Catatan MAS AAS

Kopi Morong

Reporter : -
Kopi Morong
kopi morong

Orang-orang terdekat seperti sahabat, kolega, teman kuliah. Mereka upload kegiatan yang barusan saja dikerjakan.


Dalam ruang WhatsApp grup. Yang bisa disaksikan oleh penulis. Dan gambar photo sudah mampu menjelaskan banyak hal, tidak perlu diberikan narasi!

Baca Juga: Hasrat Menulis Sesuatu


Kumpul bersama rekan, buka puasa bersama. Duduk guyon maton parikeno bareng, menghadapi kopi morong berupa air kopi diwadahi teko besar.


Tak lupa sigaret untuk jangkepnya sebuah pertemuan. Tak asyik bila tidak ada ritus ngudud sambil menyeruput kopi morong nya!


Alih-alih membahas hiruk dan pikuk seputar capres. Mereka sama sekali tidak melakukan itu. Mereka hanya memberikan rasa cinta dari dirinya pribadi sambil memuja dalam batin kepada keagungan dan kemurahan yang diberikan oleh Sang Pemilik Jagat.


Apa yang bisa diberikan untuk membuat suasana berkumpul bersama itu menjadi bahagia.


That's it! Hanya itu tidak lebih. Namun dalam ruang makna setiap pribadi yang hadir begitu mendalam hingga bisa masuk di ruang sukma!


Melihatnya.


Layaknya mengingat kejadian dan sejarah dalam sejarah masa silam.


Dalam kumpulan atau "Sarasehan Seloso Kliwonan" yang dihadiri oleh para begawan negeri mulai dari: Ki Ageng Suryo Mentaram, Ki Hajar Dewantoro, Ki Sutopo Wonoboyo, Ki Suryo Dirdjo, dlsb.


Hanya kalau hajatan kopi morong yang rutin diselenggarakan di kota Malang dalam malam-malam yang hening juga bening auranya tadi. Digawangi oleh dulur lawas, yaitu: Ki Dr. Ahmad Imron Rojuli.


Seorang lelaki yang biasa-biasa saja. Namun punya pikiran yang tidak biasa-biasa saja.


Bukankah sikap, perangai, dan aksesoris dalam hidup setiap manusia, boleh lah sederhana.


Tetapi soal pikiran, ide, juga gagasan, tidak boleh sederhana, ia harus besar.


Itu adalah algoritma atau cara berpikir dan cara bertindak yang telah diajarkan oleh para founding fathers di negeri ini!


Hanya tiap anak bangsa lah, yang hidup di jaman millenial sekarang. Diharapkan bisa mencontohnya dalam ruang aksi masing-masing dimanapun saja ia hidup dan mengabdi untuk negeri!

Baca Juga: Tinggal Bermanifest Saja


Dalam kegiatan dalam kemasan kopi morong ini. Mereka berkumpul mengumpulkan balung pisah disebuah tempat. Untuk berbagi rasa, pikiran, juga bertukar kata, tentang perjalanan panjang bersama hingga malam ini masih bisa hidup dan bisa kumpul bareng!


Hidup ini adalah anugerah. Sehingga layak dan patut dirayakan dalam sebuah pasamuan-pasamuan, yang selalu bercitarasa hidup yang sejati dan kerap memuja-Nya dalam segala keadaan apapun!


Itulah esensi dan aplikasi dari Urip Iku Urup, yang termanifestasi dalam kasunyatan urip yang sebenarnya.


Kalaulah fenomena sosial juga dipikirkan. Lalu tafsir sosialnya dibuat sebuah sintesis. Tidak lain sintesisnya itu adalah untuk memperbesar terbukanya selubung jiwa yang sebelumnya gelap menjadi terang benderang!


Ada ingatan, ada memori, ada kejadian, ada peristiwa, yang telah lama berlalu dipanggil kembali. Mengkonfirmasi itu semua dalam sebuah persamauan adalah sebuah kemewahan dan kemegahan bagi jiwa yang selalu fitri dan murni.


Merawat itu semuanya adalah kesadaran pribadi seorang pejalan dalam memaknai tafsir sosial yang bisa dilakukan oleh manusia yang berproses. Aksi nyata dalam ruang kopi morong bersama. Adalah pemahaman yang coba dimengerti saat dahulu melakukan debat dalam aras diskusi panjang dalam perjalanan lawas sebagai aktivis mahasiswa di masa silam.


Setiap aktivis memaknai sebuah kontribusi dalam hidup selanjutnya.


Tidaklah harus seragam dalam ruang aksi pribadi dengan aktivis lainnya.

Baca Juga: Belajar Manajemen Dari Semut Hitam


Pesan kuatnya: Urip iku Urup lan kudu mupangati!


Tuhan dengan segala sifatnya yang agung. Tidak lagi berjarak lagi, sesaat anak manusia mencoba memaknai aksinya yang sederhana untuk merawat kasih juga cintanya. Dalam bentuk aksi-aksi kecil bersama sesamanya, bersama koleganya, bersama tetangganya, dan bersama anak manusia yang lainnya!


Bermodal kopi morong yang sederhana. Mampu mengalirkan rasa suka saat diseruput air kopinya dalam gelas dan cangkir kecil bersama-sama, tak ketinggalan camilan jajan pasar di alas ubin bertikar!


Itulah praktik kepemimpinan. Dimana semua yang berkumpul merasakan rasa yang sama. Hidup kudu urip mendorong rasa bahagia yang saling bermunculan ketika mampu menyediakan ruang berkumpul bersama!


Kopi morong adalah praktik kerja ideologis. Muatan lain dan selanjutnya, biarlah masing-masing isi kepala dari setiap manusia yang berkumpul di situ. Akan dikuatkan untu melakukan perannya masing-masing seturut talent dan passion masing-masing!


Ajaibnya kopi morong ya begitulah. Ia mampu mendekatkan yang jauh, melekatkan yang sudah dekat. Peran itu tak mampu diambil oleh teknologi apapun, di era digital sekarang!


Demikian saja. Hidup kopi morong!


AAS, 16 April 2023
Teras Omah Rungkut Surabaya

Editor : Wahyu Lazuardi