Catatan Mas AAS

Golek Bebungah Ati

Reporter : -
Golek Bebungah Ati
Mas AAS

"Saat kamu tersenyum, aku pun ikut tersenyum!"

Di tengah penghujung hari. Siang pun hilang lalu petang tiba, diawali datang nya senja bebarengan siluet kekuningan di atap langit sisi ufuk barat bumi kota pahlawan Surabaya!

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan seorang Ibu Tua duduk sendirian di lapak warung kopi pinggir jalan. Menunggu pengunjung datang ke lapaknya, dan mampirlah aku di situ.

Surabaya layaknya desa yang besar saja. Suasana jalan besar rada sepi tidak seperti biasanya.

Semua penghuninya, sepertinya sedang berlibur ke luar kota. Sepertinya semua orang sedang dibahagiakan oleh datang nya momen hari natal dan sebentar lagi tahun yang baru pun datang.

Libur panjang.

Dan secangkir kopi sudah diseduh dan siap diseruput. Tersedia di atas meja yang sudah rada lapuk, dan kursi pun sama.

"Niki mas kopi ne."
"Iyo Mak, suwun!"

Berbagai tempat tujuan wisata telah diserbu oleh kaum urban yang ingin memanggil kembali pengalaman hidupnya di masa lalu saat menjadi kaum rural.

Mereka rindu momen-momen indahnya. Sejujurnya mereka tidak begitu nyaman dengan kebisingan kota, apa daya kahanan lah yang membuat demikian terjadi.

Atau barangkali fenomena bahwa hidup itu sejatinya mung mampir ngombe dan kejadiannya tak lebih mulur mungret senang sejenak, lalu kebosanan, dan kemudian sepi itu menghampiri.

Dan manusia nya berkeliling ke tujuh penjuru dunia untuk menghindar dari lakon tersebut.

Bensin habis 500 ribu, tol habis 400 ribu, belum ubo rampe pengganjal perut saat mengemudikan mobil di perjalanan, begitu gerutu yang disampaikan netizen. Dan saat tiba di TKP (destinasi menuju tempat wisata) macat parah terjadi.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

"Mulih ae Yo Bu, ajak sang bapak kepada istrinya!"

"Kadung, tekan kene pak e."

"Lha macet ngene lho Bu," tiwas pegel sikil karo awak Iki!"

Dan penulis pun, bisa membayangkan kasunyatan yang tengah terjadi di TKP. Sepertinya keindahan itu hanyalah fatamorgana saja, bila kita berburu ke luar diri, ups!

Semua fenomena itu dilihat penulis di aplikasi tik tok, semua gerutuan, itu bisa dilihat semua oleh semua kaum urban, yang tengah berburu rasa kebahagiaan nya! Bikin senyam-senyum saja melihatnya.

Dan faktanya aku begitu bahagia saat bisa guyon maton parikeno dengan si Ibu tua, yang sedang berharap warung kopinya yang mungil nempel di tembok gedung yang tinggi ramai pembeli!

Dan kami berdua malahan bercerita tentang kasih Nya, pada petang kali ini. Sesuatu.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Lupakan sejenak acara liburan ke luar kotanya yang tidak jadi. Dan lupakan sejenak pula, para pendukung Paslon Capres yang tengah berjibaku menangkan junjungan nya.

Sepertinya nuansa dan suasana rada sunyi, yang petang ini tengah terjadi di kota pahlawan. Layak harus disyukuri.

Dan sinambi menemani si Ibu Tua berbincang, penulis seakan diajari oleh semesta untuk membaca sesuatu. Yang tiap bacaannya perlu dimaknai ulang. Agar bisa meresap ke dalam sanubari!

Dan momen seperti ini tak jarang hanya setahun sekali bisa ditemukan penulis.

Dan bagi penulis itu begitu menarik!


AAS, 26 Desember 2023
Kota pahlawan Surabaya

Editor : Yuris. T. Hidayat