saat diajar oleh Guru, saat murid berjualan nasi goreng Mbah Joyo, dan sesekali saat ada kelonggaran waktu, juga bekerja jadi _ojek online_ Guru," dengan terbata dan kurang percaya diri si murid mengatakan keinginannya itu pada sang Guru!

"Oh, iya? Betul Anda mampu membuat karya berupa *buku* tersebut. Itu tidak mudah lho ya, butuh tekun menulis, dan terus menulis setiap waktu.", "Bagaimana mana, apakah Anda tetap akan berjuang mewujudkan mimpi itu," tegas sang Guru!

"Siap Guru, saya siap, saya akan bekerja keras dan bekerja cerdas untuk mewujudkan itu," itu janji saya Guru!

Dan waktu pun berjalan. Satu minggu, satu bulan, hingga satu tahun. Saat *janji* itu diucapkan si murid kepada sang Guru.

Tidak ada tanda-tanda bahwa janji itu akan ditepati, buku itu jadi mampu dibuat oleh si murid. Dan si murid mulai mengingat-ingat, sepertinya tidak mungkin bisa.

Dan benar kata sang Guru. Bahwa *buku* adalah karya besar dan berat, yang bisa dibuat oleh seorang individu!

Untung saja si murid itu tipikal *pantang* untuk diremehkan dalam hidupnya. Ia akan *malu* sekali apabila tidak mampu menepati janji suci nya kepada sang Guru!

Dalam hatinya yang terdalam ia hanya memohon kepada Tuhannya. "Tuhan, ajari, bimbing jari jemariku untuk bisa memahat huruf, aku ingin berbuat sesuatu setelah memiliki kemampuan menulis. Itu janjiku Tuhan," batin sang murid mengadu kepada Tuhan-Nya!

Entah habis minum apa itu sang murid. Setelah ia berdoa kepada Tuhan-Nya. Sepertinya Tuhan langsung hadir dengan caraNya. Membantu, mendampingi sang murid itu untuk mau menulis, satu kata demi satu kata, lalu jadilah kalimat dan kemudian paragraf dan mengalir lah kalimat-kalimat itu menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca juga perlu. Itu kata para pembacanya, pada suatu ketika!

Maka, jadi _keranjingan_ lah itu si murid. Setiap hari selalu tak pernah alpha selalu menulis. Menuliskan akan semua peristiwa kehidupan yang mampir pada hidupnya atau hidupnya orang lain.

Tulisan itu ia unggah di media sosial miliknya, dan ia sebarkan ke grup-grup WhatsApp yang ia menjadi anggotanya.

Tidak hanya menulis sehari saja, atau seminggu saja, atau sebulan saja. Si murid itu tetap bertahan dengan ketekunannya untuk menulis. Hingga bertahun-tahun, ada kalau 4-5 tahun tanpa jeda sehari pun. Si murid itu tetap *Istiqomah* menulis.

Ada yang baca, like, dan komentar sesekali. Merespon tulisan si murid itu. Bahkan berminggu-minggu juga sepi dari komentar. Tapi dasar si murid itu orangnya _kophig_ dan _ndableg_. Ia terus saja menulis, dan terus saja ia sebarkan tulisannya itu ke banyak orang kebanyak portal media online! Gila memang si murid. Ia sudah tak punya *malu*.

Dikritik tulisannya ia terima, dibully tulisannya ia juga terima. Dikatain tulisannya kurang bermakna, ia pun santai menerimanya.

Tapi satu yang ia ketahui, ternyata yang mengkritik, mem-bully. Saat mereka ditanyai oleh si murid itu. Mereka tak pernah *menulis* mereka hanya omong besar saja! Alhamdulilah.

Si murid itu *menang* ia memberi pelajaran sesuatu kepada semua pembacanya. _Ngajari_ konsisten, Istiqomah, dan *kuat mental* serta punya nyali!

