Catatan Mas AAS
Ini Karyaku, Mana Karyamu
Guyon maton parikeno diluk rek! "Esuk-esuk ngedumel gak apik jare Mbah Bungkul!"
Menulis adalah layaknya sebuah kegiatan meditasi. Kata dan kalimat yang kita pilih selaras dengan keluar masuk nya nafas kehidupan yang kita hirup!
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Pekerjaan memilih huruf-huruf yang digunakan dalam menulis, begitu terasa menyenangkan sekali, bak menikmati aliran nafas kembali. Kapan perlu mengambil nafas panjang, pendek, bahkan rada di tahan untuk mendapatkan efek kejut langsung dari latihan olah nafas!
Memang benar tabungan kosakata, frasa, juga metafora guna memberikan efek animasi akan makna dari tulisan bisa diperoleh dengan aktivitas membaca yang terjadwal dengan teratur. Namun tulisan tidak sebaik dan sekuat bila dipahat nya dengan keheningan jiwa laksana saat melakukan meditasi, mas bro!
Coba saja buktikan sendiri! Karena tulisan layaknya mewakili energi, vibrasi, dan frekuensi si penulisnya. Bukan sekadar akumulasi kalimat yang dibuat hasil copas dari tulisan orang lain semata.
Tulisan itu barang hidup bukan benda mati, ia laksana manusia yang hidup dengan segala perangainya: baik, buruk, senang, sedih, dan semacamnya!
Sedangkan bernafas saja sudah terlalu lama tidak kita nikmati, hanya sekadar rutinitas karena kita mahkluk yang hidup itu saja. Tahu-tahu bernafas kalau berhenti, tahu sendiri bakalan kemana raga itu!
Di warung kopi singgah sejenak usai antar istri ke kantornya. Dan kembali bermeditasi, dengan mengkisahkan kegiatan sendiri, bukan kegiatan orang lain, karena setiap orang sudah begitu _rempong_ dengan urusannya sendiri, upps!
Jadi menikmati hidup yang sejenak, dalam waktu yang juga singkat ini! Adalah dengan kegiatan mengaduk-aduk apa saja yang tersirat dalam benak dicoba menjadi sesuatu yang tersurat dan bisa dibaca artinya, menulis lah, kegiatan yang asyik dilakukan!
Soal tematik dan pokok bahasan bisa banyak hal: dari warung kopi, bisa dibahas penjualnya yang bisa tawarkan fasilitas tambahan untuk pelanggannya, dari barang dagangan yang dijual, mulai keripik, kerupuk, gorengan, minuman kopi, teh, susu, atau Joshua campuran susu, dan minuman penguat lainnya yang banyak disukai para pekerja lepas! Lepas dari pengawasan supervisornya.
Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Mendengar kata-kata mu kadang-kadang terasa garing karena banyak keluhan, sumpah serapah, yang membuat dirimu nyata-nyata sebagai pecundang kehidupan. Mendingan kata verbal mu itu bisa kau konversi menjadi bahasa tulis yang mampu berumur panjang dan abadi, dan tidak hilang menguap saja layaknya omonganmu seharian kemarin!
Ternyata harta karun pemahaman dan pengetahuan sejak di buaian hingga usia kita yang sekarang. Telah begitu banyak *tabungan* pengertian yang sudah tersimpan dalam benak begitu lamanya, yang bisa kita cairkan dalam deretan aksara tulis.
Entah sebagai apapun diri kita yang sekarang. Namun cerita setiap etape dalam hidup kita menjadi sebuah *oase* penyemangat kehidupan bagi manusia lainnya!
Urusan capres dan pilpres lupakan sejenak, karena sudah ada panitianya. Justeru yang ditunggu adalah panggung hidup dan kehidupan yang akan dirimu gelar untuk sekarang dan waktu mendatang.
Kalaulah mau memanggil panggung lawas yang sudah diukir sebelumnya juga tidak soal, namun kan sudah berlalu, itu hanya akan jadi cerita nostalgia, bagi seorang aktivis rada phobia katanya kalau dengan cerita sukses masa lalu, hehehe!
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Ini tulisanku, mana tulisanmu?
Begitu.
AAS, 11 Oktober 2023
Taman Bungkul Surabaya
Editor : Nasirudin