Catatan Mas AAS

Duta Kehidupan

Reporter : -
Duta Kehidupan

"Yang akan mengubah hidup mu adalah dirimu sendiri!"

Beberapa pekan ini informasi dan berita yang menguat di mass media cetak, elektronik, dan publik adalah: "Glorifikasi enaknya menjadi anak si Tuan Besar"!

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Terus saat Anda hanyalah anak si Tuan Kecil apa tidak bisa berdaya hidupnya. Tidak bisa menjadi apapun seturut apa yang Anda impikan dan cita-citakan. Sekali-kali bila Anda mengamini tidak mungkin terjadi, benar-benar sial lah hidup Anda.

Kita tidak bisa memilih menjadi anaknya siapa saat lahir dan hidup sementara di dunia ini. Apa yang bisa kita pilih adalah menjadi sesuatu yang dengan mantab kita tuju, bahkan kalau itu menjadi Presiden sekalipun, bukan sekadar Wakil Presiden. Dan kabar baiknya semesta tidak sekadar hanya mengantarkan Anda menjadi bakal capres dan wapres saja, namun benar-benar menjadi presiden dan wakil presiden!

Tinggal Anda hitung serta sadari sedalam relung batin sendiri. Dan bekerjalah untuk itu, sejarah telah membuktikan Abraham Lincoln mampu melakukan itu! Dan penulis sangat berkepentingan agar anak-anak bangsa di negeri ini, tidak merasa riweh juga rempong bila bukan anaknya si Tuan Besar, akan hanya puas menjadi pecundang di dalam panggung sandiwara kehidupan ini!

Hari-hari ini terasa getir, dan rada ironis. Seakan sebuah kasta akan menjadi jalan utama, seseorang menjadi dan mencapai masa depan hidup nya yang gemilang.

Bagi kalangan yang terdidik dan masih punya nyali juga nurani, sekali-kali tidak bakalan diam. Dengan mulutnya ia berbicara, dengan jemarinya ia akan menulis, bahkan dengan batinnya ia akan berdoa, semoga di Nusantara ini akan baik-baik saja, untuk sekarang dan selamanya.

Senja kala sedikit terjadi di negeri ini, sesaat sebuah hasrat begitu berkuasa, mencabik-cabik ruang kesadaran manusia di dalam kehidupan pada ruang publik sekarang ini. Semua berlindung dan mengumpulkan argumen, ini demi bangsa, ini demi negeri. Namun jangan lupa kawan: energi, vibrasi, juga frekuensi itu di rasakan dalam ruang batin juga rasa, bukan sekadar panca indera fisik yang sekadar didengar dilihat saja!

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Kurang berhasrat apa saat kisah asmara antara begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, namun demikian kesadaran keduanya lah yang memimpin untuk bisa beyond keluar dari hasrat kerdil dan menuju kepada hasrat yang memberdayakan tiada lain untuk manembah kepada Gusti. Itu adalah sejarah dan narasi peradaban di bumi Jawa, yang bisa menjadi tetenger untuk sedikit menoleh, saat hasrat akan isi dunia tengah menggelora sedemikan rupa! Dan susah dikendalikan oleh keinginan liarnya.

Tentu juga dalam hal berkuasa barangkali. Karena menjadi penguasa memang benar-benar enak!

Ah, sudah lah. Tulisan ini akan semakin panjang kalau mau diteruskan apalagi sambil mengutip pikiran orang besar dan segala teori yang berkaitan. Dan penulis tak kuasa untuk menunjuk kesalahan, kepada pihak, institusi, apalagi orang, dan juga tokoh. Sedangkan ke empat jari jelas-jelas menunjuk kepada diri sendiri. Tulisan ini menegaskan bahwa di sini memang tiada yang sempurna, itu saja. Mau dibantah? Silakan.

Hanya pesan utamanya dari tulisan mister AAS pada pagi ini adalah: meski Anda hanya anak dari si Tuan Kecil, juga berhak sukses dan menjadi apapun saja bisa: menjadi Presiden, Wakil Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Rektor, bahkan hanya sekadar Dekan.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

"Wis Rasah kaget lan gumun, melihat polahnya para capres yang tengah berburu cita-citanya menjadi pemimpin RI!"

Setiap diri kita memiliki kewajiban untuk mau membayar mahar dari cita-cita pribadi yang diimpikan, titik!


AAS, 8 November 2023
Kota pahlawan Surabaya

Editor : Yuris. T. Hidayat