Hingga pada suatu saat. Karena tulisan yang ia buat sudah begitu banyak. Tidak hanya satuan, puluhan, ratusan, bahkan ada kalau ribuan judul tulisan mampu dipahat huruf-huruf nya oleh si murid.

Ada orang _jahil_ berkata kepada si murid itu," cak Broto, bagaimana kalau tulisan cak Broto yang sudah banyak itu, dibuat buku?"

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Si murid mengalami handicap kembali. Menulis saja masih latihan. Disuruh kumpulkan tulisan-tulisan itu menjadi sebuah buku. Dan nanti katanya buku itu mau dibawa ke negara penjajah yaitu Negara Belanda!

Dan si murid itu gunakan cara tradisional untuk menemukan solusi atas tawaran tersebut. Diterima atau tidak.

Lalu si murid itu masuk ruang ibadah, duduk sendirian di situ semalaman. Meminta petunjuk kepada *Gusti* nya!

Lalu paginya setelah bangun dari tidurnya. Si murid itu seperti mengalami *emanasi*. Jiwanya dikuatkan, pikirannya diberi penerangan, dan hatinya dilembutkan. Dan berani menerima tantangan temannya yang jahil itu, yaitu Dr. Syamsul Hadi, dosen FP UB.

"Ok, mas Doktor, saya terima tantangan Anda, tulisan saya akan saya buat buku," tegas saya ke Dr. Syamsul.

"Mangstab, cak Broto," ujar Dr. Syamsul.

Dan selanjutnya si murid itu menghubungi koleganya yang jadi Seniman, yaitu, kakak Redy namanya.

"Kakak Redy, saya akan buat *buku* dan saya beri judul buku saya tersebut *URIP IKU URUP*"

Itu si Seniman yang asli Besuki. Langsung *akas* saja kerjanya. Hari esoknya. Seluruh tulisan saya sudah diterima editor pada sebuah penerbit besar yang ada di Malang. Penerbit Instrans.

Dan siapa yang mengira, buku itu mendapat respon yang luar biasa dari pembaca. Sekali cetak 50 eksemplar langsung habis terjual. Uangnya entah kemana hehehe!

Dan sekira siang menjelang sore tadi tiba. Si murid itu _mengontak_ sang Guru. Untuk minta ijin memberikan *buku* nya, sebagai *janji suci* yang beberapa tahun yang lalu sempat ia ucapkan, saat konsultasi soal *disertasi* yang ia buat!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Tak dinyana juga. Buku Urip Iku Urup, diterima oleh sang Guru. Dengan senang hati. Saking gembiranya itu sang Guru.

Saat murid itu tadi bertandang ke rumah Guru nya. Si murid itu disuguhi teh dan camilan. Biasanya tidak.

Subhanallah. Apa ini fadilah nya menulis dan bisa membuat buku.

Sekali lagi terima kasih Guru. Atas didikan dari Guru lah saya memiliki keberanian untuk _break the limit_ atas kemampuan saya di dalam menulis.

Dan tadi aku minta ijin kepada Guru tersebut: "Guru, apakah diperkenankan kalau teh di dalam gelas ini, saya akan tenggak hingga habis! Meski Guru akan mengatai saya _nggeragas_ murid dengan ikhlas menerimanya.

Karena suguhan dan minuman teh ini, murid anggap sebagai *pusaka* untuk melanjutkan berkarya dimasa depan," begitu penjelasan sang murid kepada Gurunya.

Dan Guru yang amat bijak itu berseloroh," mas Agus, Anda wajib habiskan suguhan semuanya: minuman teh utamanya," tegas sang Guru.

"Alhamdulilah. Terima kasih Guru."

Dan Guru itu yang nantinya akan menandatangani dan merestui tidaknya aku bisa ikut UAD (Ujian Akhir Disertasi).

Sembah nuwun ingkang tanpo pepindan njih Prof Armanu.


AAS, 22 Maret 2023
Rest Area 66 B Purwosari Pasuruan

Editor : Redaksi