Sinkronisasi Dalam Hidup

Reporter : -
Sinkronisasi Dalam Hidup
Mas AAS

Kecantikan adalah selaras dengan apa adanya dirimu." --- Peter Nivio Zarlenga

 

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Selamat pagi para pembaca budiman semuanya. Jumpa kembali pagi ini bersama Mister AAS, dalam platform literasi, tulisan pagi.

 

Seperti biasanya. Apabila tidak _nge-vlog_ tentu saja, Mister AAS merayakan hidup pada hari yang dijalani adalah dengan memahat huruf. Ada banyak narasi yang layak ditulis, sebagai bentuk pengabaran kepada pembaca, bahwa dunia ini indah. Mari bersama kita mensyukuri nya.

 

Mister AAS mengabarkan bahwa di bumi pahlawan Surabaya. Cuaca rada mendung, _hawanya_ horang kaya. Banyak uang, sedikit pekerjaan, hanya ada bahagia dan menikmati hidup saja. Begitu kata orang tua Mister AAS dahulu, semoga kenyataan demikian, amin.

 

Bukankah, Sang Pemilik Semesta. Sangat ingin kita bisa hidup berbahagia di sini, lalu saatnya tiba, nanti kita akan pulang bertemu dengan Sang Kekasih Agung tersebut. Semoga demikian yang terjadi, aamiin.

 

Lalu apa yang ingin diceritakan lebih lanjut berkenaan dengan narasi kecil dalam tulisan ini.

 

Begini, kemarin Mister AAS bertemu kawan lama di udara. Kami berdua terlibat dalam obrolan telpon melalui saluran gratis WhatsApp. Kami berdua boleh dikatakan telah bertumbuh sebagai manusia: bertambah umur, juga bertambah pengertian, karena juga sudah sekolah sedemikian lamanya di bangku sekolah formal. Pada level selanjutnya, kami berdua berbincang perihal *misi hidup* masing-masing. Dan terjadilah obrolan yang cukup panjang menceritakan perjalanan hidup masing-masing diselingi tawa tak berkesudahan.

 

"Andi, sepertinya aku harus mengucap terima kasih kepada semesta, semenjak diriku menemukan misi hidupku, hidupku jadi terasa mudah. Banyak sinkronisasi terjadi," bukaan obrolan awal dari kawan lama tersebut!

 

"Oh, iya ta bro, baguslah. Aku ikut senang mendengarnya ya." Lalu bagaimana caranya menemukan misi hidupmu tersebut.

 

"Andi, aku benar-benar memperhatikan sapaan dari semesta, untuk beberapa waktu ini. Selain tentunya materi yang aku dapatkan saat di sekolah doktoral ku. Awalnya dari situ saja sih, Andi. Aku menemukan misi hidup yang harus aku jalani."

 

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Kawan lama ini, memanglah orang berpendidikan. Ia juga seorang pendidik. Namun ia merasa ada yang perlu ia lakukan di dalam hidupnya. Karena ada ruang kosong di dalam jiwanya yang harus ia isi, itulah sekadar abstraksi sebuah cerita yang dialami kawan lama Mister AAS ini.

 

Ada klu yang boleh jadi sudah jamak lumrah kita dengar bersama. Bahwa ruang kosong dalam jiwa itu harus di isi oleh *sesuatu* yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Namun, pelajaran yang bisa diambil dari kawan lama tersebut. Ia serius _nyebur_ dalam kolam yang ia pilih menjadi misi hidupnya itu. Ia melakukannya bukan karena tuntutan, bukan karena mengejar materi, meski ia sekarang menjadi *magnet rejeki* hidupnya. Ia berkata, "Andi, kamu harus tahu satu hal. Ada seorang yang beri kabar kepadaku via WhatsApp, ia mengucapkan terima kasih kepada ku karena hidupnya berubah, atas satu pertolongan yang aku berikan kepadanya pada suatu ketika. Dapat kabar pesan seperti itu Andi, aku senang bahagia bukan kepalang."

 

Dan kini kawan lama itu. Semakin mantab menatap hidupnya ke depan. Ia tidak berkompetisi dengan orang lain lagi, hidupnya berkompetisi dengan dirinya sendiri.

 

Sepertinya itu saja, para pembaca yang budiman. Sebuah inspirasi dari cerita seorang kawan lama, yang telah menemukan misi hidupnya. Dan lalu ia bertekun di jalan itu, hidupnya sekarang.

 

Dan cara temukan misi hidup seseorang, ternyata tidak lari terlalu jauh, dari kompetensi yang sudah dimiliki oleh orang tersebut. Tuhan itu maha baik, tak ingin membuat hamba nya kesulitan. 

 

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Sekali _jentikan_ dari *Beliau* nasib seseorang seketika berubah, bak bumi dan langit. Itu juga yang dialami oleh kawan Mister AAS tersebut.

 

Bagaimana dengan Anda? Apakah misi hidup Anda yang benar-benar spesifik selaras dengan bakat, potensi, juga bisa jadi panggilan hidup Anda selama ini? Apakah sudah ketemu?

 

Cerita ya, di kolom komentar..

 

 

AAS, 03 Januari 2024

Kota Pahlawan Surabaya

Editor : Nasirudin