Catatan MAS AAS

Bertemu 7 profesor, 7 Doktor, dan 7 satpam

Reporter : -
Bertemu 7 profesor, 7 Doktor, dan 7 satpam
Catatan MAS AAS

Hari ini bertemu 7 profesor, 7 Doktor, dan 7 satpam. Dari berbagai fakultas di kampus UB.


Siapa saja orang nya, tidak akan diceritakan dalam tulisan ini.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus


Namun yang jelas, salah satu profesor dan Doktor yang ditemui adalah tim promotor. Terus, mari dilanjutkan membacanya ya!


Sekarang ijinkan penulis untuk membagi topik bahasan saat bertemu orang-orang top tersebut di kampus UB tadi: khusus tema yang diobrolkan dalam momen diskusi juga konsultasi tersebut.


Ada topik mesin AI, budaya, kewirausahaan, organisasi, karir, dan dengan satpam masalah klasik bagaimana menambah income. Sepertinya kalau soal income Dudu awakmu ae jek, begitu penulis menimpali omongan kolega penulis yang berprofesi menjadi satpam, upps!


Topik disrupsi mesin AI dibahas tadi dengan salah satu profesor muda di UB, dan perihal budaya membahasnya, penulis dengan profesor yang sudah sepuh. Dan perihal organisasi serta karir dengan para doktor muda.


"Mas Broto, sudah tekuni saja yang Anda kerjakan sekarang: mengajar, jualan, dan menulis lah terus," tidak ada basa dan basi profesor muda eksentrik langsung spontan berucap begitu kepada penulis! Saat penulis bersemuka dengannya.


"Jiangkrik, durung ngomong, wis diceramahi, tapi sing di omongno si profesor muda itu bener sih,"pikirku!


"Apa tidak ingat mas Broto, jangan buat ikan bisa terbang?" Spontan penulis langsung menjawab," Ya, mana bisalah prof?"


"Nah, Anda cerdas begitu, mas Broto?"


"Jiangkrik, arep sowan profesor tujuane halal men ora haram maneh, tapi malah langsung dikasih materi kuliah 3 SKS!"


Akhirnya obrolan pun berlangsung kurang lebih 30 menit. Dan simpulan pendeknya. Bagaimana pun manusia masih punya peluang menang mengalahkan mesin AI dengan tetek bengek olahan algoritmanya. Asal manusia itu masih mau melakukan eksperimen dan merawat intuisinya.


Kemudian berlanjut penulis bertemu silaturahim dengan profesor yang sudah sepuh. Dan kami berdua berbicara menyoal masalah budaya. Kebetulan saja profesor ini hadir dalam acara bedah buku penulis yang berjudul Urip iku Urup. Dan kami berdua langsung auto akrab di gedung acara pertemuan tadi.


"Mas Agus, teruslah menulis, dan jadilah diri yang otentik. Karena sebagai penulis memiliki tulisan yang otentik serta unik, adalah sebuah harta karun!" Demikian pembukaan yang disampaikan oleh profesor tersebut. Saat acara halal bihalal tadi di Samantha Krida UB.


Obrolan mengenai perihal budaya tersebut dilanjutkan bagaimana harus mendidik mahasiswa kita. Sebagai pendidik, tugas utama kita adalah membuat dan menjadikan mahasiswa tersebut bahagia mas Agus. Sepakat prof, dan kami berdua melanjutkan obrolan gayeng tersebut dengan menyedot rokok bersama. Tak lupa tentu kopi yang telah disiapkan panitia. Kebetulan sang profesor sepuh itu rokoknya sama denganku, sehingga aku ambilkan satu pak garpit buat beliau yang ada di saku celana, lalu kita lanjutkan guyon maton parikeno tersebut di sudut pojok gedung sambil kami nikmati suguhan tembang dari biduan yang tengah beraksi di panggung.


