Catatan MAS AAS

Rindu Tanah Sumatera

Reporter : -
Rindu Tanah Sumatera
foto kenangan ditanah sumatera

Ini tentang rasa rindu akan "Tanah Sumatera"! Utamanya rindu ingin mendengar tentang suara-suara merdu dari kawan-kawan yang pernah bekerja di PT. Pulau Sambu Guntung, Kateman, Indragiri hilir Riau!


Suara-suara merdu yang terdengar dari rumah-rumah tempat tinggal karyawan yang sudah disiapkan oleh perusahaan. Dari dalam rumah panggung di atas parit itu hampir tiap hari, tidak saja waktu pagi, siang, dan malam. Lagu-lagu dari Tanah Minang terdengar mengalun merdu.

Baca Juga: Hasrat Menulis Sesuatu


Dan penulis saban hari melewati rumah-rumah tersebut. Untuk berangkat kerja shif pertama menuju ke pabrik. Dan siang ini, entah mengapa, saat sedang dalam perjalanan menuju makaryo bekerja yaitu mengajar di kampus ITB Yadika Pasuruan, ingin sekali memutar lagu-lagu dari Tanah Sumatera, untuk mengobati rasa rindu akan tempat perjuangan tersebut.


Lagu berjudul: Panek di awak Kayo di urang, rantau den pajauh, sakik diduokan, dan contoh hanyo di denai, terdengar samar-samar di telinga, lewat aplikasi spotify!


Di saat mendengar lagu yang sama, dua dasawarsa yang lampau, diri ini menerawang jauh: "Sampai kapan harus hidup di Tanah Sumatera? Dan kapan bisa pulang ke Tanah Jawa, sambil duduk di luar rumah mess perusahaan, tak lupa minum air teh yang dibuat dari air gambut," indah sekali momen penantian itu!


Alamak, memori itu terlihat jelas bak menonton film pada siang ini. Bagaimanapun saja, manusia itu dalam hidupnya sangat diikat oleh tempat, oleh kejadian, oleh lingkungan, dan oleh momen-momen indah yang pernah terjadi di dalam hidupnya.


Dan memori saat bekerja pertama kali di Tanah Sumatera saat itu, di PT. Pulau Sambu Guntung. Sungguh menyenangkan untuk dikenang.


Ada banyak nama dari perusahaan tersebut, yang hari ini masih terngiang jelas di benak ini: ada bapak Saragih, Situmorang, Fitri, Tumpal, dan lainnya masih banyak, namun rada lupa namanya!


Sebuah pulau kecil dikelilingi sungai-sungai besar, menjadikan diri ini seakan sedang dididik untuk belajar dan mengerti akan arti penting nya dapat sebuah pekerjaan dan bagaimana harus menjadi karyawan yang baik saat bekerja! Pulau Sambu Guntung, Pulau Burung, Pulau Kuala Enok, dan sesekali apabila sudah gajian bisa nyeberang ke sungai sebelah, atau malah yang jauh sekalian main ke Tembilahan atau malah ke Batam! Metime untuk melepas penat setelah bekerja di pabrik!


Tempat-tempat di atas begitu berkesan: kapan bisa minum air hujan lagi, juga minum air gambut, lalu dibuat untuk ngopi juga ngeteh.


Malam-malam duduk di luar rumah, sambil kami bersama-sama beryanyi bersama karaokean dengan kawan-kawan dari Tanah Minang, juga Batak, yang sama-sama berstatus karyawan perusahaan. "Ley, kapan MOMEN kita ulangi, lakukan kembali ya!" Dan kawan dari Tanah Batak itu menjawab," Minggu depan karaokean lagi ya mas Agus!"

Baca Juga: Tinggal Bermanifest Saja


"Ok, siapa takut! Jangan lupa ubo rampene yo.


Duduk di luar rumah kala malam, sambil menunggu para pekerja dari bagian produksi pulang menuju ke mess nya adalah sesuatu. Dan karena sebagai anak yang masih muda, di situlah waktu yang di tunggu-tunggu, untuk sekadar bercanda dan menggoda para karyawati tersebut, saat pulang ke mess. "Ley, lanjutkan nyanyinya dong, jangan tengak- tengok perempuan saja, besok kan bisa ditemui di pabrik, hehehe!"


Dan masih melalui aplikasi yang sama: lagu-lagu dari Tanah Batak mulai terputar, setelah sebelumnya lagu-lagu dari Tanah Minang menemani perjalanan diri ini ke kampus. Lagu berjudul: Dongan matua, Jujur do Au cinta, dan Mardua dalan, terdengar pelan secara auto bergantian masuk di kedua telinga ini!


Meski saja kisah dan cerita saat menjadi karyawan di PT. Pulau Sambu Guntung, sudah berlalu puluhan tahun lebih, namun tidak bisa diingkari, kadang ada rasa rindu akan tempat itu lagi.


Semoga suatu saat dengan caranya semesta diri ini bisa mengunjungi tempat dan daerah itu lagi. Sejarah itu tak bisa dilupakan.

Baca Juga: Belajar Manajemen Dari Semut Hitam


Semoga PT. Pulau Sambu Guntung, selalu jaya, menjadi tempat jujugan bagi banyak anak bangsa untuk menjajal keberuntungan hidupnya, dengan bekerja menjadi salah satu karyawan di perusahaan tersebut.


Sepertinya penulis segera harus naik bus yang akan membawa diri ini ke Pasuruan. Karena kalau terlambat, kasihan itu para mahasiswa sudah kadung menunggu di dalam kelas. Karena dalam kontrak belajar yang sudah disepakati, tidak boleh telat, dan aturan itu tidak saja berlaku bagi mahasiswa pun juga mengikat bagi dosen nya! Kalau tidak, kita sebagai pendidik bisa-bisa di cap hanya bisa omong doang, oleh mahasiswa, kan, tak enak juga.


Demikian.

 

AAS, 26 Mei 2023
Terminal Bungurasih Surabaya

Editor : Wahyu Lazuardi