Catatan Mas AAS
Buku Itu Legacy Sebuah Peradaban Dibangun
Hal kebajikan, sesuatu yang menginspirasi, sebuah jejak torehan prestasi manusia pada jamannya yang mampu men-drive perilaku banyak orang di sebuah wilayah tertentu. Adalah layak didokumentasikan, ditulis lalu kemudian dijadikan sebuah buku, idealnya begitu!
Kampung Cempluk dengan segala keterkenalannya. Dan cerita tak bersayap akan jejaknya, dari mulai gagasan awal saat dibuat, lalu embrio ide itu dieksekusi menjadi sebuah pilihan-pilihan kegiatan yang produktif senafas dengan atmosfir kehidupan masyarakat di sebuah dusun. Di daerah sebuah gang yang namanya Kampung Cempluk di daerah Dieng Malang.
Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Penghargaan Qori Terbaik MTQ Nasional
Jejak dan keberadaan dari Kampung Cempluk tak lepas dari sebuah nama yaitu: Redy Eko Prastyo. Anak kelahiran Besuki Jawa Timur ini, adalah orang utama dan penting atas lahirnya embrio awal dari kampung Cempluk tersebut, berlanjut dengan gerakan-gerakan yang ia lakuan secara masif dengan warga yang dirupakan dalam kegiatan tahunan Festival Kampung Cempluk.
Si Redy selain sebagai seorang seniman yang multi talenta: hampir semua alat musik mampu ia bunyikan dengan baik melalu jari jemari tangannya, ia juga manusia yang melek sekolahan. Dan beyond dari semuanya ia adalah seorang intelektual organik yang ingin menurunkan pikiran yang besar dan kadang masih di tataran langit dan awang-awang, ia coba elaborasi secara intensif dalam tindakan praksis di lapangan. Dan kampung Cempluk adalah buktinya.
Kenapa pendidikan begitu penting bagi putra asli Besuki ini. Karena ia sadar: "Pendidikan adalah sebuah jalan untuk membuka banyak kesempatan hidup untuk bisa berkontribusi kepada semesta," itulah yang kami yakini, saat kami berdua bertemu sedang membahas perihal kontribusi apa yang bisa kami lakukan sebagai anak kandung dari Ibu Pertiwi ini, untuk terus bergerak dalam api spirit yang produktif yaitu berkarya sebagai seorang manusia.
Meski saja jiwa seni itu tetaplah kita terus peluk bersama-sama, bermain genjrang-genjreng sambil minum kopi pun tetap berjala, sebagai ruang rehat dari hiruk pikuk rutinitas kehidupan sehari-hari!
Dan omongan itu ia buktikan sendiri sekarang, dalam laku hidupnya: selesai kuliah S2 lalu sekarang lanjut kuliah S3 di fakultas dan kampus yang sama: Fisip UB.
Boleh jadi eksistensi kampung Cempluk yang telah mengudara berkumandang dengan merdu di daerah Malang dan sekitarnya sekarang. Telah mampu mengundang banyak pemerhati budaya, sejarah, pencinta tradisi dan para pembakti kampung ingin lebih mengenal apa itu kampung Cempluk, dan track record karya-karyanya.
Oleh karenanya banyak pemahat dan pelukis kata ingin juga berkontribusi: meng-capture apa yang mereka pahami selama ini tentang kampung Cempluk dengan sebuah tulisan. Serta sebongkah motivasi dan apresiasi tuk disematkan kepada para Pioneer berdirinya kampung Cempluk di daerah Dieng Malang, dan juga tentunya kepada sang penggagas utamanya Redy Eko Prastyo.
Maka kumpulan tulisan yang dirajut disatukan menjadi sebuah buku ini, menjadi momentum selanjutnya untuk menguatkan eksistensi dari kampung Cempluk di masa-masa mendatang. Mister AAS juga tidak ketinggalan menyumbang satu tulisan di buku tersebut.
Baca Juga: Disorot Prabowo, Pemkot Malang Siap Tertibkan Baliho Demi Estetika Kota
Tak pelak dari terbitnya buku ini, diharapkan bisa menjadi inspiring bagi anak-anak bangsa lainnya di bumi Pertiwi ini, untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh seorang Redy Eko Prastyo, meski konten serta wilayah pengabdiannya bisa berbeda programnya, keberpihakannya.
Selamat dan sukses teruntuk karya buku perdana yang sudah dibuat, semoga akan lahir karya-karya buku berikutnya kakak Redy.
Genjrang-genjreng tetap dilaksanakan, melebarkan cakrawala berpikir dalam ruang-ruang belajar dan diskusi yang membuka labirin di dalam otak agar semakin terbuka di dalam kelas kuliah doktoral juga terus dijalani secara disiplin, dan kemudian tidak akan pernah berjarak dengan semua entitas anak bangsa di negeri tercinta untuk menyampaikan pesan yang sama: mengajak mereka juga mau memberi sesuatu yang berarti kepada negeri ini.
Kredo itu harus kita terus rawat kakak Redy. Apinya jangan sampai mati.
Selalu bahagia kakak Redy, dan jangan lupa bilang: terima kasih kepada Bapak Jokowi ya, karena sudah bisa sekolah hingga level doktoral sekarang serta dapat beasiswa pula.
Baca Juga: Belajar Ulang Menjadi Ilmuwan: Catatan Seorang Doktor dari Sebuah Percakapan Menjelang Dies Natalis
Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan.
Jangan lupakan itu.
JASMERAH.
AAS, 12 September 2023
Kota pahlawan Surabaya
Editor : Yuris. T. Hidayat