Posisi penulis, hanya menjadi penyimak yang aktif saat berlangsung obrolan dengan profesor tersebut, sesekali, mengajukan pertanyaan kepada beliau. Dengan tujuan agar pemikiran budayawan tersebut keluar semua.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat


Tidak berhenti disitu kami berdua lalu membincangkan relasi antara budaya dan agama. Dan obrolannya tentu semakin gayeng saja, segayeng sinden yang tengah nembang!


Lalu setelah bertemu kedua profesor dengan genre serta spirit keilmuan yang berbeda itu. Penulis melanjutkan untuk bertemu profesor lainnya. Kami pun berbicara bagaimana sebuah grand teori harus dikenali saat membuat sebuah penelitian, tak cukup di situ, juga harus mengenal instrumen penelitian dengan apik. Karena bekal menjadi seorang peneliti harus memiliki kemampuan secara reflek perihal: grand teori, teori, konsep, dan lain-lainnya. Dan jujur, apabila saya ingin berdiskusi perihal metode penelitian. Profesor ini adalah tempat yang paling tepat harus aku temui untuk berdiskusi. Modalnya murah saja, cukup bawa rokok kesukaan beliau saja. Segala kegelisahan ku perihal membuat sintesis tentang terjadinya sebuah teori, menjadi terang benderang kemudian!


Sedangkan keempat profesor lainnya tidak melakukan diskusi panjang seperti ketiga profesor di atas. Penulis hanya uluk salam tanda takdim kepada para guru dan senior yang telah menjadi guru besar tadi.


Lalu sore nya penulis bertemu dengan para doktor muda. Yang kualitas dan kuantitas ilmunya juga bukan kaleng-kaleng. Berkumpul dengan ketiga doktor muda tadi, penulis mendapatkan ilmu yang banyak. Ilmu bagaimana menjadi seorang ilmuwan, dan ilmu bagaimana menjalani kehidupan. Kebetulan saja posisi penulis masih berstatus mahasiswa. Diskusi dengan para Doktor muda itu menjadi hal yang sangat menarik!


Artinya ketiga doktor muda tadi, satu lulusan dalam negeri, dan yang dua lulusan luar negeri. Ketiganya memberikan sebuah landscape bagaimana ketiganya bisa berjalan dan sudah sampai etape sejauh ini, dalam perjalanan akademiknya. Apa saja yang harus ketiganya prioritaskan dalam proses karir mereka.


Setengah hari berkutat dengan tema yang cukup berat. Tentu saja penulis harus melipir mencari keseimbangan dalam hidup. Bertemulah penulis dengan bolo sadukan lawas di daerah Ketawang Gede, dan kami berdua pun memanggil memori lama yang dahulu pernah terjadi, pernah nakal bersama di daerah Kertoraharjo. Saat dahulu menjadi mahasiswa S1 di UB.


Dan seharian ini tadi di kampus UB. Adalah sebuah kegiatan yang telah dirancang sejak dinihari saat berangkat dari Surabaya, dimana penulis tinggal, adalah ingin bertemu tim promotor.


Namun, ternyata Tuhan tidak tidur. Tujuan pertama berhasil, siap untuk melaksanakan ujian kelayakan satu dua Minggu ke depan. Namun juga bisa menghadiri halal bihalal dan bertemu dengan para orang pintar! Yang tak pernah ada dalam rencana sebelumnya.

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki


Dan meski saja raga ini sebenarnya hendak segera memeluk guling dan bantal di peraduan rumah tercinta di Surabaya.


Namun, aku ajak kedua jempol ini untuk beribadah pada malam ini, yaitu menulis perihal kebaikan yang tengah penulis tadi alami selama seharian tadi di UB.


Dan karena baterai hape sudah menipis, dan perut pun sudah memberontak karena belum makan malam.


Maka gerobak itu aku parkir perlahan di sebuah warung. Buat makan lalu menuliskan kisah tidak biasa tadi.


Terima kasih teruntuk para profesor dan Doktor hebat, dari kampus UB tercinta. Semoga mereka selalu sehat, dan bahagia.


Dan di atas semuanya itu. Maturnuwun Gusti, amin.

 

AAS, 02 Mei 2023
Warung Makan Pandaan

Editor : Wahyu Lazuardi